Hujan di Sudut Jalan

Secarik Surat Untuk Ayah

Sepotong Perkenalan

Lembayung Senja

Sudut Kota

Puisi

Puisi

Surat Untuk Nyonya

Surat Untuk Nyonya

Tak Sepadan

*Istimewa

Tak Sepadan

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Guratan waktu

Guratan waktu

Aku berdiri diatas ratusan nafas

Merasakan sebuah hembusan

dan belajar pahami arti angin

Aku berdiri diatas ribuan langkah

Merasan sebuah perjalanan

Dan belajar pahami arti pencapain

Aku berdiri diatas Gejolak

Merasan sebuah getaran

Dan belajar pahami perasaan

aku belajar diatas ribuan senyuman

Merasakan sebuah tawa

Dan belajar pahami sebuah kata sirna

Aku belajar diatas jutaan tatapan

Merasakan sebuah pandangan

Dan belajar pahami arti air mata

Kunang-Kunang Dalam Bayang

Kunang-Kunang dalam Bayang

Mata ini kembali bersinar dan lagi untuk terbuka. sebuah harapan bangun dari kehangatan buai sinar mentari. Sang awan terasi langit. Dan dita fajar pagi berbinar binar di selal sela rimbunya dedaunan

IMAJI

IMAJI

Untuk Kawan yang menjadi Raja dalam ingatan.Untukmu yang telah abadi salam untukmu dan juga untuknya pemilik kami.

KEMBALIKAN MAKNA PANCASILA

Selama ini di depan kami
terus kalian singkat-singkat pancasila
karena kalian takut ketauan
sila-sila yang kalian maksud
sila-sila yang kalian anut
tidak sebagaimana yang kalian tatarkan
kepentingan-kepentingan sempit sesaat
telah terlalu jauh menyeret kalian
maka pancasila kalian pun selama ini adalah :
KESETANAN YANG MAHA PERKASA
KEBINATANGAN YANG DEGIL DAN BIADAB
PERSETERUAN INDONESIA
KEKUASAAN YANG DIPIMPIN OLEH MIKMAT KEPENTINGAN
DALAM KEKERABATAN / PERKAWANAN
KELALIMAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

dan sorga kamipun menjadi neraka
di depan dunia
ibu pertiwi menangis memilukan
merahputihnya di cabik-cabik
anak-anaknya sendiri bagai serigala
menjarah dan memperkosanya

o, gusti kebiadaban apa ini ?
o, azab apa ini ?
gusti,
sampai memohon ampun kepada Mu pun
kami tak berani lagi

KH. Mustofa Bisri (Gus Mus).

Untuk Bercumbu, Kita Bisa Menunggu

Untuk Bercumbu, Kita Bisa Menunggu

Penulis : Binti R.Siswadi

Kita bersama bukan untuk sekedar menemu bahagia yang ada di balik busana.Kita sepakat mendefiniskan bahagia kita dalam berbagai suasana yang sering tak mampu untuk kita definisikan lewat kata-kata

Saling menatap adalah bentuk komunikasi paling mesra.Merindukan dalam diam adalah romantisme yang paling luar biasa untuk menciptakan bahagia yang sesungguhnya

Kau adalah definisi baru atas kata menawan. Berada dekat denganmu senantiasa membuatku tak karuan. Lengan kekarmu selalu sukses membuatku ingin segera bersandar. Belum lagi hidung dan dagu yang membuatku enggan mengalihkan pandang. Kita adalah dua jiwa yang tengah berjuang. Sama-sama berusaha menahan, menjaga satu hal yang pada masanya nanti akan menjadi awal sebuah kenikmatan.

Rengkuh ringan dan sedikit dekap memang sudah menjadi hal wajar. Saat kita terjebak dalam lebatnya hujan, kau tahu aku begitu takut pada petir yang menggelegar. Tanpa harus menunggu, kau degan sigap segera pasang badan. Merengkuh bahuku demi menyuguhkan rasa aman. Pun sebaliknya, ketika kegelisahan membuatmu tak tenang, kutawarkan hangat dekap untuk membuatmu kembali nyaman.

