JATENGKU.COM, SEMARANG — Peran pemuda sebagai motor penggerak bangsa kembali ditegaskan dalam pelatihan bertema “Penguatan Nilai Pancasila sebagai Upaya Pencegahan Narkoba dan Pengentasan Kemiskinan” yang dilaksanakan oleh Gertrudis Raditya Satriyani, dari Kelompok 5 KKN TIM 105 Universitas Diponegoro, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Bapak Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum dan Ibu Riris Tiani, S.S., M. Hum.
Kegiatan ini memiliki fokus sasaran remaja yang tergabung dalam organisasi Karang Taruna di RW 7 Kelurahan Plamongansari, sebagai bagian dari program pemberdayaan pemuda desa. Kegiatan ini menjadi aksi nyata terhadap meningkatnya keresahan atas lunturnya nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan masuknya pengaruh budaya asing, pemuda dituntut untuk lebih “mawas diri” dan selektif dalam pergaulan. Menyadari hal tersebut, Raditya menyadari bahwa narkoba menjadi ancaman yang mayoritas menimpa remaja usia produktif 15–35 tahun, menjadi permasalahan yang tak bisa diabaikan.
Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkotika. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat pemuda seharusnya menempati posisi strategis dalam pembangunan bangsa.
Lebih dari sekadar merusak fisik dan mental, narkoba juga menghambat produktivitas, mengancam harga diri, dan memperbesar risiko kemiskinan. Kemiskinan tersebut dapat bersifat struktural, sehingga dapat membatasi akses pemuda terhadap pendidikan, pekerjaan, dan pengembangan diri. Kedua masalah ini saling berkaitan. Kemiskinan dapat memicu kerentanan terhadap penyalahgunaan narkoba, dan narkoba memperparah kemiskinan karena merusak produktivitas generasi muda.
Pelatihan yang dilaksanakan oleh mahasiswa Kelompok 5 KKN TIM 105 Universitas Diponegoro. ini bukan hanya sebagai bentuk aksi represif, karena memiliki nilai edukatif, yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kolektif pemuda akan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup. Edukasi seperti ini sangat dibutuhkan untuk membekali generasi muda agar tidak hanya tahu bahaya narkoba, tetapi juga memahami nilai-nilai Pancasila sebagai identitas bangsa dan benteng mora.
“Pancasila bukan sekadar hafalan di sekolah, melainkan kompas moral dan sosial untuk membentuk karakter dan arah hidup yang positif,” ujar mas Arif yang merupakan ketua karang taruna di Kelurahan Plamongansari.

Berdasarkan Laporan Monografi Kelurahan Plamongansari per Oktober 2024, tercatat bahwa mayoritas warga menyelesaikan pendidikan pada jenjang SMA (3.360 orang) dan SMP (2.595 orang).
Sementara itu, warga yang tamat pendidikan tinggi tercatat sebanyak 2.280 orang, dan tamat akademi sejumlah 1.959 orang. Ini menunjukkan bahwa meski potensi pendidikan menengah cukup besar, tantangan untuk mendorong pemuda melanjutkan ke perguruan tinggi masih perlu ditingkatkan.
Dari segi demografi, jumlah remaja usia produktif awal cukup signifikan, dengan 1.117 warga berusia 10–14 tahun, dan 1.336 warga berusia 15–19 tahun. Usia-usia ini merupakan masa krusial yang rentan terhadap pengaruh buruk, termasuk narkoba.
Peserta pelatihan mendapatkan pengetahuan praktis mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan “tameng” menghadapi tantangan zaman. Mereka juga diajak untuk turut serta dalam berbagai kegiatan positif di lingkungan masyarakat, termasuk usaha pemberdayaan ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dan dukungan penuh dari jajaran RW. Program seperti ini harus terus dilakukan dan ditindaklanjuti, agar pemuda kita tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berintegritas, dan mampu berdaya saing. Dengan mengintegrasikan penguatan nilai kebangsaan dan upaya pencegahan narkoba dalam satu gerakan, pelatihan ini diharapkan menjadi awal dari perubahan yang lebih luas. Sebab, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana pemudanya mampu menjaga nilai luhur dan menghadapi tantangan zaman dengan bijak.











