Sleman – Daeng Dimas selaku keluarga Besar Daeng Manabba bin Karaeng Galesong menyerahkan sertifikat untuk Soesrokosemo IV Daeng Masiga pada tanggal 11/1/2026 di Makam Karaeng Manabba, Mlati, Sleman Yogyakarta untuk mengemban amanah meneruskan jabatan trah Karaeng Galesong untuk menjadi adipati/Raja Berbek dan mengembalikan struktur kepemimpinannya kepada adat Makassar, dalam acara tersebut banyak ditonton oleh Masyarakat sekitar Makam Ngasem yang juga ikut bertepuk tangan, Daeng Dimas mengatakan: “Saya dukung njenengan, semoga njenengan dapat mengembalikan kepemimpinan ini ke Trah Karaeng Galesong dan kembali ke adat leluhur yang dari Makassar dahulu”.

Dukungan Terhadap Soesrokosemo IV semakin bergulir, baik dari Kesultanan Gowa yaitu dukungan dari Andi Imam Daeng Situju (Sultan Gowa) dan Iyulli Dg. Mangngewai (Sesepuh turunan Karaeng Galesong), Forum Silaturahmi Keraton Nusantara dan Raja Raja Melayu.

Daeng Dimas berikan sertifikat pengukuhan

Momentum dukungan terhadap Soesrokosemo IV Daeng Masiga juga dipandang berakar kuat pada sejarah panjang Berbek yang bermula sebagai Kadipaten Berbek sejak tahun 1745 di bawah Mataram Islam dalam wilayah Mancanegara Wetan. Kerajaan ini dibangun oleh KRT Sosrokoesoemo I atau Kanjeng Jimat, yang menata pemerintahan dengan mendirikan masjid dan alun-alun sebagai pusat spiritual dan administrasi, serta menautkan garis kekuasaan Berbek dengan jalur bangsawan Makassar melalui silsilah Karaeng Naba/Kyai Ageng Sulaiman bin Karaeng Galesong bin Sultan Hasanuddin.

Sejarah keterikatan Makassar dan Mataram sendiri terbentuk melalui dinamika politik yang rumit pada abad ke-17, ketika Karaeng Naba mengambil keputusan strategis untuk beralih mendukung Amangkurat II. Perubahan haluan ini dipicu oleh keretakan serius antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo, terutama akibat perselisihan pembagian wilayah kekuasaan dan perbedaan strategi perang setelah mereka menguasai sebagian wilayah Mataram.

Situasi tersebut diperparah oleh kekalahan bertubi-tubi pasukan Makassar dalam menghadapi serangan gabungan VOC dan Mataram di Jawa Timur. Dalam kondisi logistik yang menipis dan aliansi yang melemah, Karaeng Naba menilai bahwa meneruskan perlawanan hanya akan membawa pengikutnya pada kehancuran, sementara Amangkurat II yang baru naik takhta justru membuka ruang rekonsiliasi untuk memperkuat legitimasi kerajaannya.

Keputusan Karaeng Naba berpihak kepada Amangkurat II kemudian menjadi titik balik penting, karena memberikan pengakuan hukum dan jaminan keamanan bagi orang-orang Makassar yang sebelumnya dicap VOC sebagai pemberontak dan bajak laut. Langkah ini memang membuatnya dianggap sebagai pembelot oleh pihak yang setia pada Trunojoyo, namun di sisi lain justru membuka jalan bagi keturunan Karaeng Galesong untuk masuk ke dalam struktur militer dan elit sosial Mataram hingga Yogyakarta.

Dalam perspektif sejarah Berbek dan Nganjuk, jejak politik Karaeng Naba inilah yang kemudian memungkinkan lahirnya figur Kanjeng Jimat dan berdirinya Kerajaan Berbek sebagai fondasi pemerintahan daerah. Oleh karena itu, dukungan terhadap Soesrokosemo IV Daeng Masiga hari ini dipandang sebagai kelanjutan dari garis sejarah panjang yang menghubungkan Makassar, Mataram, dan Berbek dalam satu tarikan warisan kepemimpinan dan adat leluhur.

Editor: Handayat