JATENGKU.COM, DEMAK – Permasalahan sampah rumah tangga seringkali menjadi isu krusial di wilayah pedesaan yang sedang berkembang. Minimnya infrastruktur pengolahan akhir serta kurangnya pemahaman mengenai pemilahan sampah di level rumah tangga menjadi tantangan tersendiri. Menjawab keresahan tersebut, Kelompok 1 KKN-T Tim 4 Universitas Diponegoro yang diterjunkan di Desa Purworejo, Kabupaten Demak, menggelar program edukasi komprehensif pada Jumat, 30 Januari 2026.
Mengusung tema besar “Penyuluhan tentang Peran Gender dalam Keluarga untuk Mendukung Kemandirian Sampah dan Hidup Sehat”, kegiatan ini menyasar kelompok strategis dalam struktur keluarga, yakni ibu-ibu warga RT 2 RW 04 Desa Purworejo. Kegiatan ini menjadi sebuah upaya pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek kesehatan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan inovasi sosial.
Pemilihan ibu-ibu RW 04 sebagai sasaran utama program bukanlah tanpa alasan. Dalam sosiologi pedesaan dan manajemen rumah tangga, perempuan (ibu) memegang peranan sentral sebagai manajer domestik. Merekalah yang paling sering berinteraksi dengan manajemen logistik harian, mulai dari belanja, memasak, hingga membuang sisa konsumsi.
Program ini bertujuan untuk membangun pandangan bahwa urusan sampah bukan hanya urusan petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama yang bisa dioptimalkan melalui pembagian peran dalam keluarga. Dengan memberdayakan ibu-ibu, diharapkan tercipta agent of change yang mampu menularkan kebiasaan baik kepada suami dan anak-anak di rumah.
Kegiatan edukasi ini dirancang secara terstruktur dalam tiga sesi materi yang saling berkesinambungan. Pendekatan yang digunakan adalah partisipatif, di mana peserta tidak hanya mendengarkan, namun juga diajak berdiskusi aktif mengenai kendala yang mereka hadapi sehari-hari.
Sesi pembuka sekaligus materi inti disampaikan oleh tiga mahasiswa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), yakni Dista, Jovian, dan Shandyka. Mengangkat tajuk inovatif “Cemara: Cermat Kelola Sampah Dari Rumah”, materi ini menitikberatkan pada perubahan perilaku dasar. Dalam paparannya, mereka menyampaikan bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari rumah dengan kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara sederhana. Sampah yang dibuang sembarangan, terutama di wilayah pesisir, dapat mencemari lingkungan, menjadi sumber penyakit, serta berdampak langsung pada kesehatan anak dan lansia. Selain itu, terdapat edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pengelolaan sampah rumah tangga, salah satunya yaitu pemanfaatan sisa dapur menjadi pupuk kompos sederhana sebagai upaya mengurangi volume sampah sekaligus menjaga kebersihan lingkungan pesisir.


Proses pembuatan pupuk kompos dengan memanfaatkan sampah dapur, Jumat (16/01/2026). (Dok. Tim KKN-T 4 Undip)
Sesi kedua yang disampaikan secara kolaboratif oleh Naila (Fakultas Teknik), Shaelly (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), serta Fala (Fakultas Teknik) berfokus pada Edukasi Sistem Pengelolaan Sampah Rumah Tangga secara Kolektif. Dalam paparan ini, mereka menekankan urgensi aksi kolektif warga untuk membentuk Bank Sampah Unit, yang mengubah pandangan pengelolaan sampah dari beban individu menjadi potensi ekonomi melalui sistem pilah, setor, dan tabung. Guna mendukung keberhasilan infrastruktur sosial tersebut, tim mahasiswa juga memaparkan inovasi teknis berupa penentuan lokasi potensial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Peta ini menjadi panduan vital bagi warga untuk memilih titik kumpul sampah yang strategis, mudah diakses, serta dipastikan aman dari ancaman banjir rob yang kerap melanda kawasan pesisir Desa Purworejo.
Sesi penutup yang dibawakan oleh Irfan (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan) dan Muqodas (Fakultas Teknik) menyoroti ancaman serius mikroplastik bagi ekosistem pesisir serta solusi kreatif melalui metode Ecobrick. Dalam paparannya, Irfan menjelaskan bahaya mikroplastik yang dapat mencemari rantai makanan laut dan berdampak buruk bagi kesehatan manusia, mulai dari gangguan pencernaan hingga hormon. Merespons bahaya tersebut, Muqodas mendemonstrasikan pembuatan Ecobrick sebagai strategi pengolahan limbah plastik menjadi barang bernilai guna dengan memadatkan potongan sampah plastik ke dalam botol bekas hingga keras dan mencapai berat tertentu, limbah yang semula mencemari lingkungan dapat diubah menjadi material fungsional seperti kursi atau meja taman.


Demonstrasi pembuatan pupuk kompos kepada warga desa Purworejo, Selasa (20/01/2026). (Dok. Tim KKN-T 4 Undip)
Melalui kegiatan ini, diharapkan warga Desa Purworejo dapat mempraktikkan ilmu yang diperoleh, mulai dari memilah sampah organik untuk kompos dan sampah anorganik menjadi ecobrick. Sinergi antara mahasiswa dan warga ini diharapkan menjadi titik balik bagi Desa Purworejo menuju desa yang mandiri, bersih, dan sehat.
Artikel ini disusun oleh Kelompok 1 KKN-T 04 Tim 1 Universitas Diponegoro Tahun 2026. Lokasi Kegiatan: Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak.








