JATENGKU.COM, Klaten – Deretan warung kecil dan lapak jajanan di Desa Gesikan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, tampak lebih aktif dari biasanya. Bukan karena ada acara besar, melainkan karena satu per satu pelaku UMKM didatangi langsung ke rumah dan tempat usahanya untuk dikenalkan dengan sistem pembayaran QRIS serta cara sederhana mempromosikan produk secara digital. Pendekatan personal ini menjadi ciri khas program digitalisasi UMKM yang digagas mahasiswa KKN Universitas Diponegoro (UNDIP).
Desa Gesikan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, merupakan salah satu desa dengan potensi ekonomi lokal yang cukup besar, khususnya pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berbagai jenis usaha seperti warung kelontong, pedagang makanan, usaha kerupuk rambak, usaha jajanan tradisional, hingga jasa rumahan menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak warga. Namun, sebagian besar pelaku UMKM di Desa Gesikan masih mengandalkan sistem transaksi tunai dan pemasaran konvensional, sehingga peluang pengembangan usaha belum sepenuhnya optimal di era digital saat ini.
Sebagai upaya mendorong kemajuan UMKM lokal, Annisa Salsabila Zahra Hidayat, mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Gesikan, menginisiasi program bertema “Digitalisasi UMKM melalui Implementasi QRIS dan Pemasaran Digital di Desa Gesikan.” Melalui program ini, Annisa menyusun kegiatan utama berupa pembuatan QRIS bagi pelaku UMKM serta pendampingan digitalisasi usaha guna meningkatkan efisiensi transaksi dan jangkauan pasar UMKM desa.
Dalam proses pelaksanaannya, Annisa melakukan koordinasi intensif bersama pihak desa, termasuk Kepala Desa Gesikan beserta perangkat desa dan para pelaku UMKM setempat. Koordinasi ini bertujuan untuk memetakan jenis usaha yang berpotensi didigitalisasi, mengidentifikasi kendala yang dihadapi pelaku UMKM dalam penggunaan teknologi, serta menentukan strategi pendampingan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan warga.
Selain berbasis masukan dari pemerintah desa dan pelaku usaha, pelaksanaan program ini juga mengacu pada kebijakan sistem pembayaran nasional yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia terkait implementasi QRIS sebagai standar kode QR pembayaran di Indonesia. QRIS dirancang untuk memudahkan transaksi non-tunai, meningkatkan keamanan pembayaran, serta memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi pelaku UMKM di daerah.
Berdasarkan hasil diskusi dan survei lapangan, sejumlah pelaku UMKM di Desa Gesikan menyatakan minat dan kesiapan untuk menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran. Annisa kemudian melakukan pendampingan langsung, mulai dari proses pendaftaran QRIS melalui penyedia jasa pembayaran (PJP), pembuatan akun, hingga edukasi penggunaan QRIS dalam aktivitas jual beli sehari-hari. Selain itu, Annisa juga memberikan pelatihan sederhana mengenai pemasaran digital, seperti pemanfaatan WhatsApp Business, media sosial, dan foto produk agar tampilan usaha lebih menarik bagi konsumen.

Salah satu pelaku UMKM, Ibu Henny, pemilik usaha warung makan di Desa Gesikan, mengungkapkan, “Selama ini saya hanya menerima uang tunai. Setelah ada QRIS, pembeli jadi lebih mudah bayar, apalagi anak-anak muda sekarang jarang bawa uang cash. Saya juga jadi belajar cara promosi lewat WhatsApp,” ujarnya. (20/01/2025)
Setelah proses pendampingan selesai, Annisa bersama Tim KKN UNDIP menyerahkan kode QRIS cetak kepada masing-masing pelaku UMKM dan membantu pemasangan di tempat usaha agar mudah terlihat oleh pembeli. Tidak hanya berhenti pada pembuatan QRIS, kegiatan ini juga disertai dengan edukasi lanjutan tentang pentingnya pencatatan keuangan sederhana dan pemisahan uang usaha dengan uang pribadi untuk menjaga keberlanjutan UMKM.



Melalui program ini, diharapkan implementasi QRIS dan digitalisasi UMKM di Desa Gesikan dapat meningkatkan daya saing usaha lokal, memperluas pasar, serta mendorong inklusi keuangan masyarakat desa. Upaya ini menjadi langkah nyata dalam mendukung UMKM Desa Gesikan agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu tumbuh secara berkelanjutan di masa depan.
Penulis: Annisa Salsabila Zahra Hidayat, Mahasiswi Program Studi Ekonomi Islam
DPL: Ojo Kurdi. S.T., M.T., P.h.D
