JATENGKU.COM Gunungkidul — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 28 Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Apotek Hidup dan budidaya tanaman cabai di lahan kas Padukuhan Pudak, Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2026 hingga 1 Februari 2026 dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, antara lain kelompok Ibu PKK, Karang Taruna, serta warga Padukuhan Pudak.
Program ini dirancang sebagai upaya strategis dalam meningkatkan ketahanan pangan keluarga sekaligus memperkuat literasi masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga secara berkelanjutan. Pelibatan masyarakat secara partisipatif menjadi pendekatan utama yang diterapkan oleh mahasiswa KKN agar program tidak hanya bersifat seremonial, melainkan mampu memberikan dampak nyata dalam jangka panjang.
Pemanfaatan lahan kas padukuhan sebagai lokasi program dilandasi oleh pertimbangan optimalisasi aset desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Lahan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang produktif yang dapat menunjang kebutuhan pangan sekaligus menjadi sarana edukasi berbasis praktik bagi masyarakat.
Koordinator Lapangan KKN 28 UNS, Alvrisa Ayumi Russari bersama Devinta (dan tim), menyampaikan bahwa program ini disusun berdasarkan hasil observasi lapangan dan dialog dengan warga. Berdasarkan identifikasi kebutuhan, masyarakat memerlukan penguatan pengetahuan mengenai tanaman obat keluarga serta alternatif penguatan ketersediaan bahan pangan sederhana seperti cabai yang kerap mengalami fluktuasi harga di pasaran.
“Lahan kas padukuhan ini dimanfaatkan secara kolaboratif untuk menanam berbagai jenis tanaman obat keluarga dan cabai. Harapannya, warga tidak hanya memperoleh hasil panen, tetapi juga memahami tata cara penanaman, perawatan, serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Program Apotek Hidup yang dikembangkan mencakup penanaman sejumlah tanaman obat keluarga seperti jahe, kunyit, kencur, serai, dan lengkuas. Tanaman-tanaman tersebut dipilih berdasarkan kemudahan perawatan, manfaat kesehatan, serta kesesuaian dengan kondisi tanah setempat. Selain itu, budidaya cabai dilakukan sebagai bentuk diversifikasi tanaman produktif yang bernilai ekonomis dan relevan dengan kebutuhan rumah tangga.
Mahasiswa KKN tidak hanya melakukan penanaman, tetapi juga memberikan pendampingan secara komprehensif. Pendampingan tersebut meliputi tahap persiapan lahan, pengolahan tanah, pemilihan bibit unggul, teknik penanaman yang tepat, hingga metode perawatan dan pengendalian hama secara sederhana dan ramah lingkungan. Pendekatan edukatif ini bertujuan agar masyarakat mampu melanjutkan program secara mandiri setelah masa KKN berakhir.
Selain praktik langsung di lapangan, mahasiswa juga menyelenggarakan kegiatan sosialisasi mengenai jenis-jenis tanaman obat, kandungan manfaatnya, serta cara pengolahan sederhana untuk kebutuhan kesehatan keluarga. Materi disampaikan dengan bahasa yang komunikatif dan disertai contoh konkret agar mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi. Beberapa warga turut berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan tanaman herbal sebagai alternatif pengobatan tradisional. Diskusi dua arah ini memperkaya wawasan bersama dan memperkuat hubungan kolaboratif antara mahasiswa dan masyarakat.
Kepala Dukuh Pudak, Agus Budiyanta, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan mahasiswa KKN 28 UNS. Ia menilai program tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat serta mendukung pemanfaatan lahan desa secara produktif.
“Kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi warga. Kami memperoleh pengetahuan baru mengenai jenis-jenis tanaman obat yang dapat ditanam secara mandiri di pekarangan rumah. Selain itu, penanaman cabai juga membantu memenuhi kebutuhan dapur keluarga,” ujarnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Ibu Dukuh Pudak. Ia menyatakan bahwa program Apotek Hidup tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang tersedia secara lebih produktif.
“Kami merasa terbantu dengan adanya pendampingan dari mahasiswa. Penjelasan yang diberikan sangat sistematis dan mudah dipahami. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga masyarakat semakin mandiri dalam menjaga kesehatan keluarga,” tuturnya.
Dari perspektif pembangunan desa, program ini memiliki relevansi dengan konsep ketahanan pangan berbasis komunitas. Ketahanan pangan tidak semata-mata diartikan sebagai ketersediaan bahan pangan dalam skala besar, tetapi juga kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri dan berkelanjutan.
Melalui penanaman cabai dan tanaman obat keluarga, masyarakat didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar sekaligus meningkatkan kapasitas produksi skala rumah tangga. Lebih lanjut, pengembangan Apotek Hidup berkontribusi terhadap penguatan kesehatan preventif di tingkat keluarga. Tanaman obat yang ditanam dapat dimanfaatkan sebagai upaya awal penanganan keluhan kesehatan ringan, sehingga mendorong pola hidup yang lebih sehat dan berbasis sumber daya lokal.
Secara sosial, kegiatan ini juga mempererat hubungan antarwarga melalui kerja bakti dan kolaborasi dalam pengelolaan lahan. Nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat pedesaan kembali dihidupkan melalui aktivitas bersama yang produktif dan edukatif.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKN 28 UNS berkomitmen untuk melakukan monitoring dan evaluasi bersama perangkat padukuhan serta perwakilan warga. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan program, mengidentifikasi kendala yang mungkin muncul, serta merumuskan strategi pengembangan ke depan. Dokumentasi dan laporan program juga akan diserahkan kepada pihak padukuhan sebagai bahan rujukan apabila program ingin direplikasi atau diperluas.
Dengan adanya program ini, diharapkan lahan kas Padukuhan Pudak dapat terus berkembang sebagai pusat edukasi dan produksi tanaman obat serta hortikultura sederhana. Keberlanjutan program menjadi indikator utama keberhasilan KKN, yakni ketika masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan inisiatif secara mandiri.
Melalui sinergi antara mahasiswa dan masyarakat, program Apotek Hidup dan budidaya cabai ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mewujudkan desa yang lebih hijau, sehat, dan mandiri. Kolaborasi tersebut mencerminkan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Penulis: Alvrisa Ayumi Russari, Mahasiswa KKN 28 Universitas Sebelas Maret







