Mahasiswa KKN Undip IDBU 22 Lakukan Digitalisas...

Mahasiswa KKN Undip IDBU 22 Lakukan Digitalisasi Ketoprak Srimulyo, Bantu Anak Muda Melek Teknologi dan Budaya Tetap Lestari

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, SEMARANG — Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi hiburan digital, kesenian tradisional sering kali tersisih dari perhatian generasi muda. Salah satunya adalah ketoprak, seni pertunjukan khas Jawa Tengah yang memadukan drama, musik, tari, dan dialog berbahasa Jawa. Seni ini dahulu menjadi tontonan yang ditunggu masyarakat, tetapi kini kian kehilangan penonton.

Fenomena tersebut juga dirasakan oleh Komunitas Ketoprak Srimulyo yang bermarkas di Desa Jurang Blimbing. Meski para pelaku seni masih aktif dan mendapat dukungan masyarakat, keterbatasan dalam publikasi dan promosi membuat pertunjukan mereka lebih banyak dinikmati di lingkup lokal saja. Padahal, masyarakat sekitar sudah sangat akrab dengan teknologi digital—dari penggunaan smartphone hingga media sosial. Potensi inilah yang kemudian mendorong lahirnya program Digitalisasi Ketoprak Srimulyo.

Program ini menjadi bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa, karang taruna, dan para pelaku seni ketoprak. Salah satunya adalah Elsa Hutagalung, mahasiswi KKN IDBU 22 Universitas Diponegoro jurusan Informatika dari Fakultas Sains dan Matematika, yang ikut berperan dalam proses digitalisasi ini. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan dimulai dengan identifikasi kebutuhan komunitas, kemudian dilanjutkan dengan perancangan website resmi ketopraksrimulyo.web.id. Website ini kini berfungsi sebagai pusat informasi yang menampilkan sejarah, profil komunitas, jadwal pementasan, hingga dokumentasi pertunjukan.

Mahasiswa KKN Undip IDBU 22 Lakukan Digitalisasi Ketoprak Srimulyo, Bantu Anak Muda Melek Teknologi dan Budaya Tetap Lestari
Pemaparan materi edukasi bagaimana membuat website kesenian Ketoprak kepada pihak Karang Taruna RW 04 Desa Jurang Blimbing.

Tidak hanya membangun platform digital, tim juga memberikan pelatihan literasi digital kepada anggota komunitas. Mereka diajarkan cara mengelola website, membuat konten sederhana, hingga memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan promosi. “Dulu kami hanya bisa berharap penonton datang dari mulut ke mulut. Sekarang, siapa pun bisa tahu jadwal pertunjukan kami lewat internet,” ungkap salah satu anggota komunitas.

Hasilnya mulai terasa. Jumlah kunjungan ke website terus bertambah, konten yang dipublikasikan semakin beragam, dan interaksi masyarakat di media sosial menunjukkan peningkatan. Tidak sedikit warga yang mengaku baru mengenal ketoprak setelah melihat unggahan di internet. Perubahan ini menunjukkan adanya dampak sosial berupa meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui promosi pertunjukan yang lebih luas.

Meski demikian, perjalanan ini tidak tanpa kendala. Keterbatasan perangkat keras, akses internet, serta keterampilan digital anggota komunitas menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan pendampingan berkelanjutan dan semangat kolaborasi, hambatan tersebut mulai teratasi sedikit demi sedikit. Program ini juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut, seperti integrasi multimedia interaktif, kanal YouTube khusus, hingga kerja sama dengan instansi pemerintah maupun swasta untuk memperluas promosi budaya.

Keberhasilan program ini membuktikan bahwa digitalisasi bukan ancaman bagi budaya lokal, melainkan justru peluang untuk memperkuat identitas. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, Ketoprak Srimulyo kini hadir lebih modern tanpa kehilangan akar tradisinya. Bagi masyarakat Desa Jurang Blimbing, ini bukan hanya soal melestarikan seni, tetapi juga cara menunjukkan bahwa budaya lokal tetap relevan dan bisa bersaing di era digital.

Sebagai bagian dari tim, Elsa Hutagalung berharap upaya ini dapat menjadi contoh bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa, mampu menjembatani dunia teknologi dengan pelestarian budaya. Kehadirannya dalam program KKN ini menjadi bukti nyata bahwa kontribusi kecil bisa membawa dampak besar bagi masyarakat.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan