JATENGKU.COM, BATANGMahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU Tim 50 Universitas Diponegoro menyelenggarakan salah satu program kerja unggulan berupa demonstrasi pemanfaatan sampah organik menjadi eco enzym di Dukuh Rembul, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengabdian masyarakat yang dilaksanakan selama 30 hari yaitu pada tanggal 1 Juli 2025 hingga 30 Juli 2025.

Program ini bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat alternatif pengelolaan limbah dapur berbasis ramah lingkungan yang bernilai guna tinggi. Eco enzym sendiri merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik (seperti kulit buah dan sayuran) dengan gula dan air, yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih serbaguna, pupuk cair, serta pengendali bau tak sedap.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 18 Juli 2025 ini, mahasiswa KKN memberikan penyuluhan dan praktik langsung pembuatan eco enzym dengan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh dari lingkungan rumah tangga. Warga diajak untuk membawa bahan organik bekas serta botol bekas sebagai wadah fermentasi.

Dalam pelatihan ini, tim KKN memandu peserta melalui tahap-tahap praktis pembuatan eco-enzyme menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapat. “Kami diajarkan cara mengubah sampah kebun yang biasanya dibakar menjadi pupuk cair yang lebih bermanfaat,” ujar Pak RW, salah satu petani peserta.

Kegiatan ini menekankan pada aspek manfaat ganda eco-enzyme bagi pertanian:

  1. Sebagai pupuk organik cair yang dapat menyuburkan tanah
  2. Sebagai pestisida alami untuk mengendalikan hama tanaman
  3. Solusi pengelolaan limbah pertanian yang ekonomis dan ramah lingkungan

Sesi edukasi meliputi penjelasan mengenai manfaat eco enzym dalam kehidupan sehari-hari, teknik pencampuran bahan, serta cara menyimpan selama proses fermentasi berlangsung. Demonstrasi dilakukan secara interaktif dan diikuti antusias oleh warga, khususnya para petani, warga setempat yang suka berkebun serta ibu-ibu rumah tangga.

Selain petani, ibu-ibu rumah tangga juga aktif berpartisipasi dalam pelatihan ini. Mereka belajar memanfaatkan sampah dapur seperti kulit buah dan sayuran untuk membuat pembersih alami. “Sekarang kami punya solusi untuk mengatasi sampah dapur sekaligus mengurangi pengeluaran untuk membeli pupuk dan pembersih,” Ujar petani setempat, salah satu peserta.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli terhadap lingkungan, sekaligus mampu mengurangi volume sampah organik yang terbuang percuma. Beberapa warga bahkan menyatakan minat untuk mengembangkan kegiatan ini secara mandiri sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup.

Editor: Handayat