Wonosobo, 27 Januari 2026 – Upaya pencegahan stunting membutuhkan lebih dari sekadar wacana, ia memerlukan kesadaran kolektif yang diterjemahkan dalam tindakan nyata. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa KKN 173 Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar kegiatan bertajuk “Masakan Murah dan Mudah untuk Pencegahan Stunting: Sosialisasi dan Demonstrasi Memasak Camilan Cegah Stunting sebagai Upaya Pemberdayaan Keluarga melalui Keterlibatan Masyarakat” di Balai Desa Garung Lor, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Kegiatan yang dihadiri oleh 30 peserta ini melibatkan kader posyandu, ibu-ibu PKK, serta para ibu yang memiliki balita. Program ini dirancang sebagai ruang belajar bersama yang mengintegrasikan pemahaman konseptual dan praktik langsung dalam upaya mencegah stunting.
Pelaksanaan program ini berada di bawah bimbingan Prof. Dr. sc.agr. Ir. Adi Ratriyanto., S.Pt., M.P., IPU., ASEAN Eng, sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-2 (Zero Hunger) dan tujuan ke-3 (Good Health and Well-being) yang berfokus pada penghapusan kelaparan serta peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Urgensi kegiatan ini tidak terlepas dari kondisi Desa Garung Lor yang masih menghadapi isu stunting dengan tingkat yang relatif tinggi. Situasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan pengetahuan gizi, pola asuh dan pola makan anak yang belum ideal, hingga kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian salak dengan pendapatan yang tidak stabil.
Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan yang tidak sesuai usia, melainkan kondisi kekurangan gizi kronis yang berdampak luas pada perkembangan kognitif, kesehatan jangka panjang, dan kualitas sumber daya manusia. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan belajar dan produktivitas yang rendah saat dewasa. Sebagaimana disampaikan dr. Maria Galuh selaku Dokter Spesialis Anak RS Universitas Sebelas Maret, dalam jangka pendek stunting meningkatkan risiko kesakitan, kematian, dan penyakit infeksi, sedangkan dalam jangka panjang dapat menurunkan kemampuan kognitif, IQ, serta kapasitas fisik. Karena itu, pencegahan stunting harus dilakukan secara komprehensif sejak tingkat keluarga melalui pemenuhan gizi optimal, pola asuh yang tepat, dan peningkatan kesadaran kesehatan sejak dini.
Sebagai langkah awal yang strategis, kegiatan dibuka dengan sosialisasi yang disampaikan oleh Ibu Yola, ahli gizi dari Puskesmas II Sukoharjo, Wonosobo. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa stunting disebabkan oleh kekurangan nutrisi jangka panjang dan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari asupan gizi, pemberian ASI, kondisi kesehatan, sanitasi, hingga pola asuh dan kondisi ekonomi keluarga. Sosialisasi berlangsung dialogis, dengan peserta aktif bertanya dan berbagi pengalaman, menunjukkan meningkatnya kesadaran bahwa pencegahan stunting harus dimulai dari rumah melalui pemenuhan gizi seimbang berbasis bahan pangan lokal yang terjangkau
Di tengah kegiatan, Ketua KKN 173 UNS, Ryandito Arya Pratama, menegaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan memberikan informasi, tetapi juga membangun pemahaman yang utuh mengenai stunting beserta solusi konkret yang dapat diterapkan masyarakat.
“Kegiatan ini kami hadirkan untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh kepada masyarakat mengenai stunting, mulai dari penyebab hingga cara mengatasinya. Salah satu langkah paling sederhana namun berdampak besar adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik. Kami berharap masyarakat Desa Garung Lor dapat memanfaatkan bahan yang tersedia dengan harga terjangkau untuk mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengantar menuju demonstrasi memasak sebagai wujud penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan menu sehat. Menu pertama, puding labu kuning, memanfaatkan bahan lokal seperti labu, susu UHT, dan agar-agar yang diolah secara sederhana menjadi camilan bergizi bagi anak. Menu kedua, rolade tahu ayam, difokuskan pada pemenuhan protein melalui perpaduan tahu, dada ayam, telur puyuh, dan sayuran yang dikukus lalu digoreng hingga matang.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka mencoba, bertanya, dan berdiskusi mengenai variasi menu yang dapat dikembangkan di rumah dengan biaya terjangkau. Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung lancar dan memberikan dampak positif karena mengintegrasikan edukasi dan praktik, sehingga meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sekaligus komitmen bersama dalam mencegah stunting. Dari ruang sosialisasi hingga dapur demonstrasi, Desa Garung Lor menunjukkan bahwa membangun generasi sehat dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah.
Penulis : Ryandito Arya Pratama









