Sekapur Sirih Pelita Pagi

Hujan di Sudut Jalan

Secarik Surat Untuk Ayah

Sepotong Perkenalan

Puisi

Puisi

Lembayung Senja

entah berapa sering kulewati pagi.

Dan berapa kali purnama Sidi kutemui. Dan bila habis sudah bilangan detik ku sambangi. Maka sebenarnya kamu ratu dari nirwana itu

bila yang hanya sanggup menerjemahkan rindu adalah penantian.Maka tak ada yang bisa memisahkan arti rindu dan dirimu

Menyeregap perih luapan siksa batin anak manusia dari sosok seorang hawa yang sudah terlalu lama menghuni jiwa.Sukma yang hidup didalam raga tapi tidak di dalam nyata

Rupanya embun pun tak mau kalah darimu.Dirinya masih saja kutemui setia.Di kala pagi menawarkan surya

Tak pernah kulihat ia bosan Meski ditakdirkan semesta hanya untuk setia. hadir lantas dengan sekejap pergi tanpa pernah menghuni apalagi menjadi Tuan di kehidupanya sendiri

semua masih sama seperti saat pertama kali kita dipertemukan. Hingga pada satu kesimpulan Sukma ku bertasbih sebagai isyarat bahasa cintaku kepadamu dan kepadanya

Deru pesta jutaan sepi berlahan diam. masihkah pantas diriku kembali meminta untuk kau kumiliki

Apakah semua itu nadir

Apakah kita dua beda yang tak pernah di takdirkan semesta untuk bersama

Entahlah ! Meski mungkin semesta berhak menjadi panglima. Dan pengaminan nya adalah Raja bukan itu yang kumau

Tapi berbisiklah kendanti dalam lirih yang Tulus keluar hanya dari mata dan hatimu

Sudut Kota

Pernah aku bersuka cita pada satu purnama

Bersua dengan waktu. Dan menghabiskan senja tanpa sedikitpun detik aku biarkan berlalu. Pernah juga aku menjemput pagi dengan tanpa harapan.

Karena lengkap sudah asa yang saat itu memenuhi anggan

Melepaskan pagi dan tanpa cemas merenggut senja. Membunuh waktu tiap kali rapuhnya keraguan datang

Hingar bingar lampu kota meneropong arloji

Sudut lampu hijau persimpangan jantung kota dimana peradaban manusia tercipta. Interaksi anak manusia yang memadati jalan

Dari hanya sekedar bercengkrama bahkan tak jarang tercipta gagasan hidup di dalam diri anak manusia

Tentang sebuah tempat dimana banyak cerita tercipta. Meski sedikit dari mereka yang melewati kemudian memahami

Sebuah ruang diantara bumi dan manusia. Tempat dimana mereka menginjak kaki. Tempat yang sesuguhnya mereka lewati untuk zaman yang sebenarnya akan membawa mereka pergi

Ada ribuan cerita terrekam

Dari pertemuan dan perpisahan

di suatu tempat yang sama

Tentang sebuah pandangan yang diam-diam di simpan

Tempat yang hingar bingar

Tapi juga merenggut sepi dan menggerogoti jiwa

Kata yang tak pernah terucap dan

Sebuah rindu yang tak pernah bertuan

Ingin rasanya aku peluk sesal dan takan ku lapaskan

Setiap ingatan itu datang

Sebuah dekapan pilu

Yang membawamu pergi dan takan pernah kembali

Terlampau sering aku coba manampiknya

Dan manampar kasar imajinasiku

Upaya yang selalu aku lakukan untuk menelan ikhlas segala bentuk bayangan dirimu

Hanya saja, sepertinya Percuma sebuah kata sederhana

Yang menjawab harapan besar dari  jantung kota tempat kini aku berdiri

Kubasuh masa untuk sebuah nama

Raga yang tuhan cipta dengan sempurna

dan semoga pekan ingatan tidak lagi tuhan rawat tentang dirimu

Karena aku yakin kau sudah bahagia dengan dirimu dan keputusanmu

~Oleh : Dk.Nukhan~

Surat Untuk Nyonya

Surat Untuk Nyonya

Tak Sepadan

*Istimewa

Tak Sepadan

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Guratan waktu

Guratan waktu

Aku berdiri diatas ratusan nafas

Merasakan sebuah hembusan

dan belajar pahami arti angin

Aku berdiri diatas ribuan langkah

Merasan sebuah perjalanan

Dan belajar pahami arti pencapain

Aku berdiri diatas Gejolak

Merasan sebuah getaran

Dan belajar pahami perasaan

aku belajar diatas ribuan senyuman

Merasakan sebuah tawa

Dan belajar pahami sebuah kata sirna

Aku belajar diatas jutaan tatapan

Merasakan sebuah pandangan

Dan belajar pahami arti air mata

Kunang-Kunang Dalam Bayang

Kunang-Kunang dalam Bayang

Mata ini kembali bersinar dan lagi untuk terbuka. sebuah harapan bangun dari kehangatan buai sinar mentari. Sang awan terasi langit. Dan dita fajar pagi berbinar binar di selal sela rimbunya dedaunan

IMAJI

IMAJI

Untuk Kawan yang menjadi Raja dalam ingatan.Untukmu yang telah abadi salam untukmu dan juga untuknya pemilik kami.

