JATENGKU.COM, Surabaya — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini hadir di hampir setiap lini kehidupan, termasuk dunia medis. Dari analisis data kesehatan hingga prediksi penyakit, AI membawa perubahan besar dalam cara dokter dan tenaga medis bekerja. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah kemajuan AI akan membuat peran dokter hilang, atau justru memperkuatnya? Di Indonesia, isu ini semakin relevan seiring meningkatnya adopsi teknologi di sektor kesehatan, baik oleh pemerintah, rumah sakit, maupun startup kesehatan digital (healthtech).
Banyak pihak menilai bahwa AI dapat menjadi solusi atas masalah kekurangan tenaga medis di Tanah Air. Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan, menilai bahwa teknologi AI bisa membantu meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, khususnya di daerah yang kekurangan dokter.
“AI memiliki potensi luar biasa untuk meningkatkan akses layanan, mempersingkat waktu tunggu, dan meringankan beban tenaga medis,” ucap Astri Ramayanti Dharmawan pada wawancara bersama Antara News (23 Juli 2025).
Beliau menjelaskan bahwa penggunaan teknologi seperti machine learning dan analitik prediktif dapat membantu dokter menganalisis data pasien dengan lebih cepat dan akurat, sehingga keputusan medis bisa dibuat dengan lebih tepat waktu.
Pendapat serupa disampaikan oleh hasil survei yang dikutip dari Bisnis.com (2025), di mana 84 persen tenaga kesehatan di Indonesia yakin bahwa AI justru akan meningkatkan layanan kesehatan, bukan menggantikan dokter.
Pandangan dari Regulator dan Pemerintah
Meski potensinya besar, para pejabat di sektor kesehatan tetap mengingatkan agar penggunaan AI dilakukan secara bijak. drg. Widyawati, M.K.M., Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, menekankan bahwa teknologi AI tidak boleh sepenuhnya mengambil alih peran manusia.
“ChatGPT dan chatbot AI sejauh ini bisa dianggap sebagai pelengkap, tetapi belum dapat menggantikan peran tenaga kesehatan secara mutlak. AI hanya melihat apa yang kita inginkan saat itu,” kata drg. Widyawati melalui laman SehatNegeriku (31 Desember 2024).
Beliau menambahkan bahwa meskipun AI dapat memberikan informasi kesehatan, dokter tetap memegang kendali utama dalam diagnosis dan penentuan terapi.
Sementara itu, Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika, juga mengingatkan bahwa penerapan AI di sektor kesehatan memiliki risiko tinggi.
“Pada layanan kesehatan tidak boleh sejauh itu (penggunaan AI), itu berisiko tinggi karena mencakup keselamatan nyawa seseorang,” ucap Raden Wijaya pada Kompas.com (11 Juli 2025).
Menurutnya, penggunaan AI perlu diawasi ketat agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti kesalahan diagnosis, kebocoran data pasien, atau pengambilan keputusan medis tanpa pertimbangan etis.
Suara dari Kalangan Dokter Indonesia
Salah satu dokter muda yang aktif menyuarakan isu kesehatan publik adalah dr. Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta. Meskipun beliau belum banyak berbicara secara khusus tentang AI, pandangannya mengenai peran manusia dalam sistem kesehatan tetap relevan.
“Jangan ada stigma negatif pada tenaga kesehatan ataupun pasien COVID-19 karena orang kena COVID-19 itu bukan aib,” kata dr. Tirta dalam wawancara dengan Detik.com (8 April 2020).
Pernyataan itu menunjukkan komitmen dr. Tirta terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam profesi kedokteran. Bila dikaitkan dengan perkembangan AI, pesan ini menegaskan bahwa empati dan kemanusiaan tetap tak tergantikan oleh mesin, secerdas apa pun algoritmanya.
Analisis: Bukan Hilang, Tapi Berubah
Melihat pandangan-pandangan di atas, jelas bahwa peran dokter di era AI tidak akan hilang, tetapi akan bertransformasi. AI mampu membantu mengolah data besar, mendeteksi pola penyakit, hingga memberikan rekomendasi medis awal. Namun hanya manusia yang mampu memahami konteks sosial, emosi, dan nilai-nilai etis di balik keputusan medis.
Seperti dijelaskan oleh drg. Widyawati, tenaga medis akan semakin terbantu dengan AI asalkan digunakan secara bijak dan tetap berada di bawah kendali dokter. Hal ini sejalan dengan pandangan Astri Ramayanti Dharmawan yang menilai bahwa AI justru bisa membuka waktu bagi dokter untuk lebih fokus pada aspek manusiawi dalam pelayanan, seperti mendengarkan keluhan pasien, memberikan motivasi, dan memastikan kepuasan layanan.
Jadi, apakah kemajuan teknologi AI membuat peran dokter hilang? Jawabannya tidak. Sebaliknya, AI adalah mitra baru bagi dokter dan tenaga medis. Dengan AI, profesi dokter akan menjadi lebih canggih, lebih efisien, tetapi juga lebih manusiawi. AI akan mengambil alih beban teknis, sementara dokter dapat fokus pada hubungan manusiawi dalam pelayanan kesehatan.
Ke depan, tantangan terbesar bukan pada teknologinya, tetapi bagaimana manusia beradaptasi. Dokter masa depan perlu menguasai literasi digital, etika teknologi, dan kemampuan bekerja berdampingan dengan mesin, tanpa kehilangan empati dan nurani.
Daftar Pustaka
- Antara News. (2025, 23 Juli). AI bantu atasi masalah kurangnya tenaga medis di Indonesia. https://www.antaranews.com/berita/4986541
- Bisnis.com. (2025). 84% Tenaga Kesehatan Yakin AI Akan Meningkatkan Layanan Kesehatan di Indonesia. https://teknologi.bisnis.com/read/20250723/84/1895735
- SehatNegeriku – Kementerian Kesehatan RI. (2024, 31 Desember). Bijak Gunakan AI untuk Akses Informasi Kesehatan. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id
- Kompas.com. (2025, 11 Juli). Kemkomdigi Ingatkan Risiko Tinggi Penggunaan AI di Sektor Kesehatan. https://nasional.kompas.com/read/2025/07/11/17221931
- Detik.com. (2020, 8 April). dr. Tirta Soal Stigma pada Tenaga Medis: Kena Corona Bukan Aib. https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4969350
Penulis: Fawwaz Wignya Widiyanto










