JATENGKU.COM, Surabaya — “Jantung Kesehatan Anak” merupakan sebuah metafora yang tepat untuk menggambarkan peran dokter spesialis anak dalam menjaga dan memastikan tumbuh kembang serta kesehatan anak secara menyeluruh. Peran Pediatri bukan hanya sebagai agen kuratif, tetapi juga sebagai pencetus langkah promotif dan preventif lewat imunisasi. Selain perannya sebagai pihak yang melakukan penyuntikan, Pediatri juga turut andil dalam memberikan edukasi kepada orang tua agar mereka tidak ragu untuk membawa anaknya imunisasi.
Imunisasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap penyakit tertentu sehingga apabila terinfeksi, gejala dapat diminimalkan dan penularan dapat dicegah. Imunisasi merupakan hal vital yang harus didapatkan setiap anak karena imunisasi terbukti efektif untuk pencegahan penularan penyakit.
Program imunisasi rutin anak di Amerika Serikat yang mencakup sekitar 117 juta anak yang lahir antara tahun 1994–2023 diperkirakan telah berhasil mencegah 508 juta kasus penyakit, 32 juta kasus rawat inap, serta satu juta kematian dini akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (CDC, 2024).
Selain untuk mengantisipasi penularan penyakit, berdasarkan analisis data dari China Health and Retirement Longitudinal Study, ditemukan bahwa orang dewasa berusia di atas 45 tahun yang telah diimunisasi sebelum berusia 15 tahun memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik daripada individu yang tidak diimunisasi (Zhang et al., 2024).
Meskipun memberikan dampak yang baik bagi kesehatan, angka capaian imunisasi tidak selalu berbanding lurus dengan manfaat yang diberikan. Merujuk dari data terbaru Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2025, sebanyak 1.356.367 anak di Indonesia tidak menerima imunisasi dasar lengkap pada periode 2019–2023 (Kemenkes, 2025), angka ini menduduki posisi keenam tertinggi di dunia.
Tidak hanya itu, cakupan imunisasi bayi lengkap pada 2024 baru mencapai 41%, sedangkan imunisasi anak sekolah dasar berada di angka 42,6% Angka ini merupakan sebuah peringatan akan potensi terjadinya lonjakan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti difteri yang kasusnya mulai meningkat di beberapa daerah di Indonesia (Kemenkes, 2025).
Walaupun imunisasi terbukti memberikan dampak signifikan terhadap pertahanan tubuh dalam mencegah penyakit menular, orang tua masih sering kali ragu untuk membawa anaknya imunisasi. Berdasarkan laporan akhir kerjasama WHO, Kementerian Kesehatan, dan UNICEF pada 2020, terdapat kurang lebih 23% orang tua yang menolak untuk membawa anaknya imunisasi, sedangkan lebih dari 13% orang tua masih memiliki keraguan terhadap imunisasi (WHO-Kemenkes-UNICEF, 2020). Data ini menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan besar dalam mencapai cakupan imunisasi nasional sehingga hal ini masih menjadi fokus utama dalam strategi peningkatan edukasi serta kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Keraguan serta penolakan ini terjadi akibat berbagai macam faktor, seperti kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan dan pemerintah, kekhawatiran orang tua akan imunisasi yang dapat mencelakakan bayinya, hingga pertanyaan mengenai status halal dari vaksin yang digunakan. Hal ini tentu sangat disayangkan sebab apabila imunisasi tidak dilakukan secara merata, manfaatnya tidak dapat dirasakan secara optimal. Di sinilah peran Pediatri dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada orang tua terkait pentingnya imunisasi.
Mengapa edukasi harus diberikan oleh pediatri? Edukasi sebaiknya dipaparkan oleh Pediatri sebab Pediatri memang dituntut untuk berpikir kritis dalam mengidentifikasi serta merancang solusi atas problematika kesehatan anak melalui langkah promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga kompetensinya tidak dapat diragukan lagi. Selain itu, Pediatri juga memiliki akses pengetahuan terhadap imunopatologi, jadwal vaksin, dan manajemen Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang berfungsi untuk memastikan imunisasi berjalan dengan benar dan aman.
Untuk menghilangkan keraguan pada orang tua, Pediatri harus menggunakan teknik komunikasi yang baik serta penuh empati. Saat melakukan edukasi, Pediatri juga harus menyertakan data yang valid.
