JATENGKU.COM, SEMARANG – Dari balik gang kecil di Kota Semarang, berdiri sebuah UMKM batik rumahan yang penuh ketekunan, Batik Rusyda. Berbekal warisan budaya dan corak khas otentik, usaha ini terus bertahan di tengah arus zaman. Kini bersama Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam KKN Tematik Tim-105 kelompok 3 memasuki babak baru dalam transformasi ke era digital. Di bawah bimbingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Bapak Fajrul Falakh, S.Hum., M.Hum. dan Ibu Riris Tiani, S.S., M.Hum.

Kegiatan KKN Tematik ini merupakan bagian dari upaya nyata mahasiswa UNDIP dalam membantu UMKM menghadapi era digital dan pasar yang semakin kompetitif. Batik Rusyda, yang telah bertahun-tahun mempertahankan warisan budaya melalui produk batik khas Semarang yang selama ini belum memaksimalkan pemanfaatan platform digital sebagai media pemasaran.

Mereka melihat Batik Rusyda sebagai representasi dari budaya lokal yang perlu diangkat pada taraf yang lebih tinggi. Digitalisasi adalah sebagai suatu jembatan untuk membawa produk lokal ke pasar yang lebih besar.

Melalui kerja sama intensif antar setiap individu di dalam tim, mereka mulai mengenalkan sistem penjualan daring yang terintegrasi melalui TikTok Shop dan Shopee. Penyusunan Katalog digital juga dilakukan untuk menampilkan produk dari Batik Rusyda secara profesional serta perubahan postingan pada media sosial Instagram sebagai wadah branding bagi Batik Rusyda untuk menarik perhatian masyarakat.

Mahasiswa KKN Tematik Tim-105 Kelompok 3 Universitas Diponegoro berfoto bersama pemilik Batik Rusyda sambil menunjukkan halaman toko Batik Rusyda di marketplace Shopee. Ini merupakan bagian dari upaya digitalisasi UMKM dalam program pendampingan KKN di Kelurahan Plamongansari, Semarang (19/07/2025).

Bagi Bapak Sugiono dan Ibu Rahayu Ningsih, selaku pemilik usaha Batik Rusyda, mereka mengaku terbantu dan merasakan perubahan dalam memahami dunia digital dengan hadirnya Mahasiswa KKN Tematik 105 Universitas Diponegoro.

Kisah Batik Rusyda menjadi kisah nyata bahwa UMKM tidak pernah kekurangan potensinya hanya saja terkadang perlu ada sentuhan baru untuk berkembang. Dan disinilah peran mahasiswa hadir sebagai penyala semangat menghadirkan ilmu yang membumi, dan membawa harapan kecil yang berdampak besar.

“Bila kaum muda terpelajar menganggap diri nya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat dan melakukan kerja – kerja konkret yang bisa memenuhi apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”. – Tan Malaka

Editor: Handayat