Mahasiswa KKN-T IPB Hadirkan Inovasi Kesehatan,...

Mahasiswa KKN-T IPB Hadirkan Inovasi Kesehatan, Pangan, dan Peternakan di Desa Mojoreno

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, WONOGIRI — Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University di Kecamatan Sidoharjo resmi dimulai pada 25 Juni 2025. Tim Desa Mojoreno (WONOGIRI KAB01) langsung bergerak melakukan berbagai program yang menyasar kesehatan, pangan, hingga peternakan sebagai upaya untuk mewujudkan tema KKN-T Desa Mojoreno yakni “Optimalisasi Potensi dan Sumber Daya Lokal melalui Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat untuk Mewujudkan Kemandirian Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri”. Berbagai kegiatan awal antara lain pembaruan data Kartu Keluarga, pendampingan Posyandu keliling, senam lansia, hingga inspeksi sanitasi rumah warga.

Dari sisi kesehatan masyarakat, mahasiswa IPB mendampingi pemeriksaan balita dan lansia di Posyandu, membagikan vitamin serta obat untuk ternak, dan menggelar program SEHATI (Sehat Hadapi Hipertensi dan Diabetes) bersama PKK. Bidang pendidikan juga mendapat sentuhan dengan perayaan Hari Anak Nasional di SDN 01 Mojoreno yang diikuti hampir 100 siswa melalui senam, permainan, dan hand painting.

Mahasiswa KKN-T IPB Hadirkan Inovasi Kesehatan, Pangan, dan Peternakan di Desa Mojoreno
Mahasiswa KKN-T IPB University mendampingi proses pembuatan pupuk bokashi Mojo Tani dari kotoran kambing di Desa Mojoreno, Wonogiri. Inovasi ini bertujuan mengolah limbah peternakan menjadi pupuk organik bernilai jual, sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia.

Puncak kegiatan ditandai dengan lahirnya inovasi Pupuk Mojo Tani, bokashi hasil fermentasi kotoran kambing. Sosialisasi digelar pada 13 Juli di Dusun Wates Kulon, diikuti sembilan peternak. Pupuk ini dijual Rp50.000 per karung (25 kg) dengan biaya produksi sekitar Rp30.000, sehingga membuka peluang tambahan pendapatan peternak. Selain ramah lingkungan, bokashi juga memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kesuburan lahan pertanian. Produk ini diharapkan menjadi identitas baru Desa Mojoreno sebagai sentra pupuk organik lokal.

Lebih lanjut, proses pembuatan pupuk melibatkan bahan tambahan seperti dedak, arang sekam, dan larutan fermentasi yang dicampur dengan kotoran kambing, kemudian difermentasi selama 1–2 minggu. Mahasiswa KKN-T mendampingi peternak mulai dari teknik pencampuran, pengaturan kelembaban, hingga pengepakan. Dengan cara ini, limbah kandang yang biasanya mencemari lingkungan dapat diolah menjadi produk bernilai jual, sekaligus mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia.

Selain pupuk organik, mahasiswa juga aktif mendampingi peternak dalam pencegahan mastitis pada kambing, verifikasi proses produksi susu pasteurisasi di UMKM Hadi Farm 44, serta memperkenalkan budikdamber (budidaya ikan dalam ember) sebagai sumber pangan alternatif. Rangkaian kegiatan ini ditutup pada 31 Juli lewat Lokakarya 2 di kantor kecamatan yang dihadiri camat dan 10 kepala desa.

Enam minggu pengabdian ini meninggalkan warisan berharga bagi warga Mojoreno. Kehadiran Pupuk Mojo Tani bukan sekadar inovasi teknis, melainkan simbol sinergi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal. Dengan kolaborasi yang sudah terbangun, warga dan mahasiswa berharap program-program ini dapat terus berlanjut demi mewujudkan desa yang lebih mandiri, sehat, dan berdaya.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan