Dari Debat ke Hujatan: Kenapa Pengguna Media So...

Dari Debat ke Hujatan: Kenapa Pengguna Media Sosial Susah Berbeda Pendapat?

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, SURABAYA — Di media sosial, pemandangan perang komentar sudah jadi hal biasa.

Ada yang awalnya cuma mengkritik kebijakan, membahas film, atau membandingkan dua idol. Dalam hitungan menit, kolom komentar berubah jadi ajang saling hina. Bukan lagi soal ide, tapi soal fisik, keluarga, bahkan agama.

Pertanyaannya: kenapa sih kita begitu susah sekadar berbeda pendapat tanpa saling menyerang?

Dari kecil tidak dibiasakan berbeda

Kalau kita lihat ke belakang, banyak dari kita yang sejak kecil diajari, “Jangan membantah orang tua”, “Jangan melawan guru”, “Diam aja, nanti dibilang kurang ajar.”Tujuannya tentu baik, untuk mengajarkan hormat kepada yang lebih tua. Tapi, tanpa disadari, kita jadi jarang berlatih menyampaikan pandangan sendiri.

Di sekolah atau kampus, tidak sedikit mahasiswa yang enggan mengajukan pertanyaan atau pandangan berbeda, karena takut dianggap “ribet” atau “sok tahu”. Dalam organisasi, suara junior yang tidak sama dengan senior kadang masih dipandang sebagai kurang ajar. Akhirnya, kita tidak banyak berlatih berdiskusi secara setara dan terbuka.

Ketika budaya ini terbawa ke media sosial, wajar kalau banyak orang merasa:

  • orang yang tidak setuju dengan kita = musuh,
  • orang yang mengkritik pendapat kita = sedang merendahkan kita.

Padahal sebenarnya, dia hanya punya cara pandang lain.

Pendapat berubah jadi identitas

Di media sosial, pendapat kita sering menempel dengan identitas. Kita dikenal sebagai “pendukung tokoh A”, “fans idol B”, atau “penggemar klub C”. Saat ada komentar yang mengkritik tokoh atau kelompok yang kita dukung, rasanya seperti diri kita yang ikut dinilai. Dari sini, wajar kalau muncul rasa tersinggung atau tidak nyaman.

Di sinilah muncul budaya baper.

Masalahnya, begitu perasaan tersentuh, fokus kita mudah bergeser. Alih‑alih menanggapi isi argumen, kita justru menyerang balik dengan label atau kalimat yang menjatuhkan. Perdebatan yang seharusnya bisa membantu kita melihat sudut pandang lain akhirnya berubah menjadi arena siapa yang komentarnya paling tajam, bukan siapa yang argumennya paling kuat.

Medsos memang suka yang panas

Ada satu hal lain yang perlu kita sadari: cara kerja platform itu sendiri. Konten yang banyak dikomentari, diberi reaksi, dan dibagikan, akan dianggap “menarik” oleh sistem. Itu yang kemudian lebih sering muncul di beranda banyak orang.

Masalahnya, yang paling ramai sering kali justru yang isinya memicu emosi: marah, kesal, atau tersinggung. Cuplikan video yang diambil hanya beberapa detik, judul yang dibuat sangat tajam, atau caption yang sengaja dibuat menantang, semua itu lebih cepat menyebar.

Di tengah arus yang serba cepat, banyak pengguna hanya sempat membaca judul atau menonton sedikit, lalu langsung ikut berkomentar. Ruang untuk klarifikasi dan penjelasan pelan‑pelan menjadi sangat sempit.

Belum lagi soal anonimitas. Dengan nama pengguna yang tidak jelas identitas aslinya, sebagian orang merasa lebih berani menulis hal‑hal yang mungkin tidak akan pernah mereka ucapkan jika harus berhadapan langsung.

Dampaknya: bising, lelah, dan saling menjauh

Akibat dari semua ini bukan hal kecil.

1. Pertemanan retak

Teman yang dulu akrab bisa saling blokir hanya karena beda pilihan politik atau beda selera hiburan.

2. Orang baik jadi malas bicara

Banyak orang yang sebenarnya punya pendapat bagus, tapi memilih diam karena takut dihujat. Ruang diskusi akhirnya dikuasai oleh mereka yang suaranya paling keras, bukan yang argumennya paling kuat.

3. Sulit mencari kebenaran

Alih-alih berdiskusi pakai data, yang terjadi adalah lomba menyebarkan meme dan potongan video. Hoaks mudah menyebar karena orang lebih sibuk marah daripada mengecek fakta.

A person holding a phoneAI-generated content may be incorrect.
Sumber: https://images.pexels.com/photos/267447/pexels-photo-267447.jpeg

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Mengubah budaya memang tidak bisa dalam semalam. Tapi ada beberapa langkah kecil yang bisa kita mulai dari diri sendiri:

1. Bedakan antara menyerang ide dan menyerang orang

Tidak setuju itu wajar. Tapi gunakan kalimat yang menyerang argumen, bukan pribadi.

Misalnya:

“Saya kurang setuju dengan pendapat ini karena…” lebih baik daripada

“Kamu tidak pakai otak ya?”

2. Belajar menahan diri sebelum mengetik

Saat membaca komentar yang memicu emosi, coba berhenti sejenak. Tanyakan pada diri sendiri:

“Apa manfaatnya kalau saya balas dengan kata-kata kasar?”

“Kalau saya yang dapat balasan seperti ini, saya sakit hati atau tidak?”

3. Cek dulu, baru sebar

Jangan ikut menghujat hanya berdasarkan cuplikan video beberapa detik atau judul yang provokatif. Cari konteksnya, baca dulu dengan utuh.

4. Biasakan dialog di lingkungan kecil

Di keluarga, kampus, atau tempat kerja, kita bisa mulai membiasakan diskusi yang sehat. Misalnya di kelas, dosen dan mahasiswa bisa sama-sama membangun suasana di mana bertanya dan tidak setuju itu boleh, selama disampaikan dengan sopan.

Sebagai mahasiswa Universitas Airlangga, saya merasa kampus punya peran penting sebagai contoh ruang diskusi yang dewasa. Kalau di lingkungan akademik saja kita belum terbiasa berbeda pendapat dengan tenang, bagaimana kita bisa berharap ruang digital kita akan lebih sehat?

Berbeda itu wajar, menghina itu pilihan

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Ia bisa jadi tempat saling belajar, tapi juga bisa menjadi tempat saling melukai. Perbedaan pendapat adalah hal yang pasti. Yang bisa kita pilih adalah cara meresponsnya. Kita bisa terus menerus menjadikan setiap perbedaan sebagai bahan hujatan, atau pelan-pelan belajar melihatnya sebagai kesempatan untuk memahami sudut pandang lain.

Jika setiap kali membuka aplikasi media sosial kita ingat bahwa di balik layar ada manusia lain yang juga punya perasaan, mungkin jari kita akan sedikit lebih pelan sebelum mengetik kata-kata yang menyakitkan. Dan dari situlah, budaya debat yang sehat bisa mulai tumbuh, menggantikan budaya hujat-menghujat yang selama ini melelahkan kita semua.

Penulis: Fahmi Satria Ananda, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Kelas PDB 82, Universitas Airlangga.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan