JATENGKU.COM, BATANG — Minimnya pencatatan keuangan dalam kehidupan sehari-hari petani menjadi perhatian serius di berbagai daerah di Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani kecil tidak melakukan pencatatan atas arus kas usaha tani maupun pengeluaran rumah tangga mereka. Hal ini berdampak pada lemahnya kemampuan pengelolaan usaha, rendahnya efisiensi, dan ketidakmampuan dalam merencanakan keuangan jangka panjang.
Salah satu wilayah yang turut mengalami fenomena tersebut adalah Dusun Cepoko, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, yang menjadi lokasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh mahasiswa Universitas Diponegoro tahun 2025.
Berdasarkan pengamatan awal dan wawancara kepada warga, kondisi keuangan rumah tangga petani di dusun ini umumnya tidak terdokumentasi, bahkan untuk transaksi usaha pertanian sekalipun. Berangkat dari fakta tersebut, mahasiswa KKN menghadirkan program edukasi keuangan berbasis manajerial yang disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks masyarakat setempat.
Program ini bertujuan untuk memperkenalkan pencatatan keuangan sederhana namun sistematis, khususnya bagi petani dan keluarga rumah tangga. Selama ini, mayoritas warga mengelola hasil pertanian dan keuangan keluarga tanpa catatan tertulis. Transaksi dilakukan secara informal, dan belanja harian lebih banyak mengandalkan ingatan daripada dokumentasi, sehingga menyulitkan proses evaluasi dan perencanaan keuangan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa menyusun dan membagikan buku modul guna catatan keuangan sederhana yang mencakup pencatatan pendapatan hasil tani dan usaha sampingan, catatan utang dan piutang serta perencanaan keuangan rumah tangga. Pelatihan penggunaan buku tersebut dilakukan melalui pertemuan kelompok kecil, dengan metode yang praktis dan menggunakan bahasa lokal agar mudah dipahami oleh semua kalangan.
Diana Oktavia, mahasiswa KKN yang menggagas program ini, melihat bahwa peningkatan kesejahteraan petani perlu dimulai dari pemahaman dasar tentang pencatatan dan pengelolaan keuangan. Pencatatan keuangan yang teratur merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran finansial serta membantu masyarakat dalam mengambil keputusan ekonomi yang lebih terukur.
Program yang diselenggarakan pada Kamis (17/7/2025) ini mendapat sambutan positif dari warga. Sebagian besar mengaku baru pertama kali mengenal metode pencatatan keuangan yang terstruktur, dan merasakan manfaatnya secara nyata. Melalui pencatatan ini, mereka mulai menyadari pola keuangan sehari-hari dan dapat merencanakan kebutuhan jangka pendek maupun panjang dengan lebih bijak.

“Biasanya uang panen langsung habis, tidak tahu ke mana saja. Sekarang dengan buku ini bisa lihat uangnya kemana dan mulai bikin rencana keuangan,” ujar Ibu Suparmi, warga Dusun Cepoko yang mengikuti pelatihan.
Kepala dusun dan tokoh masyarakat sekitar menyambut baik program ini dan berharap dapat diteruskan meski masa KKN telah berakhir. Mereka menilai, pencatatan keuangan yang sederhana namun konsisten mampu meningkatkan kemandirian dan ketahanan ekonomi keluarga petani.
Program ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang sederhana, relevan dengan konteks lokal, dan melibatkan partisipasi warga mampu menghasilkan perubahan nyata di dusun ini. Harapannya, inisiatif serupa dapat diterapkan di daerah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam hal literasi keuangan.










