Mahasiswa KKN UNDIP Hadirkan Program EcoLight P...

Mahasiswa KKN UNDIP Hadirkan Program EcoLight Project, Kenalkan Kreasi Lilin Jelantah sebagai Solusi Ekonomi dan Lingkungan

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, KAB. SEMARANG — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Iptek Desa Binaan UNDIP (KKN-T IDBU) Tim 9 Universitas Diponegoro melaksanakan program EcoLight Project: Kreasi Lilin Jelantah sebagai Solusi Ekonomi & Lingkungan, Kabupaten Semarang. Pengelolaan limbah merupakan isu yang penting dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Salah satu limbah rumah tangga yang sering ditemui namun sering terabaikan adalah minyak jelantah, yang apabila dibuang sembarangan dapat mencemari tanah, air, dan membahayakan kesehatan. Inovasi dalam mengolah minyak jelantah pun menjadi langkah kreatif yang tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi.

Tim KKN-T IDBU 9 Universitas Diponegoro menghadirkan gagasan kreatif yaitu, pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi, sebuah produk ramah lingkungan yang memiliki nilai jual melalui aromaterapi. Inovasi ini tidak hanya berangkat dari kesadaran akan dampak hukum yang mengatur pembuangan limbah, tetapi juga menerapkan unsur bahasa dan kebudayaan Jepang dalam desain kemasan agar dapat menarik minat dan menjangkau audiens yang lebih luas.

Mahasiswa KKN UNDIP Hadirkan Program EcoLight Project, Kenalkan Kreasi Lilin Jelantah sebagai Solusi Ekonomi dan Lingkungan
‎ ‎ ‎ ‎
Mahasiswa KKN UNDIP Hadirkan Program EcoLight Project, Kenalkan Kreasi Lilin Jelantah sebagai Solusi Ekonomi dan Lingkungan
Mahasiswa KKN UNDIP melakukan praktik pembuatan Lilin dari Minyak Jelantah di Dusun Gundi Kabupaten Semarang pada Senin (11/8/2025).

Program ini dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan yang melibatkan edukasi, praktik langsung, dan sosialisasi. Tim KKN-T IDBU 9 Universitas Diponegoro memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya pembuangan minyak jelantah sembarangan serta potensi ekonominya jika diolah kembali. Selain itu, dijelaskan pula mengenai biaya lingkungan yang timbul akibat pencemaran minyak jelantah, serta biaya tambahan yang harus ditanggung pemerintah maupun masyarakat untuk pemulihan lingkungan. Selanjutnya, tim mengadakan praktek pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah, mulai dari proses penyaringan, pencampuran bahan, hingga pencetakan lilin dengan desain kemasan yang mengadaptasi unsur bahasa dan budaya Jepang agar lebih menarik.

Sebagai bagian dari publikasi dan perluasan jangkauan informasi, tim juga membuat video tutorial menggunakan 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang menjelaskan langkah-langkah pembuatan lilin aromaterapi. Dengan begitu, kegiatan ini tidak hanya menyentuh masyarakat lokal, tetapi juga diharapkan dapat memberikan inspirasi hingga tingkat global. Selain itu, program ini turut menekankan pada aspek keberlanjutan dengan mengajak masyarakat untuk melihat lilin jelantah sebagai peluang usaha kreatif yang bisa dikembangkan secara mandiri setelah program KKN berakhir.

Kegiatan EcoLight Project disambut dengan antusias oleh ibu-ibu di Dusun Gundi. Dari awal hingga akhir workshop, mereka tampak sangat aktif mengikuti jalannya acara. Banyak di antara mereka yang mengajukan pertanyaan terkait teknik pembuatan lilin aromaterapi, serta merekam proses demonstrasi sebagai dokumentasi dan bahan pembelajaran. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga, memiliki minat besar untuk memanfaatkan minyak jelantah sebagai produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam mengelola limbah minyak jelantah serta terdorong untuk menciptakan inovasi sederhana yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus bernilai ekonomi. EcoLight Project bukan hanya menjadi wadah edukasi, tetapi juga langkah awal menuju pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Dengan adanya antusiasme dari masyarakat, besar harapan agar inisiatif ini terus berkembang dan mampu menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam mengoptimalkan potensi lokal untuk mendukung pembangunan ekonomi hijau.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan