JATENGKU.COM, Semarang — Perkembangan kecerdasan buatan atau yang sering dikenal dengan Artificial Intelligence (AI) saat ini tidak lagi sekadar menjadi istilah teknologi. AI telah hadir dalam kehidupan sehari-hari dan mempermudah berbagai aktivitas manusia, mulai dari mencari informasi dalam hitungan detik hingga menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama.
Namun, di sisi lain, kemunculan AI juga menimbulkan kekhawatiran baru karena mulai menggantikan peran manusia dalam dunia kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa AI ibarat pisau bermata dua: di satu sisi memberikan manfaat besar, namun di sisi lain menghadirkan ancaman bagi para pekerja yanng tergantikan perannya.
Kekhawatiran tersebut semakin nyata dirasakan setelah perusahaan besar seperti Meta Platforms yang menaungi Facebook, Instagram, dan WhatsApp melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kepada sekitar 8.000 karyawan atau setara 10% dari total tenaga kerjanya yang hampir mencapai 79.000. Perusahan yang berada dibawah pimpinan Mark Zuckerberg melakukan PHK secara mendadak dan memicu gelombang kecemasan di kalangan pekerja teknologi global.
PHK massal tersebut terjadi di berbagai negara tempat Meta beroperasi, termasuk Singapura. Negara tersebut menjadi salah satu wilayah pertama yang merasakan dampaknya, dengan lebih dari 100 pekerja dilaporkan kehilangan pekerjaan sejak 20 Mei 2026. Selain Singapura, pemutusan kerja juga terjadi di kantor Meta wilayah Asia, Eropa, dan Amerika Serikat dengan divisi paling terdampak meliputi divisi Integritas (Integrity), Keamanan Siber (Cyber Security), dan Desain Konten (Content Design).

Pemberitahuan PHK pertama kali dikirimkan dari Singapura pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 04.00 dini hari waktu setempat. Pada awalnya para karyawan awalnya diminta bekerja dari rumah atau work from home (WFH), namun pada dini hari para pekerja tersebut menerima notifikasi pemecatan tanpa adanya permintaan maaf resmi dari pihak manajemen. Dalam email tersebut, Meta menuliskan kalimat, “Sayangnya, peran Anda dihilangkan sebagai bagian dari reorganisasi hari ini”.
Setelah itu, karyawan di wilayah lain seperti Inggris dan Amerika Serikat menerima notifikasi serupa secara bertahap menyesuaikan zona waktu masing-masing. Bahkan, bagi pekerja yang sudah berada di kantor saat pemberitahuan diterima, mereka diminta segera mengambil barang pribadi dan meninggalkan kantor karena akses lencana kerja langsung dinonaktifkan pada saat itu juga.
Meski melakukan PHK besar-besaran, Meta tetap memberikan kompensasi yang cukup besar kepada para pekerja terdampak. Setiap karyawan di Amerika Serikat memperoleh minimal 16 minggu gaji pokok, ditambah dua minggu gaji untuk setiap tahun masa kerja. Selain itu, perusahaan juga menanggung asuransi kesehatan hingga 18 bulan, lebih lama dibandingkan kebijakan sebelumnya. Namun proses penerimaan kompensasi tersebut menuai berbagai kritik karena para pekerja harus menandatangani seluruh dokumen melalui email pribadi pada hari yang sama.
PHK ini bukan disebabkan karena perusahaan mengalami kerugian tetapi adanya kebijakan restrukturisasi. Zuckerberg menilai bahwa tim kecil yang didukung teknologi AI mampu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan jumlah pekerja lebih besar. Oleh karena itu, Meta mulai mengalihkan fokus perusahaan pada pengembangan teknologi AI dengan melakukan investasi besar-besaran dengan proyeksi belanja modal mencapai US$115 miliar hingga US$135 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membangun pusat data dan membeli chip Nvidia guna memperkuat pengembangan teknologi AI perusahaan. Di saat yang sama, sekitar 7.000 karyawan dialihkan ke tim baru yang fokus pada pengembangan AI. Peristiwa ini menjadi sinyal kuat bahwa era otomasi berbasis AI benar-benar telah mengubah wajah dunia kerja.
Dampak perkembangan AI terhadap ketenagakerjaan juga mulai dirasakan di Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 15.425 orang terkena PHK sepanjang Januari hingga April 2026. Jumlah tersebut meningkat 83,9 persen dibandingkan kuartal pertama tahun yang sama. Menaker Yassierli mengingatkan, “Kuncinya bukan hanya pada teknologinya, tetapi bagaimana kita membekali SDM agar siap. Pekerja harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan terus berkembang menghadapi perubahan”. Menurutnya, pekerja harus memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi dan berkembang agar mampu bertahan di tengah transformasi dunia kerja akibat kemajuan AI.
Penulis: Ria Febriani, Imelda Aulia Putri Nugroho, Retno Febriyastuti Widyawati, S.E., M.Sc., Muhammad Ibnu Farhan, Maisya Valerina Gunawan, Rehan Eka Saputra
