Dari Biji ke Nilai Tambah, Mahasiswa KKN-T 21 U...

Dari Biji ke Nilai Tambah, Mahasiswa KKN-T 21 UNDIP Dorong UMKM Desa Kopi Melalui Diversifikasi Produk

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, KENDAL – Potensi kopi Desa Gedong, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, tidak lagi berhenti sebatas minuman yang dinikmati setiap hari. Mahasiswa Administrasi Bisnis Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 21 hadir dengan program inovatif: mengolah limbah kopi menjadi produk bernilai tambah berupa Sabun Kopi.

Program kerja ini disosialisasikan kepada Kelompok Tani Subur 3 Desa Gedong, yang sebagian besar warganya merupakan petani dan pelaku usaha kopi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep diversifikasi produk—yakni pengembangan produk turunan dari bahan utama—sehingga para petani tidak hanya bergantung pada penjualan biji kopi mentah atau bubuk, tetapi juga mampu membuka peluang usaha baru.

Dari Biji ke Nilai Tambah, Mahasiswa KKN-T 21 UNDIP Dorong UMKM Desa Kopi Melalui Diversifikasi Produk
Mahasiswa KKN Undip Tim 21 mendemonstrasikan cara membuat sabun kopi dari ampas kopi. Program ini merupakan bagian dari diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah kopi di Desa Gedong, Kendal.

Limbah Kopi yang Bernilai Tambah
Dalam pelatihan yang dilaksanakan, mahasiswa UNDIP menunjukkan bagaimana ampas kopi yang sering dianggap sebagai limbah sebenarnya bisa diolah menjadi sabun herbal alami. Bahan utama yang digunakan antara lain:
– Ampas kopi sebagai scrub alami yang membantu mengangkat sel kulit mati,
– Minyak kelapa sebagai bahan dasar sabun yang melembutkan kulit,
– Minyak zaitun dan minyak esensial untuk menjaga kelembaban,
– Soda kostik (NaOH) dalam kadar aman, sebagai pengikat lemak menjadi sabun,
– Air suling (aquadest) sebagai pelarut.

Melalui kombinasi bahan-bahan tersebut, lahirlah sabun kopi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menawarkan manfaat kesehatan dan kecantikan. Sabun kopi dipercaya mampu menyegarkan kulit, mengurangi bau badan, hingga membantu relaksasi berkat aroma khas kopi.

Diversifikasi Produk untuk UMKM Desa
Mahasiswa Administrasi Bisnis UNDIP menjelaskan bahwa diversifikasi produk adalah strategi penting bagi pelaku usaha kecil, termasuk petani kopi di Desa Gedong. Dengan diversifikasi, kopi tidak lagi hanya dijual sebagai biji sangrai atau bubuk seduh, melainkan bisa berkembang menjadi berbagai produk turunan seperti:
– Sabun kopi (kesehatan & kecantikan),
– Lulur dan masker kopi (perawatan tubuh),
– Minuman instan berbahan kopi,
– Kerajinan berbahan limbah kulit kopi (cascara),
– Pupuk organik cair dari limbah kopi.

“Dengan diversifikasi, nilai ekonomi kopi bisa berlipat ganda. Petani tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga mengolahnya menjadi produk siap pakai yang memiliki pasar lebih luas,” jelas salah satu mahasiswa KKN-T saat sosialisasi.

Antusiasme Kelompok Tani Subur 3
Sosialisasi yang dilaksanakan bersama Kelompok Tani Subur 3 mendapat sambutan positif. Anggota kelompok tani menilai program ini membuka wawasan baru, terutama mengenai peluang usaha non-tradisional yang bisa menopang pendapatan keluarga.

Ketua Kelompok Tani Subur 3 menyebutkan, “Selama ini kami fokus hanya pada penanaman dan penjualan biji kopi. Ternyata dari limbah kopi saja bisa dihasilkan produk yang bermanfaat dan punya nilai jual. Ini sangat membantu UMKM desa kami untuk berkembang.”

Dorongan Ekonomi dan UMKM Desa Kopi

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong UMKM desa kopi berkembang melalui inovasi berbasis potensi lokal. Dengan memanfaatkan limbah kopi menjadi produk bernilai tambah, masyarakat Desa Gedong tidak hanya menjaga lingkungan dari limbah organik, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan.

“Sabun kopi adalah contoh sederhana dari bagaimana limbah bisa diubah menjadi peluang. Harapannya, masyarakat bisa melanjutkan dan mengembangkan produk ini sehingga Desa Gedong semakin dikenal sebagai desa kopi dengan produk kreatif yang beragam,” ungkap mahasiswa Administrasi Bisnis UNDIP.

Dengan adanya program kerja KKN Tematik 21 ini, Desa Gedong selangkah lebih dekat untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis kopi. Dari secangkir kopi yang biasanya hanya dinikmati, kini hadir nilai tambah yang mampu menggerakkan UMKM desa menuju kesejahteraan yang lebih baik.

Artikel ini merupakan bagian dari kegiatan KKN Tematik 21 Universitas Diponegoro di Desa Gedong, Kecamatan Patean, Kendal, dengan dosen pembimbing Dr. Sari Listyorini, S.Sos., M.A.B.

Penulis: Salma Ragil

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan