JATENGKU.COM, REMBANG — Desa Punjulharjo di Kecamatan Rembang selama ini sudah dikenal luas berkat dua daya tarik utamanya, yaitu Pantai Karang Jahe yang indah serta situs Perahu Kuno yang sarat sejarah. Namun, tidak banyak orang tahu bahwa desa ini juga memiliki kekayaan seni dan budaya yang sangat menarik untuk diangkat. Potensi inilah yang coba digali melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro.

Mahasiswa yang melaksanakan KKN-T di desa ini berupaya menghadirkan inovasi yang bukan hanya sekadar kegiatan rutin, tetapi juga mampu memberi dampak langsung bagi masyarakat. Fokus mereka adalah pada penguatan identitas wisata seni bahari dengan menonjolkan dua kegiatan utama: Pelatihan face painting untuk penari dan Pengenalan sejarah serta filosofi tembang macapat.

Sentuhan Kreatif lewat Face Painting

Salah satu tantangan dalam seni pertunjukan adalah bagaimana menarik perhatian penonton, baik dalam acara lokal maupun ketika tampil di depan wisatawan. Oleh karena itu, mahasiswa KKN-T mengadakan Pelatihan Make Up Artist (MUA) face painting untuk para penari dan remaja desa.

Dalam pelatihan ini, peserta diajari dasar-dasar tata rias panggung sekaligus teknik face painting yang lebih artistik. Tidak sekadar merias wajah, mereka juga dilatih agar hasil riasan bisa menyatu dengan karakter tarian yang ditampilkan. Dengan begitu, ekspresi penari lebih menonjol, penampilan jadi lebih memikat, dan tentunya meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.

Bagi para peserta, pengalaman ini sangat berharga. Banyak di antara mereka yang sebelumnya belum pernah mencoba riasan wajah khusus pertunjukan. Setelah mengikuti pelatihan, mereka merasa lebih percaya diri dan siap menampilkan kesenian lokal dengan sentuhan modern yang menarik.

Menyelami Filosofi Tembang Macapat

Selain memperindah penampilan seni tari, kegiatan KKN-T juga memberi ruang untuk menggali kembali warisan budaya Jawa yang selama ini mulai jarang diperhatikan, yaitu tembang macapat.

Macapat bukan sekadar lagu tradisional, melainkan karya sastra Jawa yang sarat dengan ajaran hidup, nilai moral, dan filosofi mendalam. Melalui kegiatan edukasi, generasi muda diajak untuk mengenal asal-usul macapat, memahami arti liriknya, sekaligus mencoba melantunkannya.

Banyak anak muda desa yang awalnya merasa asing dengan tembang ini. Namun setelah dipelajari bersama, mereka mulai menyadari bahwa macapat memiliki nilai luhur yang bisa dijadikan pegangan hidup. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan rasa bangga, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjaga budaya sama pentingnya dengan menjaga warisan alam.

Identitas Baru Wisata Seni Bahari Punjulharjo

Perpaduan antara seni tari dengan rias wajah modern dan tradisi macapat yang penuh filosofi menghadirkan identitas baru bagi Punjulharjo. Desa ini kini tidak hanya dikenal lewat pantai dan situs sejarahnya, tetapi juga melalui wisata seni bahari yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain.

Konsep ini mampu memperkaya citra wisata desa. Dengan adanya inovasi di bidang seni pertunjukan, Punjulharjo punya daya tarik lebih untuk dikunjungi wisatawan yang mencari pengalaman unik. Bahkan, konsep ini juga membuka peluang usaha baru di bidang tata rias, pelatihan seni, maupun penyelenggaraan festival budaya.

Manfaat dari kegiatan ini langsung terasa. Para penari tampil lebih percaya diri, remaja desa semakin mengenal budaya leluhur, dan masyarakat memperoleh keterampilan baru yang bisa dikembangkan. Selain itu, dokumentasi kegiatan berupa foto dan video menjadi aset penting. Materi ini dapat digunakan untuk promosi desa, baik melalui media sosial maupun agenda pariwisata resmi. Dengan promosi yang tepat, Punjulharjo berpeluang menjadi destinasi niche market, yaitu destinasi wisata dengan keunikan tersendiri dan target pasar yang lebih spesifik.

Program KKN-T ini memang hanya berlangsung sementara, tetapi manfaatnya bisa diteruskan dalam jangka panjang. Dengan dukungan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan komunitas seni, kegiatan seperti pelatihan rias, edukasi budaya, hingga festival seni bisa dijadikan agenda rutin. Harapannya, seni dan budaya lokal tidak hanya sekadar dilestarikan, tetapi juga menjadi sumber nilai ekonomi. Dengan begitu, Desa Punjulharjo dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata yang unik, bernilai budaya tinggi, dan berdaya saing.

Editor: Handayat