82% Mahasiswa Kost Hanya Makan Dua Kali Sehari:...

82% Mahasiswa Kost Hanya Makan Dua Kali Sehari: Realita di Balik SDGs 2

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, YogyakartaUniversitas Negeri Yogyakarta ( UNY ) melakukan penelitian dengan tema “ Upaya Peningkatan Akses Pangan di Kalangan Mahasiswa Kost ” Kajian ini dilakukan dalam rangka merumuskan kondisi nyata pola makan dan akses pangan mahasiswa perantau , serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ( SDG ) Nomor 2 — Tanpa Kelaparan — di perguruan tinggi .​

Survei dilakukan menggunakan metode kuesioner pada 51 mahasiswa perantau. Pengumpulan data dilakukan pada Mei 2026 dengan mencakup aspek anggaran makanan, konsumsi makanan sehari-hari, akses makanan di sekitar tempat tinggal, kebiasaan makan, dan literasi gizi responden. Penelitian ini membahas masalah pangan yang sering diabaikan, menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2024, sekitar 733 juta orang di dunia masih menderita kelaparan dan kesulitan yang parah untuk mendapatkan makanan yang cukup.

Hasil survei menunjukkan beberapa data yang mengkhawatirkan, sebanyak 82,4% responden hanya makan dua kalu sehari, jauh dari anjuran ideal yang disarankan oleh ahli gizi, yaitu tiga kali sehari. Lebih mengejutkan lagi, hanya 17,6% yang setiap pagi selalu sarapan sebelum melalukan produktivitas akademiknya setiap hari. Sementara yang mengaku hanya kadang-kadang melakukan sarapan sebanyak 72,5% dan 9,8% lainnya mengaku tidak pernah melalukan sarapan di pagi hari sama sekali. Alasan terbesar yang disebutkan adalah tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkannya (66,7%), diikuti oleh kebiasaan melewatkan sarapan (23,5%) dan menghemat uang (5,9%) lainnya.

Sayuran serta buah-buahan merupakan komponen makanan bergizi yang paling sedikit dikonsumsi. Hanya 27,5% responden yang memgkonsumsi sayur dan buah setiap hari, sedangkan 64,7% responden masih mengonsumsi mie instan 1-2 kali seminggu dan 31,4% mengkonsumsi junk food 3-5 kali seminggu. Kondisi ini tidak terlepas dari keterbatasan ekonomi. 45,1% responden memiliki uang saku perbulan Rp500.000-Rp1.000.000 dan menghabiskan Rp25.000 per harinya untuk makan. Akibatnya kadang-kadang sering kekurangan makan atau bahkan sering kekurangan. Permasalahan utama dalam mendapatkan akses pangan adalah tidak mempunyai cukup waktu, yang diikuti dengan harga yang mahal.

Pemahaman tentang literasi gizi hanya sebesar 41,2% dari responden yang mengaku mengetahui konsep ‘Isi Piringku’, sedangkan 39,2% hanya pernah mendengar tetapi tidak memahami detailnya. Namun, responden menyatakan bahwa nutrisi sangat penting untuk produktivitas akademik mereka, ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran mereka tinggi tetapi belum diimbangi dengan perilaku nyata.

Bedasarkan temuan tersebut, bagi mahasiswa kost disarankan untuk membiasakan membuat meal prep mingguan, memilih bahan pangan terjangkau namun bergizi dan memanfaatkan fasilitas dapur yang tersedia. Bagi pihak perguruan tinggi dapat menyelenggarakan edukasi gizi secara berkala dalam bentuk seminar atau media sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa masalah pangan yang dihadapi mahasiswa kost bukan hanya tentang kelaparan fisik, tetapi juga akses, keterjangkauan, literasi dan kebiasaan.

Penulis: Alifia Zahwa, Rifda Calista, Dewi Ariani, Hugo Afif

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan