JATENGKU.COM, Klaten — Tim KKN Reguler 92 UNDIP 2026 di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, melaksanakan rangkaian kegiatan program multidisiplin bertajuk “Pengembangan Olahan Ikan Lele Sebagai Strategi Untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan Di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten” pada Minggu (25/01/2026). Program ini difokuskan pada upaya meningkatkan nilai tambah hasil budidaya ikan lele melalui pengolahan menjadi produk siap konsumsi berupa abon lele.
Melalui pendekatan berbasis pemberdayaan, tim mendorong terbentuknya praktik produksi yang lebih terstruktur, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga pengemasan, sehingga kualitas dapat bersaing di pasar. Rangkaian kegiatan ini disusun untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, terutama terkait pemanfaatan hasil budidaya lele agar tidak hanya dijual sebagai ikan segar, tetapi dapat menambah nilai produk.
Sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan budidaya perikanan di Desa Gondangan, Tim KKN UNDIP 92 turut melakukan uji kualitas air dengan mengukur tingkat pH dan Total Dissolved Solids (TDS) pada sumber air yang digunakan masyarakat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kualitas air di Desa Gondangan masih berada dalam kategori layak untuk kegiatan budidaya ikan skala rumah tangga.
Temuan tersebut kemudian disosialisasikan kepada warga melalui penjelasan mengenai standar kualitas air yang baik untuk budidaya ikan, termasuk kisaran pH ideal dan batas TDS yang dianjurkan. Selain itu, warga juga diberikan edukasi mengenai pengolahan limbah budidaya ikan, seperti pengelolaan sisa pakan dan limbah organik agar tidak mencemari lingkungan perairan serta tetap menjaga keseimbangan ekosistem desa.
Untuk memastikan proses produksi abon lele berjalan dengan aman dan konsisten, tim menyusun dan melakukan sosialisasi standar operasional prosedur (SOP) produksi olahan ikan lele berbasis Ketahanan Pangan Berkelanjutan, yang meliputi SOP K3 pemasakan, pada penyusunan alur proses, standar kebersihan, arahan penggunaan APD, serta prosedur kerja aman saat pemasakan dan simulasi penerapan SOP melalui observasi serta pendampingan langsung.
Kegiatan pembuatan abon lele diawali dengan sosialisasi kandungan gizi ikan lele, dilanjutkan diskusi bersama warga mengenai resep, uji coba komposisi bumbu, serta penyesuaian teknik pengolahan sesuai selera masyarakat setempat. Proses produksi dilakukan secara partisipatif, mulai dari pembersihan lele, perebusan, penyuwiran, hingga pemasakan dengan bumbu rempah secara perlahan hingga menghasilkan abon yang kering, gurih, dan tahan lama. Melalui kegiatan ini, warga tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi memahami seluruh tahapan produksi. Melalui kegiatan ini, abon lele tidak hanya menjadi produk pangan bernilai tambah, tetapi juga membuka peluang usaha rumahan yang dapat memperkuat ekonomi lokal Desa Gondangan.
Selain produksi, warga juga mendapatkan penjelasan mengenai packaging dan labelling yang menekankan pentingnya kemasan sebagai pelindung produk sekaligus media informasi bagi konsumen. Pada aspek packaging, warga diarahkan untuk menggunakan bahan kemasan yang bersih, aman untuk pangan, dan sesuai jenis produk, memastikan kemasan tertutup rapat, serta membantu menjaga kualitas selama penyimpanan dan distribusi.
Pada aspek labelling, warga dijelaskan bahwa label harus jelas, mudah dibaca, serta memuat informasi utama seperti nama produk, komposisi, berat bersih, tanggal produksi dan tanggal kedaluwarsa, identitas produsen, serta kode produksi/batch untuk keperluan penelusuran apabila terjadi reject pada produk. Warga juga diingatkan agar informasi pada label sesuai dengan kondisi produk yang di produksi. Dengan penerapan standar tersebut, diharapkan produk menjadi lebih berkualitas dan memiliki daya saing yang lebih baik.
Melalui program ini, Tim KKN UNDIP 92 berharap inovasi abon lele dapat menjadi alternatif penguatan ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal Desa Gondangan secara berkelanjutan.
