JATENGKU.COM, Surabaya — Bekerja di bidang konstruksi merupakan hal yang kerap menjadi persoalan. Maraknya kasus kecelakaan sering kali menjadi kabar yang memprihatinkan. Dalam dunia konstruksi, tidak jarang kecelakaan terjadi akibat kelalaian pekerja. Kelalaian ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya pengetahuan mengenai potensi bahaya pekerjaan yang dilakukan, kurangnya pengawasan pada para pekerja yang mengakibatkan pekerja tidak bekerja sesuai standar, serta bisa juga disebabkan oleh faktor kurangnya fasilitas keselamatan yang memadai untuk pekerja seperti APD (Alat Pelindung Diri).

Dalam dunia konstruksi, pemakaian APD bersifat wajib dikarenakan APD memiliki fungsi untuk melindungi pekerja dari bahaya yang bisa ditimbulkan saat bekerja. Terdapat beberapa jenis APD Konstruksi yang wajib digunakan oleh pekerja saat bekerja atau berada di lingkungan konstruksi, yakni:

1. Helm Safety

Helm safety dirancang untuk melindungi kepala dari benturan dan benda tajam. Helm ini bersifat wajib digunakan karena apabila terdapat reruntuhan material yang tidak sengaja terjatuh, kepala pekerja masih bisa terlindungi.

2. Pelindung Mata

Dalam dunia konstruki, debu seringkali bertebaran dimana-mana. Adanya pelindung mata berfungsi agar mata pekerja tidak terinfeksi atau terpapar debu selama pekerjaan berlangsung. Selain itu, pelindung mata juga bisa melindungi mata dari sinar matahri yang terik.

3. Masker

Debu yang bertebaran dalam proyek konstruksi seringkali menyebabkan penyakit serius bila pekerja terpapar terlalu lama. Maka dari itu, dianjurkan bagi pekerja konstruksi untuk melindungi pernapasan mereka menggunakan masker agar tidak terpapar debu secara terus-menerus.

4. Ear plug atau pelindung telinga

Ear plug berfungsi untuk melindungi alat pendengaran atau telinga dari paparan bising secara langsung. Suara-suara yang ditimbulkan oleh alat konstruksi terkadang dapat menyebabkan risiko gangguan pendengaran terlebih bila tingkat kebisingan diatas 85Db. Maka dari itu, penggunaan ear plug sangat disarankan untuk mencaga sistem pendengaran.

5. Pelindung Tangan

Pelindung tangan diperlukan untuk pekerja pada bidang konstruksi untuk menghindari terkena luka abrasi atau luka akibat benda tajam. Dengan menggunakan pelindung tangan seperti sarung tangan, setidaknya pekerja bisa meminimalisir luka di tangan.

6. Alat Pelindung Jatuh atau Body Harness

Bekerja di bidang konstruksi tentunya melibatkan pekerjaan di ketinggian. Untuk meminimalisir adanya kecelakaan pada saat bekerja di ketinggian, pekerja diharuskan untuk menggunakan alat pelindung jatuh seperti yang telah diatur dalam Permenaker 09 Tahun 2016.

7. Alat Pelindung Kaki

Alat pelindung kaki seperti sepatu boots tentunya wajib untuk digunakan oleh pekerja konstruksi terkhusus untuk mereka yang berkontak langsung atau menggunakan mesin dalam proses pengerjaan proyek. Sepatu boots memiliki fungsi untuk melindungi kaki dari cedera atau bahaya yang bisa disebabkan oleh mesin atau alat konstruksi.

8. Rompi Safety

Rompi safety dapat membantu pekerja untuk mengurangi atau menghindari cedera saat berada di kawasan minim cahaya.

Dengan patuhnya pekerja dalam menggunakan APD tentunya bisa mengurangi adanya kecelakaan kerja atau paling tidak bisa mengurangi dampak kecelakaan kerja bila terjadi kecelakaan. Namun, kecelakaan akibat kerja tidak hanya disebabkan oleh kurangnya fasilitas keselamatan yang baik, namun bisa juga disebabkan karena minimnya pengetahuan mengenai standar keselamatan dan pengawasan kepada pekerja. Lantas, bagaimana cara untuk menanggulangi masalah tersebut?

Bekerja di bidang konstruksi merupakan hal yang berat. Seringkali, pekerja tidak menggunakan APD yang telah disediakan karena alasan kenyamanan. Maka dari itu, diperlukan pengawas untuk mengawasi pekerja yang sekiranya tidak mau menggunakan APD. Di sinilah, HSE memiliki peranan penting.

Menurut hasil wawancara yang kami lakukan di salah satu proyek konstruksi di Kampus B UNAIR, kami mendapatkan jawaban mengenai bagaimana seorang HSE memiliki peranan penting selama proyek konstruksi berlangsung. Menurut A, seorang HSE di Kampus B UNAIR, beliau memaparkan bahwa setiap pagi sebelum pekerjaan dimulai, akan dilakukan sesi komunikasi dua arah saat toolbox meeting.

Sesi ini dilakukan antara pengawas dan pekerja. Pengawas akan menjelaskan dan memberikan informasi terkait pekerjaan yang akan dilakukan di lapangan beserta risiko-risikonya. Dengan adanya komunikasi dua arah oleh pihak HSE, diharapkan pekerja dapat memahami apa saja APD yang mereka wajib kenakan agar mengurangi risiko akibat pekerjaan yang akan dilakukan di hari itu. Selain melakukan komunikasi dua arah, HSE yang bertugas sebagai pengawas juga sering kali melakukan koordinasi dengan operator dan pekerja bila diperlukan penggunaan alat berat.

Berdasarkan pemaparan oleh A, selalu ada pelaksana khusus yang mengarahkan operator sebelum pengoperasian alat berat seperti ekskavator. Bagi operator atau pekerja yang mengoperasikan alat berat juga tidak akan ditinggal sendirian dan akan selalu diawasi.

Apabila terdapat laporan mengenai kawasan yang tidak aman seperti lubang galian, HSE akan memasang safety line untuk memberikan tanda kepada pekerja yang berlalu lalang serta memperingati pekerja saat dilakukan toolbox meeting di pagi hari untuk berhati-hati dengan kawasan yang tidak aman tersebut.

Apabila terjadi sebuah insiden, maka pekerja bisa melaporkan kepada pihak pengawas lapangan yang mana dari pihak pengawas akan melapor ke owner sehingga bila insiden berkaitan dengan kecelakaan oleh pekerja bila langsung ditangani oleh tim medis.

Sumber:

  • Sarah, E. (2022). 8 Jenis APD Konstruksi Wajib Pakai dan Fungsinya. Diakses pada 8 Desember 2025, dari https://www.safetyworld.co.id/8-jenis-apd-konstruksi-wajib-pakai-dan-fungsinya

Penulis: Shafina Rahmadila Nurlaily, Mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga

Editor: Handayat