JATENGKU.COM, DEMAK – Kelompok D TIM 62 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik IDBU Universitas Diponegoro (UNDIP) menggagas serangkaian program inovatif berbasis ketahanan pangan padi dan jagung yang mencakup edukasi pertanian, pengendalian hama, pemanfaatan teknologi, hingga digitalisasi layanan publik.
Program ini tidak hanya menyasar peningkatan produktivitas pertanian, tetapi juga mendukung distribusi hasil panen, kesehatan masyarakat, serta promosi potensi desa ke ranah digital. Seluruh rangkaian kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tim 62 Kelompok D Tahun 2025.
Mereka hadir di Desa Menur untuk mengimplementasikan program pengabdian yang bersifat praktis, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat setempat.
Penyuluhan Pra-Produksi: Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Kegiatan dimulai pada tahap pra-produksi. Aulia, selaku mahasiswa agroekoteknologi, mengawali sosialisasi pengendalian hama. Dalam penyuluhan ini, ia menjelaskan jenis-jenis hama yang kerap menyerang tanaman padi dan jagung, siklus hidupnya, serta strategi pengendalian yang ramah lingkungan. Warga diajak memahami bahwa pencegahan sejak dini lebih efektif dibandingkan mengatasi kerusakan setelah terjadi.
Melanjutkan tahap ini, Diaz memperkenalkan alat perangkap hama serangga sederhana yang bisa dibuat dengan bahan yang mudah ditemukan di sekitar desa. Alat ini dirancang agar petani dapat melakukan pengendalian hama secara mandiri, tanpa harus bergantung pada pestisida kimia yang mahal dan berpotensi merusak lingkungan.
Tahap Produksi: Lawan Penyakit, Pulihkan Tanaman
Masalah kesehatan akibat hama tikus juga diangkat oleh Seraphine. Ia menyampaikan sosialisasi tentang leptospirosis, penyakit yang disebabkan bakteri dari urine tikus. Warga diedukasi tentang gejala, bahaya, serta langkah-langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk melindungi kesehatan keluarga sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Tak hanya itu, Bimo memaparkan teknologi pertanian terbaru melalui pupuk nanosilika. Dalam penjelasannya, nanosilika mampu mempercepat pemulihan tanaman setelah serangan hama, memperkuat ketahanan tanaman, dan meningkatkan produktivitas hasil panen. Warga antusias karena teknologi ini dinilai efektif dan mudah diterapkan.
Optimalisasi Lahan dan Ekonomi Petani
Pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga pengelolaan lahan dan perhitungan usaha. Kennas memperkenalkan peta tata guna lahan padi dan jagung di Desa Menur. Dengan peta ini, petani dapat mengoptimalkan penggunaan lahan sesuai dengan luasan lahan pertanian yang ada, sehingga hasil lebih maksimal dan keuntungan meningkat.
Dari sisi ekonomi, Yos mengajarkan cara sederhana menghitung laba rugi usaha tani. Petani diajak memahami berapa modal yang dikeluarkan, potensi keuntungan, hingga bagaimana meminimalkan kerugian pertanian. Pendekatan ini membantu petani membuat perencanaan usaha lebih matang.
Distribusi Hasil Panen dan Peran Pajak
Masalah distribusi hasil panen juga menjadi perhatian penting. Nirel menjelaskan bahwa distribusi hasil panen tidak dapat dipisahkan dari keberadaan kendaraan bermotor sebagai alat utama pengangkutan. Dalam hal ini, pajak kendaraan bermotor memiliki peran penting, karena dana dari pajak tersebut digunakan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur jalan yang dilalui kendaraan pengangkut hasil panen. Selain itu, dengan kendaraan yang taat pajak, kelancaran distribusi lebih terjamin karena kendaraan bisa beroperasi secara legal dan aman.
Sebagai pelengkap, Eisya melakukan sosialisasi digitalisasi pembayaran pajak kendaraan bermotor. Dengan sistem digital, masyarakat dapat membayar pajak lebih cepat, praktis, dan transparan. Harapannya, kepatuhan pajak meningkat sehingga pembangunan infrastruktur desa bisa berjalan lebih baik.
Kesehatan Keluarga dan Pengelolaan Pangan
Tak hanya fokus pada pertanian, warga juga mendapat edukasi kesehatan. Yovi memperkenalkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pengelolaan pangan. Langkah ini penting agar hasil panen yang dikonsumsi keluarga tetap higienis, bergizi, dan aman, sehingga meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Digitalisasi Desa: Website untuk Promosi dan Akses Informasi
Sebagai penutup, digitalisasi menjadi kunci pengembangan desa. Maria mempublikasikan potensi Desa Menur melalui website resmi desa. Website ini berisi informasi pertanian, UMKM, administrasi kependudukan desa, hingga agenda desa. Langkah ini diharapkan dapat membuka akses desa ke pasar yang lebih luas, menarik investor, dan memperkenalkan Desa Menur ke khalayak lebih luas.
Untuk memastikan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi ini, Hany memberikan standee banner informatif sebagai sarana pengenalaan website terhadap masyarakat desa setempat. Warga dijelaskan informasi mengenai cara mengakses informasi, memberikan masukan, dan cara optimalisasi pemanfaatan platform tersebut untuk mengenalkan potensi positif Desa Menur pada masyarakat lebih luas.
Harapan untuk Masa Depan Desa Menur
Rangkaian kegiatan ini mendapat apresiasi dari masyarakat. Warga merasa pengetahuan mereka bertambah, baik dari segi pengendalian hama, kesehatan, ekonomi, hingga teknologi. Dengan adanya sosialisasi terpadu ini, Desa Menur diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian, mempermudah distribusi hasil panen, menjaga kesehatan individu dan keluarga, serta memperkuat promosi desa secara digital.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini. Diharapkan dengan adanya pengenalan edukasi, teknologi, dan digitalisasi, Desa Menur bisa lebih maju dan mandiri,” ujar Bapak Suwarno, selaku ketua RT/RW 04/04 yang hadir dalam kegiatan sosialisasi.
Program ini menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan holistik – mulai dari edukasi pertanian, pemanfaatan teknologi, pengelolaan ekonomi, hingga digitalisasi – mampu mendorong desa menuju kemandirian dan kesejahteraan yang berkelanjutan.











