JATENGKU.COM, BOYOLALI — Lereng Gunung Merapi memang menyimpan banyak sekali potensi, baik dalam segi pertanian hingga budayanya. Salah satunya ada di Desa Cluntang, desa yang berapa di Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali ini, pada sektor pertaniannya berfokus pada salah satu budidaya tanaman, yaitu tembakau. Berton-ton sudah mereka memproduksi tembakau basah, kering, hingga kering iris yang dikirim ke berbagai daerah dan pabrik rokok seperti Gudang Garam dan Djarum.
Setiap budidaya tanaman pasti menghasilkan limbah. Dalam konteks pertanian, limbah hasil budidaya disebut brangkasan. Brangkasan adalah bagian tanaman yang tidak diambil manfaatnya. Sama halnya dengan budidaya tembakau, bagian batang tidak dimanfaatkan pada proses pembuatan rokok sehingga akan terbuang dan biasanya dibakar. Brangkasan tembakau tersebut dapat diolah kembali menjadi insektisida organik mengingat kandungan nikotin yang akan meracuni serangga.
![]() | ![]() |
Desa Cluntang juga pernah memproduksi bawang goreng organik, limbah produksi yang merupakan kulit bawang merah berpotensi besar menjadi bahan baku pembuatan insektisida organik karena mengandung senyawa aktif seperti quercetin dan sulfur dalam kulit bawang merah telah terbukti memiliki sifat insektisida yang dapat mengusir berbagai jenis hama.
![]() | ![]() | ![]() |
Kelompok 30 KKN UNS di Desa Cluntang dengan pembimbing lapangan Ibu Dosen, Dr. Rita Noviani, S.Si., M.Sc melakukan pelatihan pembuatan insekteksida organik kepada masyarakat desa tersebut dalam rangka mewujudkan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dan menekan penggunaan insektisida kimia yang memiliki efek jangka panjang yang tidak baik bagi tanah, lingkungan dan manusia. Para warga Desa Cluntang juga bertukar informasi dalam hal pengelolaan hama tanaman di Perkebunan mereka masing-masing agar pengaplikasian insektisida organik ini akan lebih baik dampaknya pada hasil perkebunan warga setempat.