Berdasarkan Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi 7, ada beberapa langkah penyampaian edukasi kepada orang tua. Sebelum memberikan edukasi, membangun kepercayaan dengan keluarga merupakan hal yang fundamental, hal ini dapat dimulai dari mendengarkan keluh kesah serta kekhawatiran orang tua dengan seksama. Apabila orang tua sudah memberikan kepercayaan, edukasi dapat mulai diberikan.
Penyampaian edukasi dilakukan dengan tutur kata yang sopan serta tidak menggurui. Bahasa yang digunakan juga sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Pemahaman tentang imunisasi harus disertai fakta sehingga penting untuk menyertakan data yang valid, seperti data terkini tentang keamanan vaksin, data kejadian luar biasa (KLB), dan KIPI. Di samping itu, penekanan terhadap manfaat imunisasi yang jauh lebih besar daripada efek sampingnya harus tersampaikan dengan jelas.
Jika orang tua telah setuju untuk memberikan imunisasi kepada anaknya, risiko terjadinya efek samping, seperti demam, rewel, serta nyeri pada area suntikan juga harus disampaikan dengan gamblang. Prosedur penanganan KIPI juga harus dijelaskan untuk menjawab kekhawatiran orang tua.
Apabila anak terlambat untuk diimunisasi, strategi imunisasi kejar (catch-up) perlu disampaikan, penyampaiannya harus disertai pemaparan risiko penyakit yang dapat menyerang anak jika imunisasi tidak segera dilengkapi.
Tidak hanya tata cara edukasi kepada orang tua saja yang perlu digarisbawahi, menjalin hubungan yang baik dengan tokoh masyarakat, seperti pemuka agama dan pemimpin setempat juga harus dilakukan sebagai bentuk upaya pendekatan yang lebih holistik.
Meskipun edukasi telah disusun dengan matang, terdapat kendala lain yang menyebabkan informasi terkait imunisasi tidak tersampaikan secara komprehensif, mulai dari terbatasnya waktu konsultasi hingga beban kerja Pediatri yang terlalu tinggi. Maka dari itu, diperlukan solusi yang aplikatif dan realistis untuk menjadi jalan keluar dari hambatan tersebut.
Solusi pertama yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantangan di atas adalah dengan menyisipkan edukasi singkat di setiap kunjungan rutin tumbuh kembang anak. Informasi yang dijabarkan perlu mencakup tiga aspek penting dari imunisasi, yaitu manfaat dan risiko, jadwal imunisasi, dan ketersediaan vaksin. Pemaparan informasi terkait imunisasi yang bersifat repetitif ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua terhadap pentingnya imunisasi.
Selanjutnya, untuk mengatasi keterbatasan waktu konsultasi, penyampaian materi imunisasi dapat dilakukan melalui media digital, seperti video singkat dan pengingat di WhatsApp. Video singkat berdurasi 1–2 menit ini dapat ditayangkan di ruang tunggu poli agar waktu yang digunakan untuk menunggu giliran konsultasi menjadi lebih bermanfaat. Selain video, pesan pengingat di WhatsApp juga dapat diaplikasikan sebab orang tua cenderung menggunakan WhatsApp sebagai media utama untuk berkomunikasi.
