JATENGKU.COM, PEKALONGAN – Sektor industri perkapalan tradisional di Kota Pekalongan mendapat sentuhan inovasi signifikan melalui program Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) oleh TIM 151 mahasiswa Universitas Diponegoro. KKN-T ini berfokus pada upaya pemberdayaan pengrajin kapal kayu, khususnya dalam mengatasi tantangan efisiensi penggunaan bahan baku, terutama fiber pada Sabtu (05/07/2025).

Fungsi utama fiber (serat kaca) pada kapal adalah sebagai bahan pembuatan lambung kapal, tangki air atau tangki bahan bakar, dan berbagai komponen lainnya karena sifatnya yang kuat, ringan, tahan karat, serta tahan terhadap cuaca ekstrim.

Selama ini, para pengrajin di galangan kapal Pekalongan masih mengandalkan perkiraan manual untuk menentukan kebutuhan luasan fiber yang akan melapisi lambung kapal.

Metode ini kerap berujung pada pemborosan material atau kekurangan stok, yang berdampak pada peningkatan biaya produksi dan keterlambatan pengerjaan.

Menyikapi permasalahan tersebut, Kelompok 1 TIM 151 KKN-T Universitas Diponegoro memperkenalkan solusi berbasis teknologi. “Kami melihat ada potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dengan memanfaatkan software desain,” ujar Rido Naibaho, salah satu perwakilan dari tim KKN-T.

Mahasiswa KKN-T TIM 151 Universitas Diponegoro sedang menjelaskan penggunaan perangkat lunak Rhinoceros sebagai langkah digitalisasi perhitungan kebutuhan material kepada pengrajin kapal kayu di Kota Pekalongan

Program mengimplementasikan pelatihan dan pendampingan dalam pembuatan nesting drawing pada lambung kapal menggunakan perangkat lunak desain 3D, Rhinoceros. Nesting drawing adalah teknik optimalisasi penempatan pola potongan material pada lembaran bahan untuk meminimalkan sisa.

Dengan metode ini, para pengrajin kini mampu:

  • Melakukan pemodelan digital lambung kapal dengan presisi tinggi.
  • Menghasilkan pola nesting drawing yang akurat, memastikan setiap lembar fiber termanfaatkan secara optimal.
  • Yang terpenting, menghitung luasan lambung kapal yang dibutuhkan secara pasti. Perhitungan ini krusial untuk menentukan jumlah fiber yang harus disediakan, mengeliminasi metode ‘kira-kira’ yang kurang efisien.
Visualisasi layar perangkat lunak Rhinoceros yang menampilkan desain 3D lambung kapal dan proses pembuatan nesting drawing. Metode ini membantu menghitung kebutuhan material fiber secara akurat dan meminimalisasi limbah.

Tampilan layar perangkat lunak Rhinoceros yang digunakan untuk pemodelan 3D lambung kapal dan pembuatan nesting drawing guna optimasi penggunaan material fiber.

“Inovasi ini sangat membantu kami. Dulu, seringkali kami membeli fiber berlebihan atau kurang. Sekarang, semua bisa dihitung dengan jelas,” ungkap Bapak Tungky Ari Wibowo, salah satu pemilik galangan kapal di Pekalongan yang menjadi mitra program ini.

Dampak positif dari inovasi ini diperkirakan akan sangat terasa. Selain mengurangi pemborosan material dan menghemat biaya produksi, digitalisasi ini juga meningkatkan efisiensi kerja para pengrajin serta mendorong mereka untuk lebih adaptif terhadap teknologi modern.

Inisiatif Kelompok 1 TIM 151 KKN-T ini diharapkan tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga mampu mendorong keberlanjutan praktik baik di kalangan pengrajin kapal kayu di Kota Pekalongan, membuka jalan bagi modernisasi industri tradisional menuju era yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Editor: Handayat