JATENGKU.COM, KENDAL — Di balik secangkir kopi, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan petani, harapan keluarga, hingga denyut ekonomi sebuah desa. Begitu pula yang terjadi di Desa Gedong, Kabupaten Kendal. Bagi masyarakat di lereng pegunungan Kendal, kopi bukan sekadar tanaman, melainkan sumber penghidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kopi telah lama menjadi komoditas unggulan di wilayah dataran tinggi Kendal seperti Plantungan, Sukorejo, Pageruyung, Patean, Singorojo, Limbangan, dan Boja. Dari kebun-kebun yang menghampar hijau, masyarakat menggantungkan harapannya. Hasil panen kopi tidak hanya menjadi pemasukan utama, tetapi juga membuka peluang kerja baru, mulai dari pengolahan biji hingga pemasaran produk.
Dalam program KKN-T, dua mahasiswi Universitas Diponegoro, Nanda Daffa Arifah dan Adinda Cahaya Ramadhani, mencoba menelusuri lebih jauh seberapa besar sebenarnya peran kopi bagi ekonomi masyarakat Desa Gedong. Melalui wawancara dengan Ketua Kelompok Tani setempat, terungkap bahwa usaha kopi memang menjadi tumpuan utama, sedangkan usaha lain seperti beternak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki modal lebih.
Menariknya, harga kopi di Kendal melonjak drastis dalam empat tahun terakhir. Dari semula Rp18.000–Rp20.000 per kilogram, kini bisa mencapai Rp79.000 tergantung jenis dan proses pengolahan, bahkan untuk Arabika bubuk bisa menembus Rp200.000 per kilogram.
Peningkatan ini membawa harapan besar bagi masyarakat, karena pendapatan dari kopi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, hingga kesehatan keluarga, meski sebagian penghasilan juga harus kembali dialokasikan untuk biaya pascapanen.
Perkembangan kopi tidak berhenti di kebun, melainkan turut memunculkan ekonomi baru di masyarakat. UMKM pengolahan kopi bubuk bermunculan, menciptakan rantai ekonomi lokal yang melibatkan lebih banyak orang. Jenis kopi yang dihasilkan pun beragam, mulai dari Robusta, Arabika, Excelsa, hingga Liberika, masing-masing dengan karakteristik dan nilai ekonomi berbeda.
Robusta dari wilayah Boja misalnya, dihargai Rp11.000 dalam kondisi basah dan bisa naik hingga Rp150.000 setelah diolah menjadi bubuk, sedangkan Arabika dapat menembus Rp200.000 per kilogram bubuk. Angka-angka tersebut menunjukkan betapa besarnya potensi kopi Gedong jika dikelola dengan serius dan terdokumentasi dengan baik.
Menurut dosen pembimbing lapangan, Ardy Wibowo, S.S.T., M.B.A., pendokumentasian ini merupakan langkah penting untuk memperkuat daya saing kopi Kendal. Ardy menegaskan, “Sertifikasi Indikasi Geografis bukan hanya soal legalitas, tetapi juga pengakuan terhadap identitas lokal. Dengan adanya SIG, Kopi Gedong bisa mendapat nilai tambah di mata konsumen sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.”
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan usaha kopi bagi generasi mendatang. Menurutnya, “Regenerasi petani adalah kunci. Jika anak-anak muda di desa mau meneruskan usaha kopi, maka kopi tidak hanya bertahan sebagai komoditas, tetapi juga berkembang menjadi identitas dan kebanggaan daerah,” jelasnya.
Melalui penyusunan draft peran ekonomi kopi ini, para mahasiswa/i KKN-T Tim 21 Undip berharap kontribusi kecil mereka dapat membantu masyarakat Desa Gedong. Kisah kopi Gedong mengajarkan bahwa di balik aroma kopi yang kita hirup, ada perjuangan petani, ada penghidupan keluarga, dan ada identitas sebuah daerah. Dan lewat langkah kecil ini, diharapkan kopi Gedong semakin dikenal bukan hanya sebagai minuman, tetapi juga sebagai kebanggaan Kendal yang memberi kehidupan bagi banyak orang.
Penulis: Nanda Daffa Arifah
