JATENGKU.COM, BATANG – Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 41 melaksanakan kegiatan inovasi pertanian berupa alat monitoring kelembaban tanah di Dusun Cepoko, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, pada Kamis (17/7/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk membantu petani dalam menentukan waktu penyiraman yang tepat dan efisien melalui penerapan teknologi sederhana berbasis sensor kelembaban tanah.

Penerapan alat ini merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung efisiensi penggunaan air, terutama saat musim kemarau dan ketika sumber air terbatas.

Alat monitoring ini menggunakan sensor kapasitif yang mampu membaca kadar kelembaban tanah. Hasil pembacaan ditampilkan melalui indikator LED serta layar LCD, yang secara visual menunjukkan apakah tanah memerlukan penyiraman atau tidak.

Apabila kelembaban tanah di bawah 50%, LED merah akan menyala sebagai peringatan bahwa tanah dalam kondisi kering. Sementara jika kelembaban di atas 50%, LED biru menyala menandakan bahwa tanah masih cukup basah dan tidak perlu disiram. Sistem ini dibangun dengan komponen sederhana seperti Arduino Nano V3.0 Type-C, sensor kelembaban kapasitif, LCD I2C, serta sumber daya dari baterai dan saklar manual.

Muhammad Daffa Raihan, mahasiswa KKN-T UNDIP sekaligus pengembang alat, menjelaskan bahwa alat ini merupakan bentuk teknologi tepat guna yang murah namun sangat bermanfaat bagi petani. “Kami ingin petani tidak lagi menebak-nebak kapan harus menyiram. Alat ini menjadi indikator yang cepat, praktis, dan mudah digunakan,” ujar Daffa.

Kegiatan ini juga melibatkan uji coba langsung alat di lahan pertanian milik warga Dusun Cepoko, serta sosialisasi kepada kelompok tani yang dilaksanakan di green house PSDKU UNDIP Batang. Petani diajak mencoba secara langsung serta memahami cara kerja alat yang dirancang dengan biaya pembuatan kurang dari Rp 200.000,-.

Mahasiswa KKN-T UNDIP Tim 41 tengah menjelaskan cara kerja alat monitoring kelembaban tanah berbasis sensor kepada kelompok tani Dusun Cepoko dalam kegiatan sosialisasi teknologi di greenhouse PSDKU UNDIP Batang pada Kamis (17/7/2025).

Tidak hanya itu, alat ini juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut dengan sistem irigasi otomatis menggunakan pompa air. Daffa menambahkan bahwa jika dikembangkan, alat ini bisa menjadi bagian dari sistem pertanian cerdas (smart farming) yang terjangkau untuk skala desa.

“Kami harap teknologi sederhana seperti ini bisa menjangkau lebih banyak petani. Tidak harus mahal untuk bermanfaat,” tambahnya.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat, khususnya kelompok tani Dusun Cepoko. Para peserta sosialisasi menyambut baik pengenalan alat karena dinilai praktis dan aplikatif di lapangan. Dengan adanya alat ini, petani dapat mengambil keputusan penyiraman dengan lebih tepat, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian mereka.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pertanian di desa serta memperkuat kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam membangun desa berbasis teknologi dan kebutuhan lokal.

Editor: Handayat