oleh

Ray Rangkuti : Identitas Agama Hanya Jadi Proyek Kemenangan Politik

JAKARTA, Jatengku.com – Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, Ray Rangkuti menilai bahwa manuver kelompok oposisi yang terus menerus menggelorakan narasi fundamentalisme agama hanya semata-mata menjadi alat untuk memuluskan agenda politik kekuasaan mereka. Hal ini ia sampaikan ketika narasi anti Islam dan partai pembela penista agama disempatkan kepada partai-partai pendukung Joko Widodo saat Pilkada DKI Jakarta lalu.

Sayangnya, narasi semacam itu tidak sekonsisten yang dibayangkan ketika memasuki agenda politik Pilkada serentak 2018 lalu, dimana partai-partai oposisi yang diklaim sebagai partai pembela Islam justru mampu bekerjasama dengan partai yang diklaim negatif tersebut, dan ternyata narasi anti partai pendukung penista agama itu tidak muncul.

“Simbol-simbol agama lebih banyak menyakitkan daripada menyenangkan. Contoh yang kemarin teriak-teriak penistaan agama, tapi partai tertentu (bisa) bekerjasama dengan partai yang katanya pendukung penista agama di beberapa daerah. Lantas konsistensi simbol agamanya dimana?. Jelas ini semua ujungnya adalah pragmatisme melihat untung ruginya,” kata Ray Rangkuti di D’Hotel, Jl. Sultan Agung, Guntur, Setia Budi, Kota Jakarta Selatan, Rabu (8/8).

Tidak hanya itu saja, keputusan dari Ijtima Ulama yang digelar oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama bersama dengan Persaudaraan Alumni 212 (PA212) di Peninsula akhir bulan Juli lalu, menurut Ray juga bukan keputusan agama melainkan keputusan politik yang target utamanya adalah mendapatkan kekuasaan dalam ranah politik praktis.

“Pada ujungnya menurut saya pertimbangannya adalah pragmatisme saja. Apalagi Ijtima Ulama itu. Semuanya hasil ijtima ulama ujungnya menghasilkan tokoh politik, bukan tokoh agama,” tuturnya.

Selain itu, Ray Rangkuti juga menilai bahwa koalisi keummatan yang dibentuk oleh ormas GNPF Ulama bersama dengan beberapa partai politik oposisi tidak bisa serta mengklaim tunggal sebagai partai pembela ummat. Jika melihat dari sejarah bahwa sejatinya yang berhak menyebutkan dirinya sebagai partai pembela ummat adalah PKB dan PPP sebagai basis Nahdlatul Ulama.

“Ada yang bilang koalisi keummatan apanya yang keummatan, parpol yang merepresentasikan keummatan adalah partai di kubu Jokowi, ada PPP dan PKB. Apakah partai-partai itu gak dianggap representasikan keummatan,” ujarnya.

“Semuanya tetap simbol agama yang ditarik hanya untuk kepentingan politiknya. Tujuannya adalah bagaimana dia bisa menang, itu saja,” tegasnya.

Di sisi lain, Ray Rangkuti juga menilai persoalan kepentingan inilah yang menjadi dasar mengapa Prabowo Subianto tidak kunjung menemukan siapa sosok yang paling tepat untuk menjadi pendampingnya di Pilpres 2019 sebagai Cawapres. Ray menegaskan bahwa secara ideal, Prabowo akan menghitung untung dan rugi secara politik dan logistik.

“Kalau Prabowo ikut ulama, selesai (masalah capres-cawapres)itu. Ini menjadi jawaban mengapa Prabowo masih sulit tentukan Cawapresnya, karena dia harus itung untung ruginya. Kalau ikut Salim Segaf apa untungnya bagai partai, begitu juga ketika ikut Ustadz Abdul Somad atau AHY,” kata Ray.

Kegamangan Prabowo ini juga cukup beralasan. Apalagi menurut Ray, hasil rekomendasi Ijtima Ulama juga sulit untuk diambil melihat dari dua sosok diusulkan itu.

“Menurut saya Anis Matta sangat layak diusung dan diperhitungkan, tapi kenapa ijtima ulama rekomendasikan pak Salim,” tuturnya.

Seharusnya lanjut Ray, Ijtima Ulama mempertimbangkan nama-nama yang lebih potensial untuk menang, yakni sosok yang mampu diterima kalangan milenial dan kelompok pemilih rasional alias mereka memilih bukan karena dogma agama tertentu.

“Politik itu lihat menang kalah, bukan ideologi lagi. Apalagi posisi pak Prabowo perlu geser ke tengah dikit bukan ke kiri banget. Untuk ke tengah dikit maka dia butuh sosok yang bisa diterima kalangan milenial dan mayoritas pemilih yang memilih bukan karena faktor dogmatis. Makanya ini menjadi alasan kenapa pak Prabowo sulit tentukan cawapres,” nilai Ray Rangkuti.

Lebih lanjut, Ray Rangkuti menegaskan siapapun yang akan maju dalam Pilpres nanti, yang paling penting saat ini bukan lagi sosoknya melainkan siapapun yang memiliki visi dan misi yang baik dan ia memiliki keinginan besar untuk mewujudkan visi misi itu.

“Menurut saya yang penting bagaiman menguji orang tentang visi-misinya. Orang baik bisa datang dari mana saja, orang jahat juga bisa dari mana saja termasuk koruptor bisa dari agama mana saja,” tutur Ray.

“Maka mari kita mari berikan kesempatan bagi orang-orang yang baik yang benar-benar punya visi-misi baik untuk mewujudkan kebaikannya itu untuk memimpin negeri ini. Tujuannya tentu untuk kebaikan kita semua,” Tandas Ray.

News Feed