JATENGKU.COM, Tangsel — Indonesia tengah menghadapi paradoks yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Di satu sisi, sektor teknologi informasi berteriak kekurangan tenaga kerja. Di sisi lain, lebih dari satu juta sarjana baru mencari pekerjaan tanpa hasil. Keduanya terjadi di waktu yang sama, di negara yang sama, bahkan di bidang yang sama.
Badan Pusat Statistik mencatat, pada Februari 2025, jumlah sarjana yang menganggur di Indonesia menembus 1.010.652 orang angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, kebutuhan tenaga kerja di sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi diproyeksikan mencapai 1,98 juta orang pada tahun yang sama. Dua angka ini seharusnya saling mengisi. Kenyataannya, keduanya justru berjalan berlawanan arah.
Persoalannya bukan soal jumlah. Persoalannya adalah tentang kualitas dan relevansi.
Setiap tahun, Indonesia mencetak sekitar 600 ribu lulusan dari program studi berbasis informatika dan teknologi. Namun dari jumlah itu, hanya 2 persen yang benar-benar terjun sebagai tenaga IT profesional. Sisanya bekerja di bidang yang sama sekali tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikannya atau masih menunggu panggilan wawancara yang tidak kunjung datang.
Artinya, hampir 588 ribu lulusan per tahun meninggalkan bangku kuliah dengan ijazah teknik informatika, tetapi tanpa kompetensi yang dibutuhkan industri. Empat tahun belajar algoritma, pemrograman, jaringan komputer, dan basis data ternyata tidak cukup untuk menembus seleksi kerja di perusahaan teknologi.
Indonesia menargetkan kebutuhan 10 juta tenaga IT pada tahun 2030. Dengan laju produksi tenaga IT yang hanya menghasilkan sekitar 12 ribu orang per tahun, dalam satu dekade Indonesia hanya bisa menghasilkan 120 ribu tenaga IT. Selisihnya adalah 9,88 juta orang jurang yang mustahil ditutup jika tidak ada perubahan mendasar dalam sistem pendidikan.
Industri teknologi bergerak dalam hitungan bulan. Pada 2022, kemampuan prompt engineering hampir tidak dikenal. Pada 2025, kemampuan itu sudah menjadi syarat minimum di ratusan lowongan kerja. Sementara itu, kurikulum perguruan tinggi bergerak dalam siklus empat tahunan atau bahkan lebih lambat jika proses revisinya terhambat birokrasi.
Hasilnya bisa ditebak. Mahasiswa tingkat akhir mempelajari teknologi yang sudah ditinggalkan industri. Lulusan membawa kemampuan yang relevan tiga tahun lalu, bukan hari ini.
Para pengamat industri menyebutkan bahwa mahasiswa yang hanya mengandalkan pendidikan formal dari kampus paling banyak hanya memperoleh 30 persen dari kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Tujuh puluh persen sisanya harus diperoleh secara mandiri melalui proyek nyata, magang, pelatihan tambahan, atau kompetisi. Ironisnya, UKT tetap dibayar penuh untuk hasil yang hanya sepertiga dari kebutuhan nyata.
Sebagian pihak berpendapat bahwa kampus bukan tempat pelatihan kerja. Perguruan tinggi, dalam pandangan ini, adalah ruang untuk membangun fondasi berpikir logika, metodologi, dan pemahaman konseptual bukan sekadar tempat menghapal sintaks pemrograman terkini.
Pandangan itu tidak sepenuhnya keliru. Kemampuan berpikir komputasional dan pemahaman arsitektur sistem adalah fondasi yang tidak bisa digantikan oleh kursus online tiga bulan.
Namun fondasi tanpa bangunan di atasnya tidak memiliki fungsi. Teori tanpa koneksi ke praktik nyata hanya menghasilkan lulusan yang pandai menjelaskan konsep, tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah di tempat kerja. Industri tidak membutuhkan orang yang bisa menghafal definisi machine learning industri membutuhkan orang yang bisa membangun model machine learning untuk memecahkan masalah bisnis nyata.
Pemerintah sebenarnya pernah mengambil langkah tepat. Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat atau MSIB terbukti mampu mengurangi kesenjangan antara keahlian mahasiswa dan kebutuhan industri selama tujuh batch pelaksanaannya hingga 2024. Ribuan mahasiswa mendapat pengalaman kerja nyata di perusahaan teknologi terkemuka sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh kelas teori manapun.
Namun memasuki 2025, program ini mengalami perubahan signifikan akibat perombakan struktur kementerian. Jumlah mitra yang tersedia turun drastis. Jembatan yang sedang dibangun itu kini sedang diguncang tepat di saat paling dibutuhkan.
Kondisi ini membuktikan bahwa solusi yang bergantung pada satu program rentan terhadap perubahan kebijakan. Pembenahan harus masuk ke dalam kurikulum itu sendiri, bukan hanya menjadi program tambahan di luar mata kuliah.
Ada tiga pihak yang perlu bergerak bersamaan dan tidak ada yang bisa menunggu pihak lain lebih dulu.
Perguruan tinggi perlu berani merevisi kurikulum secara berkala, minimal dua tahun sekali, dengan melibatkan praktisi industri secara langsung. Mata kuliah berbasis proyek nyata harus menjadi inti pembelajaran, bukan sekadar pelengkap di semester akhir.
Industri perlu berhenti hanya mengeluh soal kualitas lulusan dan mulai terlibat aktif dalam proses pendidikan. Perusahaan teknologi besar memiliki sumber daya untuk berkontribusi baik melalui program magang terstruktur, kurikulum kolaboratif, maupun program mentoring langsung ke kampus-kampus daerah.
Pemerintah perlu memastikan program jembatan semacam MSIB tidak mati suri di tengah pergantian kabinet. Keberlanjutan program ini harus dijamin secara regulasi, bukan bergantung pada prioritas menteri yang sedang menjabat.
Dan bagi mahasiswa ijazah bukan garis finish. Di era ketika belajar mandiri bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tidak ada alasan untuk lulus tanpa satu pun proyek nyata, kontribusi open source, atau pengalaman magang yang bisa dibuktikan kepada calon pemberi kerja. Portofolio berbicara lebih keras dari transkrip nilai.
Satu juta lebih sarjana menganggur bukan sekadar statistik tahunan. Mereka adalah representasi nyata dari sistem yang gagal menyelaraskan antara apa yang diajarkan dan apa yang dibutuhkan. Selama kesenjangan itu dibiarkan melebar, angka pengangguran sarjana akan terus naik tidak peduli seberapa banyak kampus baru dibangun atau seberapa besar anggaran pendidikan ditingkatkan.
Lowongan IT yang melimpah dan lulusan IT yang menganggur adalah dua sisi dari satu kegagalan yang sama. Kegagalan untuk bergerak bersama. Kegagalan untuk saling terhubung.
Perubahan nyata hanya terjadi ketika kurikulum bergerak secepat industri bergerak. Tidak lebih lambat. Tidak setengah-setengah.