Sebagai pelengkap, apabila diperlukan, kolaborasi dengan tokoh lokal, seperti influencer atau tokoh agama dapat menjadi langkah strategis untuk memikat kepercayaan masyarakat (Kemenkes, 2022; IDAI, 2024).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (2025) suspek kasus difteri meningkat hingga 943 kasus pada 2024. Kasus ini tersebar di 210 kabupaten dan kota di 33 provinsi. Selanjutnya, tercatat terdapat 417 suspek difteri, 50 diantaranya merupakan kejadian luar biasa, di 45 kabupaten dan kota di Indonesia. Angka ini merupakan data terbaru pada Agustus 2025 (Kemenkes, 2025). Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Prima Yosephine Berliana Yumiar Hutapea menyampaikan bahwa pencegahan difteri hanya dapat dilakukan dengan imunisasi lengkap dan merata sehingga peningkatan kasus ini adalah sebuah peringatan keras akan pentingnya pencegahan penyakit lewat imunisasi. Oleh karena itu, imunisasi bukan merupakan hal yang pantas diremehkan, tetapi merupakan urgensi yang harus segera dilengkapi untuk menuntaskan masalah kesehatan di Indonesia.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pediatri tidak hanya berperan sebagai agen kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Salah satu gerakan preventif yang dapat dilakukan pediatri adalah imunisasi. Walaupun imunisasi sudah terbukti secara klinis manfaatnya, masih banyak masyarakat yang meragukan keefektifan imunisasi. Oleh karena itu, Pediatri hadir sebagai agen yang memberikan edukasi serta melakukan tindakan langsung terhadap imunisasi. Dengan berlandaskan pengetahuan imunopatologi, jadwal vaksin, dan manajemen KIPI, Pediatri mampu menjadi garda terdepan dalam gerakan pro-Imunisasi. Penyampaian edukasi dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami serta penerapan nilai-nilai empati menjadi kolaborasi yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan orang tua terkait imunisasi. Solusi singkat, seperti pemanfaatan media digital dan kolaborasi dengan tokoh masyarakat menjadi pemanis untuk mengatasi isu anti-Imunisasi ini.
DAFTAR PUSTAKA
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024) Impact of Vaccination in the United States, 1994–2023. Atlanta (GA): CDC.
- Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. (2025) Cakupan Imunisasi Turun, Difteri Merebak Lagi di Indonesia [Online]. Banda Aceh: Dinkes Aceh Provinsi. Available at: https://dinkes.acehprov.go.id/berita/cakupan-imunisasi-turun-difteri-merebak-lagi-di-indonesia (Accessed: 11 November 2025).
- Hutapea, P.Y.B. (2025) Pernyataan Resmi tentang Kasus Difteri dan Pencegahan melalui Imunisasi Lengkap. Jakarta: Kemenkes RI.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2024) Panduan Praktik Pediatri dan Imunisasi. Jakarta: IDAI.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2024) Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi 7 Tahun 2024 [Online]. Jakarta: IDAI. Available at: https://www.idai.or.id/publications/buku-idai/pedoman-imunisasi-di-indonesia-edisi-7-tahun-2024?utm (Accessed: 11 November 2025).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022) Strategi Komunikasi dan Edukasi Imunisasi melalui Media Digital dan Kolaborasi Tokoh Masyarakat. Jakarta: Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024) Pedoman Imunisasi Indonesia Edisi 7. Jakarta: Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025) Data Suspek Difteri Tahun 2024–2025. Jakarta: Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025) Laporan Cakupan Imunisasi Nasional Tahun 2025. Jakarta: Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025) Pekan Imunisasi Dunia 2025: Ayo Lengkapi Imunisasi untuk Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas [Online]. Jakarta: Kemenkes RI. Available at:https://kemkes.go.id/id/pekan-imunisasi-dunia-2025-ayo-lengkapi-imunisasi-untuk-generasi-sehat-menuju-indonesia-emas (Accessed: 11 November 2025).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025) Seputar Imunisasi [Online]. Jakarta: Kemenkes RI. Available at:https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hari-pertama-kehidupan/seputar-imunisasi (Accessed: 11 November 2025).
- National Bureau of Economic Research. (2024) Childhood Immunization and Economic Outcomes [Online]. Cambridge (MA): NBER. Available at: https://www.nber.org/system/files/working_papers/w27217/w27217.pdf?utm(Accessed: 11 November 2025).
- Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. (2022)Buku Panduan PPDS-1 IKA FKUB/RSSA 2022-2026. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Available at: https://ppds.fk.ub.ac.id/ika/wp-content/uploads/2023/11/BUKU-KURIKULUM-2022-2026-1.pdf(Accessed: 11 November 2025).
- World Health Organization, Kementerian Kesehatan RI, UNICEF. (2020) Laporan Kerjasama tentang Imunisasi dan Cakupan Vaksinasi di Indonesia. Jakarta: WHO/Kemenkes/UNICEF.
- World Health Organization Regional Office for Europe. (2020) Routine Immunization for Children during the COVID-19 Pandemic in Indonesia: Perceptions of Parents and Caregivers [Online]. UNICEF Indonesia. Available at:https://www.unicef.org (Accessed: 11 November 2025).
Penulis: Muftianisa Khaliladianti Rahayu, Mahasiswi Universitas Airlangga







