Home sosial budaya Gumbregan Keselamatan di Kendeng 

Gumbregan Keselamatan di Kendeng 

298

PATI, Jatengku.com – Minggu (17/12/2017), Gumbregan adalah tradisi yg setiap tahun secara rutin di lakukan di setiap selesai musim tanam di mana ternak sapi kerbau di saat musim tanam di ajak kerja keras para petani untuk mengolah lahan yg di persiapkan untuk di tanami. Di saat musim hujan  tiba, aktifitas petani mesti meningkat, terutama pekerjaan sawah di masa musim tanam.

Disitulah peran ternak yg membantu meringankan dalam pengolahan tanah disaat musim tanam. Maka kesehatan fisik ternak, kesehatan fisik para petani sangatlah penting untuk dipastikan.  Maka di saat selesai tanam para petani melakukan Gumbregan sebagai tradisi sebagai ucap syukur atas terselesainya pekerjaan sawah,  selesainya menanam dengan ternak yang selalu sehat.

Para petani memasak ketupat untuk didoakan setelah itu berikan kepada sapi dan dulur-dulur disekitarnya. Bagi para petani hewan dan ternak di desa merupakan media untuk bercocok tanam untuk membantu mengolah tanah yg mau di tanami. Ternak sapi kerbau bagi petani adalah ROJO KOYO, wujud sandang pangan. Fungsinya ternak yg bisa membantu menyelesaikan pengolahan lahan sawah atau ladang juga punya nilai besar peningkatan ekonomi dari mulai kotoran ternaknya,  penggemukan dagingnya hingga anakannya.

Harmonisasi alam (ibu bumi) dan seluruh makhluk hidup di dalamnya senantiasa kami jaga. Kemajuan teknologi, tidak boleh menghancurkan kearifan lokal yang telah turun temurun diajarkan oleh leluhur kami. Bagaimanapun, cara-cara yang alami  dalam menjaga ibu bumi akan menjamin kelestariannya. Begitulah kehidupan kami sebagai petani. Ibu bumi tidak hanya kita ambil hasilnya, tetapi juga kita rawat. Merawat berarti kesadaran untuk selalu mengucap syukur atas berkah yang sudah kita terima.

Seperti lesung yang selalu jumengglung ketika ditabuh, seperti itu pula semangat kami sebagai petani untuk terus menggemakan perjuangan dalam melestarikan ruang hidup dan ruang produksi pertanian dengan cara-cara yang bermartabat. Pertanian adalah hidup. Pertanian adalah kebudayaan. Selama ketidakadilan kepada rakyat (petani) terjadi, selama itu pula kami akan terus menabuh lesung sebagai tanda adanya perlawanan terhadap ketidakadilan.

Ketika para pemimpin menggunakan salah satu sarana produksi pertanian (lesung) dalam berkegiatan, kami berharap tidak hanya sekedar sebagai seremoni belaka apalagi hanya sebagai “alat” untuk mengambil simpati rakyat. Kami sungguh berharap para pemimpin sadar betul bahwa lesung bukanlah hanya sekedar alu dan lumpang untuk menumbuk padi tanpa paham bahwa seluruh kebijakkan yang dikeluarkan haruslah berkesinambungan dengan tetap menjaga lestarinya kehidupan pertanian. Jangan sampai para pemimpin justru kehilangan hati rakyatnya jika apa yang dilakukan (menabuh lesung) hanya dimaknai sebagai simbol.Tanpa tanah dan air, mustahil kehidupan akan terpelihara.