JATENGKU.COM, SEMARANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU-45 Universitas Diponegoro kembali menunjukkan kontribusinya dalam pembangunan desa melalui penyusunan “Buku Profil Dusun Sironjang & Dukuh” di Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Kegiatan KKN ini dilaksanakan sepanjang tahun 2025 di bawah bimbingan dan pengawasan langsung dari Prof. Ir. Bambang S., M.Agr.Sc., Ph.D., IPU. Buku profil tersebut disusun sebagai bentuk dokumentasi kearifan lokal, sejarah desa, kondisi sosial ekonomi, hingga potensi budaya dan pariwisata yang selama ini belum banyak diketahui oleh publik.

Salah satu hal yang menonjol dalam kegiatan ini adalah keberhasilan mahasiswa dalam menggali informasi tentang sejarah kelurahan dan asal-usul nama wilayah setempat. Nama-nama unik seperti Sibagus, Ngrandon, dan Sidobol ternyata menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas kuat bagi warga setempat.
Selain itu, Kelurahan Pakintelan juga dikenal sebagai “Kelurahan Pancasila” karena keragaman agama warganya, yang hidup rukun meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda seperti Islam, Buddha, Katolik, Kristen, dan aliran kepercayaan.
Mahasiswa KKN-T UNDIP juga turut memetakan potensi wisata alam dan budaya yang dimiliki desa, salah satunya adalah Sendang Curug Sari. Sendang ini merupakan sumber mata air alami yang indah dan dipercaya sebagai tempat pemandian para dayang istana di masa lampau. Selain menawarkan panorama yang menyejukkan, keberadaan Sendang Curug Sari juga menjadi simbol spiritual dan warisan sejarah yang penting bagi masyarakat Dusun Sironjang.
Di lokasi yang sama, mahasiswa juga menyoroti eksistensi seni Kuda Lumping Turonggo Langen Budaya (TULABU) yang masih eksis hingga kini. Komunitas ini terus melestarikan kesenian tradisional melalui pertunjukan rutin yang menggambarkan semangat perjuangan dan keberanian, lengkap dengan atribut kuda buatan dan tarian khas.
Dari sisi ekonomi, mahasiswa juga mengangkat keberadaan Pasar Krempyeng, pasar rakyat yang hanya beroperasi setiap minggu Kliwon dan Legi. Pasar ini lahir dari inisiatif warga bersama Paguyuban Sendang Curug Sari, dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Melalui kerja sama dengan kelompok DAWIS, pasar ini tidak hanya menjadi ruang jual-beli produk kuliner, hasil pertanian, dan kerajinan tangan, tetapi juga mempererat ikatan sosial antarwarga serta mendorong tumbuhnya UMKM desa secara berkelanjutan.
Selain mendokumentasikan kondisi sosial budaya dan ekonomi saat ini, mahasiswa juga menggali fakta sejarah terkait penyebaran agama Buddha di wilayah Pakintelan. Salah satu tokoh penting adalah Bhikkhu Ashin Jinarakkhita yang datang ke Indonesia pada tahun 1955.
Ia sempat tinggal di Semarang berkat bantuan Oei Tiong Tjio dan kemudian dipindahkan ke vila milik Goei Thwan Ling, seorang pengusaha perkebunan terkenal. Selama tinggal di sana, Bhikkhu Jinarakkhita mengadakan peringatan 2500 tahun Buddha Jayanti di Borobudur yang bahkan mendapat sambutan tertulis dari Presiden Soekarno.
Terinspirasi oleh semangat tersebut, Goei Thwan Ling menghibahkan tanah seluas 80 hektare dan mendirikan Yayasan Buddha Gaya serta membangun Wihara 2500 Buddha Jayanti di Bukit Kasap, yang menjadi wihara pertama di Indonesia. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan agama Buddha di Indonesia dan menjadi bagian dari warisan sejarah Kelurahan Pakintelan.


Keseluruhan program KKN-T UNDIP di Kelurahan Pakintelan tidak hanya berdampak pada masyarakat lokal dalam bentuk pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga berhasil menguatkan identitas budaya desa serta memperkenalkan kekayaan lokal kepada masyarakat luas.
Buku profil yang disusun oleh mahasiswa menjadi salah satu bentuk warisan dokumentatif yang diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah desa maupun warga untuk pengembangan wilayah ke depannya.
Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan berbasis potensi lokal, kegiatan KKN ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menjadi agen perubahan yang nyata bagi kemajuan desa.











