Ketika Gen Z Lebih Hafal Lirik Lagu Barat darip...

Ketika Gen Z Lebih Hafal Lirik Lagu Barat daripada Tembang Dolanan: Siapa yang Salah?

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Depok — Jujur saja, berapa banyak dari kita yang lebih hafal alur cerita serial luar negeri dibanding tau nama upacara adat dari daerah sendiri? Kalau pertanyaan itu terasa menohok, mungkin memang ada yang perlu kita renungkan bersama.

Menariknya, bukan berarti generasi muda Indonesia tidak punya rasa ingin tahu. Sebuah laporan tentang perilaku Gen Z Indonesia yang dirilis beberapa waktu lalu menunjukkan fakta yang cukup mencengangkan: hampir seluruh responden muda menyatakan ketertarikan mereka untuk mengenal budaya dan kuliner yang belum pernah mereka coba sebelumnya.

Rasa ingin tahu itu nyata dan hidup. Hanya saja, arahnya lebih sering menuju luar, ke Jepang, ke Korea, ke Amerika ketimbang berbalik memandang ke dalam negeri sendiri. Dan ini bukan tanpa sebab yang masuk akal.

Siapa yang Lebih Dulu Masuk ke Layar Mereka

Generasi muda hari ini tumbuh di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti. Konten budaya asing hadir otomatis di beranda mereka, dikemas rapi, menarik, dan mudah dicerna kapan saja. Sementara itu, untuk bertemu dengan wayang, tembang macapat, atau ritual adat lokal, seseorang perlu benar-benar mencarinya, dan ketika ditemukan pun, seringnya hadir dalam bentuk yang terasa berjarak dari kehidupan sehari-hari.

Di sinilah akar masalahnya mulai terlihat. Ini bukan soal generasi mana yang lebih baik atau lebih buruk. Ini soal ekosistem, dan ekosistem digital kita saat ini jauh lebih banyak menyajikan budaya luar dibanding budaya sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampaknya yang sudah mulai terasa. Dari ratusan bahasa daerah yang pernah hidup dan berkembang di seluruh penjuru Indonesia, sebagian sudah benar-benar tidak memiliki penutur lagi. Puluhan lainnya sedang dalam kondisi yang sangat rentan. Ini bukan sekadar angka, kehilangan sebuah bahasa berarti kehilangan seluruh cara pandang, sistem nilai, dan kearifan yang selama berabad-abad tersimpan di dalamnya. Begitu bahasa itu pergi, semua yang dikandungnya ikut lenyap tanpa bisa dikembalikan.

Tradisi non-bahasa pun tak luput dari ancaman serupa. Permainan-permainan yang dulu jadi bagian dari masa kecil hampir semua generasi sebelumnya kini nyaris tidak terdengar lagi di halaman-halaman rumah. Upacara adat yang dulunya menjadi momen pemersatu komunitas mulai dianggap tidak lagi relevan. Keahlian-keahlian tangan yang butuh puluhan tahun untuk dikuasai dan diwariskan kini hanya tersisa pada segelintir orang tua yang tidak tahu siapa yang akan meneruskannya.

Salah Kemasan, Bukan Salah Orangnya

Sebelum terburu-buru menyalahkan anak muda, ada baiknya kita melihat lebih jujur ke situasi yang sebenarnya. Kajian tentang identitas budaya generasi muda menunjukkan bahwa mereka sebenarnya mampu merawat dua dunia sekaligus, menyukai budaya populer global tanpa harus melepaskan akar lokalnya. Keduanya bisa berdampingan dengan baik, dan sudah banyak yang membuktikannya.

Persoalannya bukan pada kemauan, melainkan pada cara budaya itu dipresentasikan. Lihat saja bagaimana konten budaya asing disajikan: lewat narasi yang hangat dan personal, visual yang memanjakan mata, dan format yang mudah dinikmati sambil rebahan sekalipun. Sementara budaya lokal kita? Masih terlalu sering hadir sebagai hafalan ujian, ceramah panjang, atau kegiatan yang terasa lebih seperti kewajiban daripada sesuatu yang mengundang.

Selama budaya kita sendiri belum bisa hadir dalam bahasa yang relevan bagi generasi sekarang, jangan heran kalau mereka lebih akrab dengan tradisi negara lain dibanding tradisi leluhurnya sendiri.

Kewarganegaraan yang Sebenarnya Bukan Soal Hafalan

Kita terlalu lama mendefinisikan kewarganegaraan secara sempit, membayar pajak, ikut pemilu, hafal Pancasila dan pasal-pasalnya. Padahal ada dimensi kewarganegaraan yang jauh lebih dalam dan jauh lebih personal: merasa bahwa budaya dan tradisi bangsa ini adalah bagian dari identitas diri sendiri. Bukan beban yang harus dipikul, tapi warisan yang layak dirayakan.

Ironisnya, generasi muda sekarang punya semua perangkat yang dibutuhkan untuk menjadi penjaga budaya paling efektif sepanjang sejarah. Mereka tahu cara bercerita dengan gambar dan suara, tahu cara membuat sesuatu terasa menarik, dan punya jangkauan yang tidak terbatas. Energi dan kreativitas yang selama ini tercurah untuk konten-konten hiburan bisa saja, dengan sedikit dorongan dan ruang yang tepat, diarahkan untuk mendokumentasikan permainan kampung yang hampir punah, menggali filosofi di balik seni tradisional, atau sekadar memperkenalkan satu ritual adat yang belum banyak orang tahu.

Tanda-tanda itu sebenarnya sudah mulai bermunculan. Ada komunitas-komunitas kecil yang diam-diam bergerak, merekam, mendokumentasikan, mengemas ulang budaya lokal agar bisa dinikmati di era sekarang. Belum besar, tapi nyata. Dan justru dari benih-benih kecil itulah sesuatu yang besar bisa tumbuh.

Mulai dari Langkah yang Paling Sederhana

Pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dari program pemerintah atau kurikulum sekolah. Kadang yang paling dibutuhkan hanyalah kesediaan untuk memulai dari hal yang paling kecil sekalipun.

Ketika seseorang mulai melihat tradisinya bukan sebagai kewajiban tapi sebagai bagian dari dirinya sendiri, pelestarian itu tidak lagi terasa seperti pekerjaan. Ia menjadi sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, secara tulus dan berkelanjutan.

Generasi muda bukan generasi yang meninggalkan warisannya. Mereka adalah generasi yang menunggu warisan itu menyapa mereka dengan cara yang tepat. Dan kalau kita, sebagai sesama warga negara, bisa membantu menjembatani jarak itu, maka tidak ada satu pun tradisi yang perlu pergi sebelum sempat dikenal dan dicintai.

Firman Setiawan

Penulis: Azza Firman Syah

Mahasiswa Prodi Manajemen Pemasyarakatan B, Jurusan Ilmu Pemasyarakatan, Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan