JATENGKU.COM, SURAKARTA — Saya membawa suara yang lahir dari angin pelabuhan beserta warisan budaya Majapahit yang lugas, lantang, dan tidak haus validasi. Sebagai mahasiswa rantau asal Jawa Timur, saya belajar menyesuaikan diri di tengah budaya Jawa Tengah yang lebih halus serta berhati-hati dalam bertutur. Melalui pengalaman itu, saya menyadari bahwa intonasi dapat menjadi jurang pemisah yang lebih lebar dibandingkan sekadar perbedaan kosakata.
Kontras antara dialek Arekan (Jawa Timuran) yang lugas dan berintonasi tinggi, dengan dialek Mataraman yang halus dan berintonasi rendah, kerap menimbulkan salah paham. Suatu kali, karena terkejut melihat tingkah laku seorang teman, saya spontan bertanya, “Lho, kowe ki lo nyapo?” atau “Koweki lo lapo se?” yang berarti “Lho, kamu itu kenapa?”. Bagi saya, itu hanyalah ekspresi spontan, namun teman saya menanggapinya “Santai wae to, gak usah ngegas!” dengan tersenyum, seolah saya baru saja melontarkan teguran penuh emosi. Saat itulah kesadaran muncul ritme dan logat khas Jawa Timuran yang tegas, sering dijuluki “Jawa Timur keras”, kerap disalah artikan sebagai kemarahan, padahal itu hanyalah cara komunikasi yang melekat sejak lahir. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam komunikasi antar daerah terutama di Pulau Jawa yang kaya ‘unggah-ungguh’, kita tidak hanya memilih kata, tetapi juga menyesuaikan cara menyampaikannya.
Bagi mahasiswa rantau, menyesuaikan ritme bertutur bukan sekadar sopan santun, tetapi tantangan sosial sekaligus akademis. Mampu “meredam” nada bicara agar terdengar lebih santun di Mataram adalah bentuk penghormatan dan upaya membangun jembatan budaya. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa logat bukan sekadar cara mengucapkan kata, tetapi identitas yang melekat sejak lahir. Ironisnya, ketika identitas itu keluar dari tanah kelahiran, ketegasan dan kejujuran orang Jawa Timur sering ditafsirkan keliru sebagai bentuk kekasaran. Stereotipe “kasar” ini muncul karena penilaian lebih dipengaruhi oleh ritme, intonasi, dan tekanan suara daripada makna kata itu sendiri. Misalnya, frasa “bajingan” terdengar ringan bila diucapkan pelan ala Jawa Tengah, tetapi terasa tajam jika diucapkan dengan tekanan khas Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa yang dipersoalkan bukan kosakata, melainkan budaya komunikasi di baliknya.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Michael Lam melalui tulisannya di Quora, bahwa masyarakat Jawa Timur dibentuk oleh akar budaya egaliter dan terus terang warisan panjang dari peradaban Majapahit dan Kadipaten Surabaya yang tidak sepenuhnya tersentuh budaya Mataram. Melalui kultur seperti ini, kejujuran ekspresi dihargai lebih tinggi daripada keindahan ujaran A ya tetap A, B ya tetap B. Ketegasan bukan bentuk agresi, melainkan ekspresi ketulusan. Sementara itu, di Jawa Tengah, harmoni sosial dijaga melalui ‘unggah-ungguh’ serangkaian tata krama, basa-basi, dan pemilihan diksi yang halus agar tidak menyinggung perasaan. Faktor geografis dan ekonomi turut membentuk karakter bahasa Jawa Timur. Revi Soekatno (2020) dan Eka Nanda Trisnawan (2022) melalui tulisan mereka di Quora, jarak dari pusat kekuasaan di Solo-Yogyakarta membuat budaya Mataram tidak sepenuhnya menembus Jawa Timur. Alam yang lebih kering dan keras, dipadu dengan dominasi perdagangan di kota-kota pelabuhan seperti Surabaya, melahirkan masyarakat yang lugas, tegas, dan terbiasa berbicara apa adanya. Sebaliknya, masyarakat Jawa Tengah yang banyak petani menekankan sopan santun dan harmoni dalam komunikasi, sehingga bahasa mereka terdengar lebih halus dan terjaga ritmenya.
Di tanah Jawa, dua corak bahasa tumbuh dari akar yang sama, namun berkembang menuju arah yang berbeda. Wilayah timur mempertahankan ketulusan makna, sedangkan wilayah tengah menjunjung harmoni kata. Ketika keduanya berjumpa, seharusnya bukan pertentangan yang muncul, melainkan kesadaran bahwa setiap tutur lahir dari jiwa budaya yang membentuknya. Meskipun sama-sama berada di bawah payung budaya Jawa, kedua wilayah tersebut memiliki logika bahasa yang berbeda. Perbedaan ini menjadikan pertemuan di antara keduanya tidak selalu mudah, bahkan kerap menimbulkan gesekan. Di balik perbedaan itu tersimpan pelajaran berharga tentang keberagaman cara berkomunikasi. Bahasa tidak semata-mata untuk didengar, tetapi juga perlu dipahami dari nilai budaya yang melandasinya. Apa yang terdengar “kasar” mungkin merupakan bentuk kejujuran, sementara yang tampak “halus” bisa jadi merupakan cara halus untuk menjaga jarak.
Pengalaman merantau dan pertemuan dengan beragam latar belakang budaya pada akhirnya mengajarkan lebih dari sekadar cara bertahan hidup di tanah orang. Merantau mengajarkan seni menakar suara, menurunkan volume tanpa mematikan karakter, dan memilih jeda tanpa mengorbankan kejujuran. Interaksi dengan berbagai dialek dan intonasi menumbuhkan keinginan untuk berbicara lebih pelan, bukan semata agar terdengar santun, melainkan demi memastikan pesan yang dibawa tidak tertelan oleh prasangka. Sebab, kehalusan bukan hanya lahir dari rangkaian kata, melainkan dari niat dan kesungguhan hati. Tidak ada kehendak untuk meminta logat Jawa Timur dipuji atau diagungkan. Harapannya sederhana supaya ia dipahami dan diterima apa adanya. Hal ini bukan tentang pembenaran diri, tetapi pengakuan bahwa setiap aksen membawa rumahnya masing-masing. Kami mungkin tidak selalu mengucapkan “monggo kersa” dengan unggah-ungguh yang dirapal halus, tetapi kami yang datang paling dulu saat kawan membutuhkan pertolongan. Kami mungkin bertanya “nyapo?” alih-alih “kenapa?”, namun itu adalah sapaan keingintahuan, bukan bentuk ajakan bertikai. Logat boleh saja terdengar keras, tetapi hati tetap lapang, lebih luas dari suara itu sendiri.
merantau menuntut keluwesan dalam berbaur. Pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” tetap menjadi pegangan erat. Namun, ada satu pelajaran penting yang dapat ditambahkan: langit boleh dijunjung, tetapi tanah asal jangan sampai dilupakan. Adaptasi tidak berarti menenggelamkan identitas. Berbaur tidak selalu harus berarti larut. Jika perbedaan dipandang sebagai ancaman, seseorang akan sibuk menyembunyikan suara. Sebaliknya, jika perbedaan diakui sebagai kekayaan kisah, kita akan belajar saling mendengar, bukan saling menuduh.
Tidak perlu tergesa-gesa dalam menyimpulkan amarah hanya dari nada yang meninggi, atau menilai niat melalui ritme suara. Logat bukan sekadar perkara keras atau halus, melainkan arsip budaya yang menyimpan ingatan kolektif dan diwariskan turun-temurun. Di dalam logat terdapat keberanian untuk tetap setia pada jati diri di tengah dunia yang perlahan menuntut keseragaman. Biarlah suara membawa jejak tempat lahir bukan sebagai bentuk perlawanan, melainkan tanda penghormatan. Sebab betapapun sederhananya, suara adalah rumah terakhir yang selalu dibawa ke mana pun.
Penulis:

Vivi Rohmawati adalah mahasiswi aktif semester tiga Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Tulisan opini ini menjadi langkah awalnya dalam dunia penulisan. Ia mulai menulis sebagai cara untuk menyalurkan gagasan, melatih ketajaman analisis, serta membiasakan diri menyusun argumen secara runtut. Melalui setiap paragraf, ia berusaha menghadirkan ide yang tidak hanya informatif, tetapi juga mudah dipahami dan bermakna bagi pembaca.
