JATENGKU.COM, SURABAYA — Setiap kali seseorang menjalani pemeriksaan seperti rontgen, CT Scan, MRI, mamografi, dan pelayanan medis yang menggunakan seluruh modalitas energi radiasi, dibalik canggihnya peralatan tersebut, ada seorang profesional yang perannya sangat penting, yakni radiografer.
Radiografer adalah seorang tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dalam menggunakan peralatan pencitraan medis. Radiografer bekerja dibalik ruang operator sebagai garda terdepan dalam menghasilkan citra medis yang akurat, menjadi kunci penting bagi dokter untuk menegakkan diagnosis. Jurusan Teknologi Radiologi Pencitraan melatih radiografer untuk menjadi ahli teknis, namun harus diimbangi dengan kemampuan komunikasi efektif untuk menjamin mutu pelayanan dan kepuasan pasien.
Dalam dunia medis, kemampuan berkomunikasi merupakan fondasi yang penting untuk memberikan pelayanan kepada pasien dengan optimal. Radiografer tidak hanya bertanggung jawab atas pengambilan gambar medis berkualitas tinggi, tetapi juga harus mampu berinteraksi dengan pasien secara efektif untuk mengurangi kecemasan pasien dan memastikan keselamatan pasien. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017, salah satu indikator keselamatan pasien adalah komunikasi yang efektif. Komunikasi yang baik adalah kunci untuk mendapatkan kerja sama pasien, terutama pada prosedur yang rumit atau berisiko.
Kasus Pemeriksaan Kontras Konvensional
Berdasarkan survei dari jurnal Salim et al. (2021) yang berjudul “Efektivitas Komunikasi Radiografer Terhadap Tingkat Kepuasan pada Pasien Pemeriksaan Kontras di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau” oleh terdapat 13 pasien yang mengeluhkan ketidakpuasan terhadap komunikasi yang dilakukan petugas radiologi, karena mereka merasa tidak mengerti instruksi dan penjelasan yang diberikan oleh radiografer, penjelasan kurang terstruktur, dan masih ada komponen yang tidak dijelaskan sebelum pemeriksaan serta masih ada bahasa yang sulit dipahami oleh pasien.
Kurangnya komunikasi ini bukan hanya masalah kenyamanan, tetapi masalah keselamatan. Pasien yang tidak memahami instruksi posisi atau persiapan dapat menyebabkan pengulangan foto, yang berarti pasien mendapatkan radiasi tambahan dan hal itu menjadi sesuatu risiko yang wajib dihindari.
Aspek Komunikasi yang Efektif Mencakup:
1. Aspek Verbal
Dengan menggunakan Bahasa yang sederhana, lugas, dan mudah dimengerti dapat menghindari kerancuan informasi.
2. Aspek Non Verbal
Dengan melakukan kontak mata, tersenyum, dan sentuhan menenangkan untuk menunjukkan perhatian.
Dengan aspek komunikasi yang efektif pasien akan merasa dihargai, tenang, puas dengan pelayanan, dan paham akan intruksi yang diberikan sehingga pasien tahu apa yang harus dilakukan (misalnya tidak bergerak). Pada akhirnya, peran radiografer adalah menjadi jembatan kepercayaan yang tidak tergantikan.
Meskipun teknologi akan terus berkembang dan maju, keterampilan untuk berkomunikasi adalah pondasi yang memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan pelayanan yang tidak hanya akurat, tetapi juga aman dan bermutu tinggi.
Penulis: Firdausi Sofi Mahilda
