JATENGKU.COM, SEMARANG – Mahasiswa Universitas IVET Semarang yang tengah menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri hadir dan berkontribusi nyata di RW 11, Kelurahan Karangroto, Kecamatan Genuk. Di Griya Utama Banjardowo, tepatnya di Jl. Flamboyan I No. 16 RT 4 / RW 11, mereka menghadirkan program Taman Gizi Mini yang melibatkan ibu-ibu rumah tangga setempat.
Iva Suryani, mahasiswa jurusan RPL PG PAUD dengan NPM 2624130036, menjadi pelopor pelaksanaan program ini. Selama satu minggu di bulan September 2025, Iva mengajak para ibu untuk bersama-sama menanam sayur cepat panen seperti daun bawang, cabai, dan sayur lainnya menggunakan polybag atau pot.
Program ini digagas sebagai upaya menjaga ketahanan pangan lokal, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Dengan memanfaatkan lahan terbatas di pekarangan rumah, keluarga dapat memiliki sumber gizi sendiri secara sederhana dan murah.

“Kalau ada tanaman cabai atau bawang sendiri di rumah, kita nggak perlu repot beli tiap hari ke pasar. Selain hemat, lebih sehat juga karena kita tahu cara merawatnya,” ujar Siti, salah satu ibu rumah tangga yang ikut menanam.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa IVET memberikan pendampingan langsung: mulai dari pemilihan media tanam, penyemaian bibit, pemupukan sederhana, hingga perawatan harian. Ibu-ibu peserta sangat antusias mengikuti setiap tahapnya, saling berdiskusi tentang bagaimana merawat tanaman agar tumbuh subur meski dalam pot kecil.
“Saya senang sekali ada kegiatan ini. Jadi ada ilmu baru, bisa nanam di rumah walaupun halamannya sempit,” kata Bu Rini, warga lain yang ikut berpartisipasi.
Hasil yang Diharapkan & Manfaat
- Ketahanan pangan rumah tangga meningkat melalui akses langsung ke sayuran segar.
- Biaya belanja sayur menurun karena keluarga dapat memetik dari taman sendiri.
- Pengetahuan baru tentang bercocok tanam dan pemeliharaan tanaman.
- Kesadaran lingkungan lebih tinggi karena memanfaatkan lahan rumah.
Melalui keberadaan Taman Gizi Mini, mahasiswa berharap agar program ini tidak berhenti setelah KKN selesai. Ibu-ibu dan warga setempat diharapkan terus memelihara tanaman, berbagi hasil panen, dan memperluas model ini ke pekarangan lain di lingkungan RW.
“Mudah-mudahan setelah panen nanti, ibu-ibu makin semangat menanam lagi. Jadi manfaatnya bisa berkelanjutan,” tutup Iva Suryani, mahasiswa pelaksana program.
