JATENGKU.COM, UNGARAN BARAT – Cedera kerja akibat alat produksi masih menjadi ancaman nyata bagi pelaku UMKM, terutama yang bergelut dalam industri kerajinan tangan. Tingginya risiko luka sayat hingga amputasi dalam proses produksi kerajinan resin dan kayu, Tim KKN Tematik 106 Universitas Diponegoro mengadakan edukasi interaktif bertajuk “Edukasi Pertolongan Pertama Luka Kerja Akibat Alat Produksi” bagi pekerja Sigur.id pada Sabtu, 25 Mei 2025.
Sigur.id merupakan UMKM lokal di Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, yang bergerak di bidang kerajinan berbasis resin alami dan kayu bekas. Dalam proses produksinya, pekerja terlibat langsung dengan alat potong kayu, sehingga edukasi tentang penanganan luka kerja menjadi kebutuhan yang sangat relevan.
Dalam kegiatan tersebut, Tim KKN memberikan edukasi mengenai dua jenis luka yang paling mungkin terjadi di tempat kerja, yaitu luka sayat dan luka amputasi. Materi disampaikan secara langsung, menggunakan media visual dan penjelasan sistematis yang mudah dipahami oleh seluruh peserta.
Pada sesi luka sayat, dijelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencuci luka menggunakan air mengalir. Setelah itu, luka harus ditekan dengan kain bersih hingga perdarahan berhenti. Salah satu poin penting dalam edukasi ini adalah tindakan elevasi, yakni mengangkat dan menopang bagian tubuh yang terluka agar berada di atas posisi jantung. Hal ini ditujukan untuk membantu mengurangi aliran darah ke area luka dan mempercepat proses pengendalian perdarahan.
Materi edukasi juga mencakup hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam penanganan luka, seperti menggunakan povidone iodine atau alkohol yang dapat merusak jaringan, serta kebiasaan menggaruk atau mencabut koreng yang bisa memperburuk luka.
Untuk luka amputasi, peserta dibekali pengetahuan dasar seperti menghentikan perdarahan dengan tekanan kain bersih, membalut luka dengan perban tanpa menghambat sirkulasi darah, dan penanganan bagian tubuh yang terpotong. Ditekankan pula bahwa bagian yang terpotong tidak boleh dicuci atau langsung ditempelkan pada es, melainkan dilapisi dengan kain bersih atau kassa steril dan dibungkus dalam plastik sebelum disimpan dalam wadah berisi es batu yang dihancurkan.
Program ini disambut antusias oleh para pekerja. Mereka mengakui bahwa selama ini belum pernah mendapatkan edukasi formal tentang pertolongan pertama, padahal risiko cedera cukup tinggi dalam keseharian mereka.
Dengan adanya pelatihan ini, tim KKN berharap para pekerja UMKM dapat lebih siap menghadapi kondisi darurat dan mampu memberikan pertolongan pertama secara tepat dan cepat. Edukasi ini menjadi langkah kecil yang berarti besar, demi menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan responsif terhadap risiko luka kerja.










