JATENGKU.COM, Surabaya — Di era digital ini, kita saling terhubung satu sama lain. Berkat sosial media kita dapat berinteraksi dengan siapapun dan kapanpun. Selain itu, berkat sosial media kita dapat lebih mudah untuk mendapatkan informasi dengan lebih cepat dari mana saja dan kapan saja. Hal ini mampu mempermudah kita untuk lebih peduli dengan orang yang kita kenal. Namun, dengan semua itu justru muncul satu masalah yang tak terduga, yakni menumpulnya empati dalam masyarakat.

Banyak yang beranggapan bahwa media sosial membuat hubungan antar manusia menjadi impersonal, dingin, dan serba cepat, sehingga ekspresi empati menjadi sulit muncul secara alami. Namun, justru pada kenyataanya salah satu penyebabnya adalah terlalu banyaknya tragedi yang dijadikan tontonan massal, dan dijadikan konten dimana mana. Kita yang terlalu sering terpapar tragedi membuat empati kita menumpul. Hal itu biasa disebut empathy fatigue atau compassion fatigue.

Menurut KBBI, empati berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Menurut (Cuff et al., 2016) Empati adalah respons emosional yang muncul secara otomatis dari gabungan kemampuan alami dan pengaruh situasi, di mana seseorang merasakan emosi orang lain sambil tetap sadar bahwa perasaan itu bukan miliknya sendiri. Dapat disimpulkan bahwa empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain, tanpa kehilangan kesadaran akan batas antara diri sendiri dan orang lain.

Sedangkan (Figley, 2015,) empathy fatigue merupakan trauma sekunder (stres emosional dan psikologis yang dialami seseorang akibat terpapar tidak langsung dengan pengalaman traumatis orang lain) yang dialami oleh individu yang memberikan bantuan dengan dasar empati, yang menyebabkan menurunnya minat dan kemampuan untuk berempati, baik kepada orang lain maupun diri sendiri, serta munculnya rasa lelah akibat pekerjaan membantu tersebut.

Disanalah korelasinya, dengan sosial media, kita jadi sering terpapar dengan cerita atau pengalaman orang lain, baik itu pengalaman baik maupun buruk. Mungkin satu atau dua cerita buruk, empati kita masih bisa berjalan, namun jika sudah terlalu banyak, lama kelamaan kita akan merasa numb atau mati rasa. Hal ini tentu akan mengganggu kehidupan Kita sehari hari.

Sudah banyak penelitian tentang sosial media dan pengaruhnya terhadap empati seseorang. Dalam penelitiannya, (Martingano et al., 2022,) meneliti tentang pengaruh sosial media terhadap empati, narsisisme, dan alexithymia pada 1.253 orang dewasa Amerika Serikat. Dari penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sosial media berkorelasi negatif terhadap hal hal tersebut, ini berarti, sosial media berdampak buruk pada empati seseorang.

Selain menyebabkan sulitnya untuk berempati dan numb atau mati rasa, Empathy fatigue juga berdampak buruk pada hal lain. Empathy fatigue menyebabkan seseorang sulit untuk berkonsentrasi dan membuat seseorang menjadi lambat dalam merespon sesuatu. Tentunya hal ini dapat mengganggu kehidupan seseorang, mereka yang mempunyai empathy fatigue akan kesulitan untuk beraktivitas. Tidak hanya masalah masalah diatas, empathy fatigue juga dapat menyebabkan sakit kepala, mual, dan perubahan nafsu makan, hal tersebut pastinya akan membuat seseorang yang mengalaminya menjadi lebih sulit untuk beraktivitas dengan normal.

Namun, jika kita melihat dengan perspektif yang berbeda, yang membuat empati kita menumpul bukanlah tragedi itu sendiri, tetapi framing dari media yang kita konsumsi. Kebanyakan dari media yang kita konsumsi membingkainya hanya sebagai sensasi atau tragedi. Berdasarkan (Roberts, 2021,) pembingkaian konten di media sosial sangat berpengaruh pada empati masyarakat. ketika penderitaan disajikan dengan konteks kemanusiaan dan solusi, empati justru meningkat. Hal itu sekaligus menjadi antidot atau obat bagi empathy fatigue itu sendiri. Maka dari itu, hal ini adalah tanggung jawab dua pihak, antara sang penyaji berita dan orang yang mengonsumsinya.

Pada akhirnya, masalah menumpulnya empati di era digital bukan semata-mata soal teknologi atau media sosial, tapi soal bagaimana kita menggunakannya. Empati bukan hilang karena kita melihat terlalu banyak tragedi, tetapi karena cara kita memprosesnya semakin dangkal. Kita terbiasa mengonsumsi penderitaan sebagai “konten”, bukan sebagai pengalaman manusia nyata.

Algoritma mendorong kita untuk terus melihat hal-hal ekstrem, emosional, dan sensasional, bukan karena kita peduli, tetapi karena itu yang paling mudah memicu perhatian. Maka dari itu, pilihan ada di tangan kita. Apakah kita ingin terus mengonsumsi konten yang hanya berisi tragedi dan sensasi?

Memang tidak mudah untuk lepas dari konten konten tersebut, apalagi jika sebelumnya, kita sudah terbiasa mengonsumsi konten sejenis. Namun, dengan mengubah tempat anda mengonsumsi konten tersebut, empati anda justru akan tumbuh subur. Pada akhirnya, semua tergantung pada kita, apakah kita ingin berubah, atau kita akan membiarkan empati kita mati perlahan?

Referensi

  • Cuff, B. M.P., Brown, S. J., Taylor, L., & Howat, D. J. (2016). Empathy: A Review of the Concept. Emotion Review, 8(2), 144 – 153. https://doi.org/10.1177/1754073914558466
  • Figley, C. R. (Ed.). (2015). Compassion Fatigue: Coping with Secondary Traumatic Stress Disorder in Those Who Treat the Traumatized. Taylor & Francis Group.
  • Martingano, A. J., Okaomee, A. A., Konrath, S., & Zarins, S. (2022, October). Empathy, Narcissism, Alexithymia, and Social Media Use. Psychology of Popular Media, 11(4), 413-422. https://doi.org/10.1037/ppm0000419
  • Roberts, J. S. (2021, December). Empathy cultivation through (pro)social media: a counter to compassion fatigue. Journalism and Media, 2(4), 819-829. https://doi.org/10.3390/journalmedia2040047

Penulis: Adrian Ahsan, Mahasiswa Universitas Airlangga

Editor: Handayat