oleh

Tim Advokasi Sukoharjo Melawan Pencemaran, Sayangkan Tindakan Represif yang di Lakukan Petugas Keamanan PN Semarang

SEMARANG, Jatengku.com – Sidang keempat dengan agenda pembacaan putusan sela terhadap kelima aktivis penolak pencemaran PT RUM yang dikriminalisasi diiringi dengan tindakan represif dari petugas keamanan yang berjaga di PN Semarang. Sebelum sidang dimulai, massa solidaritas melakukan aksi  didepan PN Semarang

Tiba-tiba, pertugas keamanan PN Semarang dan polisi melarang aksi tersebut dan meminta massa bubar dengan alasan mengganggu jalannya persidangan. Padahal, surat pemberitahuan aksi sudah dikirimkam ke Polrestabes Semarang. Selain itu, aksi juga diadakan di luar gedung persidangan sehingga dipastikan tidak akan mengganggu persidangan. Beberapa massa yang melakukan aksi kemudian mendapat mendapat perlakuan represif

megaphone dan spanduk dirampas, korlap aksi ditarik-tarik oleh petugas, ada petugas yang mencoba menampar, dsb.  Aksi damai yang dilakukan akhirnya mejadi ricuh justru karena tindakan petugas keamanan yang antidemokrasi. Namun demikian, aksi tetap diadakan untuk memberitahukan kepada publik bahwa ada yang salah dengan hukum di negeri ini. Tak lama berselang, massa solidaritas semakin ramai dan petugas keamanan PN Semarang serta kepolisian memilih mundur. Pengadilan Negeri Semarang. Kamis (7/6/2018)

Mazaya Latifasari salah satu Tim Advokasi Pendamping dan Bantuan Hukum Masa Aksi Solideritas Memaparkan “Saat persidangan dimulai, massa solidaritas mulai memasuki gedung PN Semarang untuk memberikan dukungan moral kepada kelima aktivis yang dikriminalisasi. Namun, petugas yang berjaga di PN Semarang melarang massa solidaritas masuk dengan alasan sidang tertutup untuk umum

Padahal jelas, hakim menyatakan bahwa sidang terbuka untuk umum dan secara normatif, perkara ini memang bukanlah perkara yang persidangannya tertutup untuk umum. Tidak jelas apa alasan petugas yang melarang tersebut. Yang jelas, massa solidaritas menyaksikan betapa petugas yang berjaga di gedung pengadilan sekalipun tidak memiliki pengetahuan hukum yang memadai” Paparnya

Dia juga menambahkan “Berkaitan dengan jalannya persidangan, kami sangat menyayangkan ditolaknya eksepsi kelima aktivis oleh Majelis Hakim. Selain itu, majelis juga tidak memberikan kepastian terhadap penangguhan penahanan kelima aktivis. Padahal, sudah ada ratusan warga yang menjadi penjamin agar kelima aktivis dapat ditangguhkan penahannya. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang mendalam, khususnya bagi warga yang merupakan korban pencemaran PT RUM selama setengah tahun akibat pembiaran oleh otoritas di Sukoharjo” Tegas Maya

Meskipun begitu, Penasehat Hukum kelima aktivis akan menghormati proses hukum dan melanjutkan proses pembuktian yang akan digelar kembali pada tanggal 26 Juni mendatang

Berhubungan dengan hal itu Untuk Pihak Tim Advokasi menyatakan, “Kami Meminta Agar petugas keamanan PN Semarang serta kepolisian tidak mengulangi tindakan pembubaran aksi yang dilakukan oleh massa yang ingin memberikan dukungan kepada kelima aktivis yang dikriminalisasi. Menghalang-halangi penyampaian pendapat dimuka umum dapat dikenakan sanksi pidana” Ujarnya

“Yang kedua Menghimbau segenap elemen masyarakat sipil untuk bersolidaritas dan memperluas dukungan kepada kelima aktivis penolak pencemaran PT RUM yang dikriminalisasi” Tandas Maya (*)

News Feed