Cerpen berjudul Nasihat Kiai Luqni ini dikarang oleh A. Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. Terbit pertama kali di Jawa Pos pada tanggal 12 November 2006, dan kini terkumpul dalam Kumpulan Cerpen Konvensi yang dicetak pertama kali pada tahun 2018. Hal yang membuat karya ini menarik untuk dikaji adalah cerpen ini berbeda dari karya sastra islami yang kerap berfokus pada persoalan percintaan atau konflik moral tokohnya, cerpen ini justru menceritakan fenomena sosial-keagamaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat muslim, yaitu acara haul. Hal ini bisa terjadi karena latar belakang pengarang yang adalah seorang sastrawan sekaligus kiai, yang memungkinkan penggambaran peristiwa dalam cerpen ini mempunyai warna tersendiri kerna pengalaman dan kedekatan pengarang dengan kehidupan pesantren dan masyarakat muslim.
Cerpen ini menceritakan tentang nasihat yang disampaikan oleh Kiai Luqni pada acara haul Kiai Akrom. Pada ceramahnya, Kiai Luqni mengajak para hadirin untuk merenungkan hakikat kematian agar mempersiapkan diri sebelum kematian datang, sebab tidak seorang pun tahu kapan ajalnya akan tiba. Dengan bahasa yang sederhana, ceramah tersebut mendorong para hadirin bahkan pembaca agar intospeksi sebagai bekal menghadapi kematian. Melalui rangkaian nasihat tersebut, cerpen memunculkan refleksi mendalam tentang hubungan antara kehidupan, kebiasaan manusia, dan kematian yang menjadi akhir perjalanan setiap insan.
Salah satu kelebihan cerpen ada pada gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Meskipun mengangkat tema religius dan penuh akan nilai-nilai kehidupan dan kematian, cerpen ini disajikan dengan bahasa yang sederhana, ringan, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca. Penulis tidak banyak menggunakan istilah keagamaan yang rumit sehingga pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa mengurangi kedalaman maknanya. Kesederhanaan gaya bahasa tersebut justru menjadi kekuatan karya ini karena mampu menyampaikan refleksi yang mendalam tentang kehidupan dan kematian tanpa terkesan menggurui. Sedangkan kekurangan cerpen ini adalah pengembangan tokoh dan konflik yang terbatas karena cerpen lebih berfokus pada penyampaian pesan.
Secara keseluruhan, Nasihat Kiai Luqni adalah cerpen yang sederhana tetapi penuh makna. Melalui kisah yang dekat dengan kehidupan masyarakat Muslim, pengarang menyampaikan pesan tentang pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan cara yang ringan dan mudah dipahami. Oleh karena itu, cerpen ini layak dibaca oleh berbagai kalangan, baik pembaca sastra maupun masyarakat umum. Dengan bahasa yang komunikatif serta pesan moral yang kuat, cerpen ini dapat menjadi bacaan yang mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna hidup dan bekal yang perlu dipersiapkan sebelum menghadapi akhir kehidupan.
Penulis: Siti Raihanah
