Hujan di Sudut Jalan

Hujan di Sudut Jalan

54
BERBAGI

Riuh kota tentang siang dan petang.

Sepi dan sunyi,

Berlahan reda hujan sore ini.Membias lantai berwarna hitam pekat di sepanjang mata memandang. Lalu lalang kendaraan mulai berdatangan. Ketika hujan yang menganggu mulai berlalu

Dan aku masih di sini

Di trotoar berteraskan kaca drngan secangkir kopi penawar senja

Mulai kulihat wajah membosankam raut para pencari kehidupan yang wajahnya mulai kusam dan kehilangan riang

Aku masih saja turun meski berlahan   dan aku masih belum mau beranjak melihat kedalam. Cermin di depan muka masih menawarkan percikan air dan embun yang kehadirnya seperti ritual para pemuja hujan

dan angin,

Angin memasuki ku sebagai rindu

Rindu tentang sebuah wajah yang seperti ada diantara percikan air yang membentur lantai jalan dan embun yang menghalangi pandangan

Tak ada ungaran hari ini, Tak ada ungaran kemarin. Aku disini masih memuja sepi

Memuja tatapan yang dulu sering kulihat dengan sederhanya. Aku masih di sini, di sini seraya memohon dia akan menjeputku sebelum pagi

Senja diantara hujan dan pandangan.Tatapan sederhana yang mengantikan jarak dipisahkan waktu

tatapan sebagai dinding kebodohan dan ketidakwarasaku

Penulis : Nukhan Dzu