Jika kita mau, ada banyak hal mampu kita lakukan, yang oleh orang lain disebut sebagai kelaziman. Namun bagi kita, bukan hal itu yang jadi tujuan.

Jika hanya sekedar bercumbu dan menikmati yang ada dibalik baju, kita punya milyaran kekuatan untuk menunggu. Muara akhir kita tak sesederhana itu. Ada mimpi besar yang tengah kita perjuangkan. Ada harapan hebat yang tengah kita upayakan dengan khidmat. Kita, dua manusia yang telah sama-sama dewasa. Peluk dan kecup pun harus diatur jedanya.

Kesemuanya ini bukan berarti kita tak saling mencinta. Namun justru inilah bukti cinta paling nyata. Kita sepakat untuk menjaga dan meluapkan kesemuanya pada momen terindahnya.

Akan ada saatnya, ketika kecupku selalu membangunkanmu di pagi buta.

Akan ada saatnya, ketika dinginnya pagi mempersilakan kita untuk tetap mendekap tanpa takut dosa.

Akan ada saatnya, ketika pelukmu akan selalu menyambutku diujung senja. Akan ada saatnya, ketika khawatirmu ku sembuhkan dengan rengkuh mesra.

Akan ada saatnya, ketika tubuhku jadi milikmu sepenuhnya. Pun tubuhmu yang berganti label jadi milikku seutuhnya.

Dengamu, bukan hanya hal sederhana itu yang membuatku bahagia. Kecerdasan pikir dan luasnya wawasan yang kau punya membuatku sukses tenggelam tanpa daya. Kesabaranmu yang luar biasa adalah daya tarik paling mempesona. Kita, dua beda yang kita percaya telah ditakdirkan untuk bersama. Denganmu, perbincangan tak pernah ada ujungnya. Selalu ada topik yang tak bosan kita bicarakan. Selalu ada hal baru yang kau ajarkan.

Kita saling jatuh cinta bukan karena rupa yang tampan atau tubuh mulus yang menawan. Kita memutuskan untuk bersama bukan hanya karena kita digariskan untuk hidup berpasangan. Kita menetapkan komitmen dalam balutan kesederhanaan, atas nama kasih yang membuat kita tak pernah merasa kesepian.

Denganmu, aku yakin bahwa hubungan ini tak melulu soal bercumbu. Kita dua manusia hebat yang punya milyaran kekuatan untuk menunggu.

Yang Fana Adalah Waktu

*ilustrasi

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

 Perahu Kertas,Kumpulan Sajak,
1982

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 76 tahun) adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Ia dikenal melalui berbagai puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Riwayat Hidup

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar. Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Hakikat Malam

Foto : Yohanes Manhitu

HAKIKAT MALAM

Oleh: Yohanes Manhitu

Alam sekitarku terbenam
dalam diam malam Jogja.
Ruas jalan hanyut kebisuan,
tapi sesekali tampak terjaga,
terusik nyaring kokok jago,
juga deru sepeda motor.

Layar berbingkai hitamku
masih mendesis mendesus,
setumpuk kitab di kananku,
secangkir kopi setia di kiri,
alunan musik klasik temani,
lewati batas hari tenggelam.

Telah lama kucintai malam
dan telusuri lorong kelam
di antara dinding-dinding
dan keasyikan tak terlukis
dalam lautan sajak-sajakku
yang rindukan teduh Pasifik.

Telah lama kukagumi malam
yang sodorkan rupa pualam,
yang tuangkan anggur ilham
ke dalam cangkir kehausan.
Malamku pelamin terjamin
bagi roh dan daging sekata.

Yogyakarta, 31-08-2004

PRAKIRAAN CUACA

Semarang
light rain
23.2 ° C
23.2 °
23.2 °
97%
0.6kmh
76%
Kam
27 °
Jum
26 °
Sab
26 °
Ming
27 °
Sen
29 °

BERITA TERBARU