JATENGKU.COM, MAGELANG — SD Kanisius Kenalan, yang terletak di Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, berdiri di tengah panorama hijau lereng perbukitan Menoreh. Meski berada di wilayah yang cukup terpencil, sekolah ini menjadi tempat belajar yang penuh semangat bagi anak-anak desa. Namun, keterbatasan fasilitas, terutama akses terhadap buku bacaan dan ruang literasi yang memadai, menjadi salah satu tantangan utama dalam mendukung perkembangan minat baca siswa.
Menjawab tantangan tersebut, Tim KKN Literasi Kelompok 191 Universitas Sebelas Maret (UNS) hadir dengan serangkaian program kerja literasi yang dirancang khusus untuk siswa SD Kanisius Kenalan. Kehadiran tim ini merupakan bagian dari pelaksanaan KKN Tematik Literasi UNS di Kecamatan Borobudur, di mana terdapat pula dua tim lain yang mengusung tema serupa di desa yang berbeda, yakni Tim KKN Literasi 188 di Desa Majaksingi dan Tim KKN Literasi 190 di Desa Ngadiharjo. Program yang dijalankan Tim 191 di Desa Kenalan meliputi Read Me a Book, membaca nyaring, mengulas buku, dan proyek berbasis buku bacaan yang dirancang untuk memadukan kemampuan membaca dengan pengembangan kreativitas serta imajinasi anak-anak sesuai jenjang kelas mereka.
Kegiatan dilaksanakan pada 2 Agustus 2025 dengan agenda membaca nyaring dan menghadirkan proyek berbasis buku bacaan, berupa pembuatan kolase untuk kelas 1, 2, dan 3, serta pembuatan poster untuk kelas 4, 5, dan 6. Materi cerita yang dibacakan dipilih secara tematis, menanamkan nilai-nilai karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dampak dari program ini terlihat nyata. Siswa menjadi lebih berani mengungkapkan pendapat, mampu menceritakan kembali isi buku, dan menunjukkan kreativitas dalam karya mereka. Hasil kolase dan poster yang dibuat siswa tidak hanya menjadi pajangan di kelas, tetapi juga menjadi bukti semangat mereka dalam belajar. Banyak siswa yang mengaku tertarik membaca buku baru karena merasa terinspirasi dari kegiatan ini.
Menariknya, SD Kanisius Kenalan memiliki sejumlah program ekstrakurikuler yang cukup maju meski berada di perbatasan wilayah Magelang dengan Yogyakarta. Salah satunya adalah RAK (Republik Anak Kenalan), sebuah wadah bagi siswa untuk belajar kepemimpinan, bekerja sama, dan mengembangkan ide-ide kreatif dalam kegiatan sekolah maupun desa. Melalui RAK, anak-anak dilatih untuk berani berpendapat, mengorganisasi acara, dan menjadi penggerak kegiatan positif di lingkungan mereka. Selain RAK, terdapat pula ekstrakurikuler berkebun, pramuka, blekothek (biar jelek, otak harus melek), dan kewirausahaan. Ekstrakurikuler berkebun menjadi salah satu program yang mendapat perhatian khusus karena mengajarkan siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan lahan secara produktif. Kegiatan ini juga menjadi pintu masuk bagi mahasiswa KKN UNS 191 untuk mengintegrasikan proyek berbasis buku bacaan.
Pada kegiatan pembuatan poster, mahasiswa KKN mengangkat tema lingkungan yang terinspirasi dari buku cerita yang sebelumnya dibacakan, berisi pesan tentang pentingnya menjaga dan merawat alam. Cerita tersebut kemudian diwujudkan siswa dalam karya visual yang memuat ajakan menjaga kebersihan sekolah, menanam pohon, dan merawat taman. Kegiatan ini dirancang agar siswa mampu menghubungkan pesan dari bacaan dengan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari, selaras dengan kegiatan ekstrakurikuler berkebun yang sudah berjalan di sekolah. Melalui cara ini, literasi menjadi lebih dari sekadar membaca, tetapi juga sarana menumbuhkan kesadaran lingkungan dan rasa tanggung jawab sosial sejak dini.

Selain pembuatan poster bertema, tim KKN juga mengadakan kegiatan pembuatan kolase untuk anak-anak kelas 1,2, dan 3. Pada kegiatan ini, anak-anak diberikan wadah untuk mengekspresikan imajinasi dan kreativitas mereka. Bahan-bahan seperti potongan kertas warna, gunting, dan lem kertas disediakan untuk digunakan sebagai media ekspresi. Dengan penuh semangat dan didampingi Tim KKN, anak-anak membuat kolase dengan sangat antusias. Melalui kegiatan ini, literasi visual dan estetika dikembangkan secara seimbang dengan literasi baca-tulis. Bahkan, beberapa siswa dengan kemampuan verbal yang terbatas menunjukkan potensi luar biasa dalam bentuk visual, menunjukkan bahwa literasi memiliki banyak wajah dan media.
Kepala Sekolah SD Kanisius Kenalan, Bapak Yosef Onesimus Maryono, mengapresiasi penuh program yang dijalankan mahasiswa KKN UNS 191. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kami. Mereka jadi lebih antusias membaca, memahami isi bacaan, dan menuangkannya dalam karya kreatif. Apalagi kegiatan ini sejalan dengan program ekstrakurikuler yang sudah ada di sekolah, sehingga anak-anak bisa langsung mempraktikkan nilai-nilai yang mereka pelajari,” ujarnya. Bapak Yosef juga menambahkan bahwa program literasi seperti ini jarang mereka dapatkan, apalagi dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan. Menurutnya, kombinasi antara membaca, berdiskusi, dan berkarya memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa. Ia berharap kerja sama serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang, agar semangat literasi di sekolah semakin tumbuh.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN 191 UNS, Ibu Triana Rahmawati, menegaskan pentingnya sinergi dalam pelaksanaan program ini. “KKN ini mempunyai prinsip kolaborasi pentahelix, sinergi antar stakeholder untuk menghidupkan kembali semangat literasi, mengembangkan perpustakaan sebagai pusat pendidikan masyarakat, sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitar Borobudur,” ujarnya. Melalui prinsip kolaborasi tersebut, kehadiran mahasiswa KKN UNS 191 bersama SD Kanisius Kenalan menjadikan literasi bukan hanya kegiatan membaca di kelas, melainkan sebuah gerakan bersama yang menghubungkan cerita, kreativitas, dan aksi nyata. Tepatnya di lereng Menoreh, sinergi ini membuktikan bahwa keterbatasan dapat diatasi melalui kebersamaan, sehingga lahirlah generasi muda yang cerdas, kreatif, dan peduli lingkungan.