KEMBALIKAN MAKNA PANCASILA

Selama ini di depan kami
terus kalian singkat-singkat pancasila
karena kalian takut ketauan
sila-sila yang kalian maksud
sila-sila yang kalian anut
tidak sebagaimana yang kalian tatarkan
kepentingan-kepentingan sempit sesaat
telah terlalu jauh menyeret kalian
maka pancasila kalian pun selama ini adalah :
KESETANAN YANG MAHA PERKASA
KEBINATANGAN YANG DEGIL DAN BIADAB
PERSETERUAN INDONESIA
KEKUASAAN YANG DIPIMPIN OLEH MIKMAT KEPENTINGAN
DALAM KEKERABATAN / PERKAWANAN
KELALIMAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

dan sorga kamipun menjadi neraka
di depan dunia
ibu pertiwi menangis memilukan
merahputihnya di cabik-cabik
anak-anaknya sendiri bagai serigala
menjarah dan memperkosanya

o, gusti kebiadaban apa ini ?
o, azab apa ini ?
gusti,
sampai memohon ampun kepada Mu pun
kami tak berani lagi

KH. Mustofa Bisri (Gus Mus).

Untuk Bercumbu, Kita Bisa Menunggu

Untuk Bercumbu, Kita Bisa Menunggu

Penulis : Binti R.Siswadi

Kita bersama bukan untuk sekedar menemu bahagia yang ada di balik busana.Kita sepakat mendefiniskan bahagia kita dalam berbagai suasana yang sering tak mampu untuk kita definisikan lewat kata-kata

Saling menatap adalah bentuk komunikasi paling mesra.Merindukan dalam diam adalah romantisme yang paling luar biasa untuk menciptakan bahagia yang sesungguhnya

Kau adalah definisi baru atas kata menawan. Berada dekat denganmu senantiasa membuatku tak karuan. Lengan kekarmu selalu sukses membuatku ingin segera bersandar. Belum lagi hidung dan dagu yang membuatku enggan mengalihkan pandang. Kita adalah dua jiwa yang tengah berjuang. Sama-sama berusaha menahan, menjaga satu hal yang pada masanya nanti akan menjadi awal sebuah kenikmatan.

Rengkuh ringan dan sedikit dekap memang sudah menjadi hal wajar. Saat kita terjebak dalam lebatnya hujan, kau tahu aku begitu takut pada petir yang menggelegar. Tanpa harus menunggu, kau degan sigap segera pasang badan. Merengkuh bahuku demi menyuguhkan rasa aman. Pun sebaliknya, ketika kegelisahan membuatmu tak tenang, kutawarkan hangat dekap untuk membuatmu kembali nyaman.

Jika kita mau, ada banyak hal mampu kita lakukan, yang oleh orang lain disebut sebagai kelaziman. Namun bagi kita, bukan hal itu yang jadi tujuan.

Jika hanya sekedar bercumbu dan menikmati yang ada dibalik baju, kita punya milyaran kekuatan untuk menunggu. Muara akhir kita tak sesederhana itu. Ada mimpi besar yang tengah kita perjuangkan. Ada harapan hebat yang tengah kita upayakan dengan khidmat. Kita, dua manusia yang telah sama-sama dewasa. Peluk dan kecup pun harus diatur jedanya.

Kesemuanya ini bukan berarti kita tak saling mencinta. Namun justru inilah bukti cinta paling nyata. Kita sepakat untuk menjaga dan meluapkan kesemuanya pada momen terindahnya.

Akan ada saatnya, ketika kecupku selalu membangunkanmu di pagi buta.

Akan ada saatnya, ketika dinginnya pagi mempersilakan kita untuk tetap mendekap tanpa takut dosa.

Akan ada saatnya, ketika pelukmu akan selalu menyambutku diujung senja. Akan ada saatnya, ketika khawatirmu ku sembuhkan dengan rengkuh mesra.

Akan ada saatnya, ketika tubuhku jadi milikmu sepenuhnya. Pun tubuhmu yang berganti label jadi milikku seutuhnya.

Dengamu, bukan hanya hal sederhana itu yang membuatku bahagia. Kecerdasan pikir dan luasnya wawasan yang kau punya membuatku sukses tenggelam tanpa daya. Kesabaranmu yang luar biasa adalah daya tarik paling mempesona. Kita, dua beda yang kita percaya telah ditakdirkan untuk bersama. Denganmu, perbincangan tak pernah ada ujungnya. Selalu ada topik yang tak bosan kita bicarakan. Selalu ada hal baru yang kau ajarkan.

Kita saling jatuh cinta bukan karena rupa yang tampan atau tubuh mulus yang menawan. Kita memutuskan untuk bersama bukan hanya karena kita digariskan untuk hidup berpasangan. Kita menetapkan komitmen dalam balutan kesederhanaan, atas nama kasih yang membuat kita tak pernah merasa kesepian.

Denganmu, aku yakin bahwa hubungan ini tak melulu soal bercumbu. Kita dua manusia hebat yang punya milyaran kekuatan untuk menunggu.

Yang Fana Adalah Waktu

*ilustrasi

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

 Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
1982

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 76 tahun) adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Ia dikenal melalui berbagai puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Riwayat Hidup

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar. Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

PRAKIRAAN CUACA

Semarang
broken clouds
21.9 ° C
21.9 °
21.9 °
100%
0.8kmh
80%
Jum
28 °
Sab
26 °
Ming
26 °
Sen
26 °
Sel
26 °

BERITA TERBARU