JATENGKU.COM, PEKALONGAN — Dalam upaya menghadirkan potret Desa Blacanan secara utuh dan bermakna, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro merangkai angka menjadi cerita pada Senin (21/7/2025). Buku “Menelisik Blacanan dalam Angka” menjadi buah karya yang merekam kehidupan desa lewat data. Bukan sekadar deretan statistik, tetapi juga wajah dan napas Blacanan yang nyata.

Blacanan tak hanya bisa diceritakan lewat lisan, tapi juga lewat angka. Melalui program sosial kemasyarakatan KKN Tematik Universitas Diponegoro, Nada Sylvina mahasiswa program studi Statistika, Universitas Diponegoro, menghadirkan sebuah karya berbasis data berjudul “Menelisik Blacanan dalam Angka”. Buku ini disusun sebagai upaya mengenalkan Desa Blacanan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, secara lebih mendalam melalui data dan visual yang membumi.

Buku ini menyajikan potret lengkap Desa Blacanan dalam beberapa bab tematik. Pada bab awal, pembaca diajak memahami geografi desa, mulai dari luas wilayah, batas-batas desa, jumlah RT, RW, serta pembagian wilayah ke dalam empat dusun. Di bagian ini juga disertakan peta desa sebagai gambaran visual wilayah Blacanan secara utuh.

Bab selanjutnya menyajikan data kependudukan, yang mencakup jumlah total penduduk, distribusi penduduk berdasarkan jenis kelamin, serta status perkawinan. Semua disajikan dalam bentuk grafik dan visualisasi yang mudah dipahami.

Potret isi buku (Sumber: Dokumen Pribadi)

Tidak berhenti pada angka-angka kependudukan, buku ini juga menggali sisi sosial dan kesejahteraan penduduk. Data pendidikan mulai dari tingkat tertinggi yang dicapai penduduk hingga ketersediaan fasilitas pendidikan formal dan non-formal tercatat secara rinci.

Fasilitas ibadah, Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat), keberadaan BUMDes, serta kondisi kesehatan warga juga menjadi sorotan. Di bidang kesehatan, buku ini mencatat masih terdapat 11 anak yang mengalami stunting. Meski begitu, desa telah memiliki layanan dasar berupa satu Pondok Bersalin Desa, satu bidan, serta satu dukun bersalin terlatih yang turut mendampingi masyarakat.

Bagian terakhir dari buku ini membahas tentang profesi penduduk. Lima profesi dengan jumlah terbanyak yaitu pelajar, ibu rumah tangga, buruh harian lepas, belum bekerja, dan buruh tani, ditampilkan secara visual. Selain itu, beragam profesi lain seperti wiraswasta, penjahit, dan pekerja sektor informal lainnya juga turut disebutkan.

Tak hanya menyajikan data, Menelisik Blacanan dalam Angka juga dilengkapi dengan foto-foto dokumenter yang menangkap aktivitas dan wajah keseharian desa. Mulai dari potret tambak, jalan yang terdampak rob, warga yang bersepeda, hingga suasana sekolah dan fasilitas umum lainnya, semuanya menjadi pelengkap cerita di balik angka.

Melalui buku ini, mahasiswa KKN UNDIP berharap data tak hanya menjadi kumpulan angka, tapi juga cermin kehidupan desa yang bisa dibaca, dipahami, dan dijadikan pijakan dalam pembangunan. Sebab, di balik setiap angka, ada cerita yang tak kalah penting untuk disampaikan.

Editor: Handayat