Hadirkan Masterplan Desa Wisata Berbasis Potens...

Hadirkan Masterplan Desa Wisata Berbasis Potensi Alam, Mahasiswa KKN Reguler Tim I-73 UNDIP Dorong Pengembangan Agrowisata Desa Bandung

Ukuran Teks:

BANDUNG, BATANG — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim I-73 Universitas Diponegoro dari Program Studi Arsitektur Semester 8 melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Bandung, Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang. Kegiatan ini mengusung pendekatan multidisiplin berbasis perencanaan ruang, dengan fokus utama pada penyusunan masterplan desa wisata sebagai upaya pengembangan potensi desa yang berkelanjutan.

Desa Bandung memiliki potensi alam berupa kebun buah dan curug yang berpeluang besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Beberapa tahun yang lalu, kebun buah di Desa Bandung sempat dikembangkan oleh pengurus kebun sebagai upaya awal pengembangan ekonomi dan wisata desa. Namun, akibat adanya kondisi tertentu yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan, pengembangan kebun buah tersebut tidak lagi berjalan secara optimal hingga saat ini.

Akibatnya, potensi kebun buah dan wisata alam tersebut belum terintegrasi secara menyeluruh serta belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Padahal, dengan perencanaan yang matang dan berkelanjutan, potensi tersebut dapat menjadi sumber penghasilan alternatif bagi desa.

Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa KKN Reguler Tim I-73 UNDIP melaksanakan Program Multidisiplin 2, yaitu penyusunan masterplan desa wisata yang memuat identifikasi potensi kawasan serta solusi integrasi antar objek wisata.

Masterplan yang disusun mencakup pemetaan potensi kebun buah dan curug yang ada di Desa Bandung, analisis keterkaitan antar kawasan wisata, serta perumusan konsep integrasi agrowisata berbasis lingkungan. Selain itu, masterplan ini juga dilengkapi dengan rekomendasi penataan ruang yang disusun sebagai dasar pengembangan wisata desa agar dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.

Masterplan beserta peta potensi agrowisata Desa Bandung kemudian dipresentasikan dan disosialisasikan kepada BUMDes serta Pemerintah Desa Bandung sebagai bahan pertimbangan perencanaan pengembangan desa wisata ke depan.

Program ini berhasil mencapai ketercapaian berupa tersusunnya masterplan desa wisata serta terlaksananya sosialisasi kepada pihak desa dan BUMDes. Namun demikian, tim menghadapi hambatan berupa sulitnya menentukan jenis tanaman buah yang tepat untuk dikembangkan, karena adanya perbedaan antara teori perencanaan dengan kondisi lapangan, seperti karakteristik tanah dan iklim setempat.

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa merekomendasikan adanya sosialisasi lanjutan kepada masyarakat dan pengelola kebun wisata terkait pemilihan tanaman buah jangka panjang yang berkelanjutan dan sesuai dengan kondisi lokal.

Selain program perencanaan desa wisata, mahasiswa KKN Reguler Tim I-73 UNDIP juga melaksanakan program sosial kemasyarakatan berupa perancangan peletakan papan nama Desa Bandung serta penataan taman di sekitar balai desa. Kegiatan ini dilakukan melalui analisis lokasi, penyusunan konsep desain, serta pemberian masukan teknis guna meningkatkan estetika kawasan balai desa dan memperkuat identitas visual desa.

Program sosial ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan balai desa yang lebih tertata, representatif, serta nyaman sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Sebagai program pendukung, mahasiswa juga melaksanakan Program Multidisiplin 1, yaitu perancangan sederhana fasilitas pengelolaan sampah rumah tangga berupa TPS ramah lingkungan. Rancangan TPS ergonomis telah disosialisasikan kepada perangkat desa, meskipun realisasinya masih terkendala keterbatasan lahan dan aksesibilitas.

Melalui rangkaian kegiatan KKN ini, mahasiswa KKN Reguler Tim I-73 Universitas Diponegoro berharap masterplan desa wisata yang telah disusun dapat menjadi acuan awal bagi pemerintah desa dan BUMDes dalam mengembangkan potensi wisata Desa Bandung secara bertahap dan berkelanjutan.

 

Selain itu, diharapkan adanya kolaborasi berkelanjutan antara masyarakat, pemerintah desa, dan pengelola wisata agar potensi kebun buah dan curug dapat kembali dikembangkan secara optimal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Bandung di masa mendatang.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan