Orang Dewasa Non-Akademisi Diuji Soal Asesmen K...

Orang Dewasa Non-Akademisi Diuji Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Seperti Apa Hasilnya?

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, YOGYAKARTA – Tim mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta yang beranggotakan empat orang sukses menjalankan tugas observasi lapangan mengenai tingkat pemahaman ‘Literasi dan Numerasi Orang Dewasa Non-Akademisi’ di wilayah urban Yogyakarta terutama mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta pada Senin (25/5/2026).

Melalui metode penyebaran kuesioner secara langsung dan tidak langsung, kegiatan ini bertujuan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam hal memetakan, mengidentifikasi, dan menganalisis variasi kemampuan literasi dan numerasi pada orang dewasa non-akademisi dari berbagai latar belakang.

Kegiatan ini mengangkat SDGs 4: Pendidikan Berkualitas dengan tema “Literasi dan Numerasi Orang Dewasa Non-Akademisi”. Tema tersebut dipilih karena kemampuan literasi dan numerasi tidak hanya penting dalam lingkungan pendidikan formal, tetapi juga berperan dalam mendukung aktivitas sehari-hari, pengambilan keputusan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Kegiatan dilaksanakan melalui penyebaran dan pengisian kuisioner yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman, kebiasaan, dan penerapan literasi serta numerasi pada orang dewasa non-akademisi. Peserta kegiatan terdiri atas individu yang diperoleh dapat memberikan gambaran mengenai kondisi literasi dan numerasi di luar lingkungan pendidikan formal. Sebelum pengisian kuesioner, tim pelaksana memberikan penjelasan mengenai tujuan kegiatan, tata cara pengisian, serta pentingnya partisipasi responden dalam memberikan jawaban yang jujur dan objektif.

Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat dalam merumuskan upaya peningkatan literasi dan numerasi masyarakat sebagai bagian dari pencapaian SDGs 4, yaitu menjamin pendidikan inklusif, setara, dan berkualitas serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua.

Adapun yang menjadi pusat materi adalah soal literasi dan numerasi dengan standar AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang kami ambil dari beberapa artikel di internet. Jumlah peserta yang ikut mengerjakan soal kuisioner yang telah kami buat ada 20 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang daerah dan pendidikan yang berbeda-beda, seperti mahasiswa teknik mesin, teknik otomotif, seni musik, seni tari, agroteknologi, pekerja apoteker juga swasta.

Beberapa peserta yang terlibat mengerjakan merasa mudah untuk mengerjakan kuesioner yang dibuat, namun banyak  juga yang merasa kuesioner sangat sulit untuk dikerjakan. Sehingga bentuk dari kuesioner ini dapat menjadi gambaran dalam identifikasi dari variasi kemampuan literasi dan numerasi para peserta khususnya non-akademisi.

Hal ini dapat menjadi bahan perbaikan sebagai bentuk “Pendidikan Berkualitas” bahwa masih ada bahkan mungkin banyak orang dewasa yang belum kami jangkau merasa kesulitan dalam mengerjakan literasi dan numerasi standar AKM. Pentingnya pendidikan berkualitas ini terjawab oleh salah satu pernyataan peserta sebagai mahasiswa seni musik “Kita jarang ketemu soal-soal kayak gini, yang kami temui justru angka-angka tangga nada yang mungkin lebih kami butuhkan buat mata kuliah musik kami”. Pernyataan tersebut membuktikan relevansi literasi dan numerasi merujuk pada kebutuhan penunjang kehidupan masing-masing yang tidak bisa disamakan.

Orang Dewasa Non-Akademisi Diuji Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Seperti Apa Hasilnya?

Melalui kegiatan observasi dan penyebaran kuesioner mengenai literasi dan numerasi orang dewasa non-akademisi ini, tim mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta memperoleh gambaran bahwa kemampuan literasi dan numerasi masyarakat dewasa memiliki tingkat yang beragam.

Perbedaan latar belakang pendidikan, bidang keahlian, pengalaman, serta kebutuhan sehari-hari turut memengaruhi cara peserta memahami dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap pendidikan, tetapi juga dengan kemampuan menyediakan materi pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan setiap individu.

Hasil kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi sekaligus masukan bagi berbagai pihak dalam merancang program peningkatan literasi dan numerasi yang lebih inklusif, adaptif, dan kontekstual. Sejalan dengan tujuan SDGs 4, upaya peningkatan kualitas pendidikan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar setiap orang, tanpa memandang latar belakang akademiknya, memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, literasi dan numerasi dapat menjadi bekal penting dalam mendukung pengambilan keputusan, meningkatkan kualitas hidup, serta mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih berdaya dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Penulis: Febriani Syahri

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan