JATENGKU.COM, SUKOHARJO — Dalam rangka menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip), mahasiswa KKN yang bertugas di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, menggelar kegiatan edukasi dan praktik daur ulang sampah plastik menjadi bata ramah lingkungan, atau yang lebih dikenal dengan istilah “eco brick“, di SDN 03 Plumbon pada Sabtu (19/7/2025).
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui pemanfaatan sampah plastik yang seringkali menjadi permasalahan lingkungan di berbagai daerah. Workshop ini menyasar siswa-siswi sekolah dasar agar sejak prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak pagi, ruang kelas SDN 03 Plumbon tampak begitu hidup. Siswa-siswi dengan seragam batik sekolah dan jilbab putih tampak antusias mengikuti setiap tahap kegiatan yang dibimbing langsung oleh mahasiswi KKN Undip dari program studi Oseanografi, Sarah Aiyora, bersama rekan-rekannya. Suasana edukatif tercipta saat Sarah membuka kegiatan dengan sejumlah pertanyaan sederhana kepada para siswa mengenai sampah, daur ulang, dan upaya menjaga lingkungan.
Sarah menjelaskan, “Sedari dini anak-anak perlu dikenalkan dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan juga perlu diedukasi bagaimana cara mengimplementasikannya, salah satu cara termudah untuk edukasi adalah membuat bata ramah lingkungan (eco brick) dengan memanfaatkan sampah-sampah plastik yang ada di sekitar mereka.”
Selanjutnya, Sarah memaparkan bahwa sampah plastik merupakan jenis sampah anorganik yang sulit diuraikan dan bisa mencemari lingkungan hingga puluhan tahun. Ia menunjukkan poster bergambar langkah-langkah pembuatan eco brick agar anak-anak lebih mudah memahami prosesnya. “Sampah plastik botol, kantong kresek, hingga sedotan, bila kita olah dengan cara yang tepat bisa dimanfaatkan kembali sehingga tidak mencemari lingkungan,” tambahnya.

Edukasi dilanjutkan dengan praktik langsung membuat eco brick. Para siswa diminta untuk membawa botol plastik bekas dan sampah plastik lain yang sulit terurai, seperti bungkus jajanan makanan. Mereka kemudian diberi instruksi untuk memotong plastik menjadi kecil-kecil, lalu memasukkan potongan plastik tersebut ke dalam botol bekas. Agar padat dan membentuk bata, plastik ditekan menggunakan stik kayu dibantu oleh mahasiswa-mahasiswa KKN Undip dan terus diisi hingga botol penuh.
Selain memberikan edukasi, mahasiswi KKN juga membagikan poster edukatif kepada anak-anak agar pesan mengenai eco brick dan 3R dapat tersampaikan dengan baik dan diingat oleh mereka. Poster berisi informasi mengenai apa itu sampah anorganik, manfaat eco brick, dan langkah pembuatan eco brick. Harapannya, poster tersebut dapat ditempel di kelas atau rumah sehingga pesan-pesan menjaga lingkungan terus tersampaikan.
Kegiatan diakhiri dengan foto bersama, pembagian hadiah kecil berupa makanan ringan, dan rencana tindak lanjut KKN untuk memonitor perkembangan kreatifitas eco brick dari para siswa. Para guru juga berkomitmen untuk membiasakan program memilah dan mendaur ulang sampah plastik secara rutin di lingkungan sekolah.
Dengan edukasi berkelanjutan seperti ini, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan inovatif untuk mendukung kelestarian lingkungan di masa depan. Eco brick, yang awalnya hanya sebuah botol dan sampah plastik, kini berubah menjadi simbol kreativitas dan kepedulian generasi muda Desa Plumbon.
Penulis: Sarah Aidyora
