Di era yang semakin modern, kita hidup kita hidup dalam ekosistem informasi yang didominasi oleh kecepatan, di mana berita palsu (hoaks) sering menyebar lebih cepat daripada fakta. Hoaks sendiri merupakan sebuah istilah yang merujuk pada ketidakbenaran suatu informasi atau berita palsu. Hal ini mempengaruhi cara orang masyarakat menilai informasi dan mengambil keputusan. banyak masyarakat yang tertipu oleh berita hoaks bukan karena ia tidak bisa berpikir secara logis, namun dikarenakan hoaks sengaja dibuat atau dirancang dengan memanfaatkan emosi seperti penggunaan judul yang provokatif. Kasus hoaks mengenai vaksin COVID-19 yang mengandung mickrocip yang sempat menjadi perbincangan pada masyarakat menjadi saksi betapa rentannya fondasi masyarakat di Indonesia.
Kegagalan logika harus dipandang sebagai akar masalah yang lebih fundamental, bahkan sebelum seseorang berinteraksi dengan teknologi. Intinya terletak pada kerapuhan kognitif yang diakibatkan oleh ketidakmampuan memahami kata dan konsep secara akurat. Hoaks sengaja mengeksploitasi kelemahan ini, seringkali menggunakan manipulasi emosi atau kekeliruan logis (logical fallacy) alih-alih fakta. Akibatnya, kita gagal menyaring mana argumen yang benar dan mana yang palsu, membuat kita mudah sekali terperangkap oleh disinformasi.
Kelemahan logika yang dieksploitasi oleh hoaks menunjukkan bahwa masyarakat rentan di ranah penalaran. Untuk itu, literasi digital menjadi fondasi yang membekali individu dengan keterampilan teknis dan kritis. Literasi digital merupakan kunci untuk mengatasi tantangan ini. la membekali individu dengan keterampilan teknis dan evaluatif untuk mengidentifikasi informasi palsu, mengevaluasi keaslian sumber, dan menggunakan alat bantu untuk memverifikasi data atau informasi.
Ketika literasi digital rendah, masyarakat berada dalam posisi rentan. Mereka tidak memiliki seperangkat keterampilan dasar untuk menghadapi cyberswamp (rawa informasi) di internet. Kegagalan literasi inilah yang membuat mereka tidak berdaya dan seringkali bertindak gegabah, seperti menyebarkan informasi tanpa mengoreksi kebenarannya atau terperangkap dalam bias ideologis di jejaring sosial.
Sebagai mahasiswa, upaya dalam melawan hoaks adalah pengembangan kecakapan hidup, seperti penguatan kemampuan dalam berpikir kritis sekaligus meningkatkan literasi. Logika membantu kita menilai sebuah informasi, sementara literasi membantu kita untuk memahami bagaimana informasi dibuat dan disebarkan.
Penulis : Tarysa Quinina Rahman, Mahasiswi Universitas Airlangga
