JATENGKU.COM, SEMARANG — Makanan tradisional bukan sekadar urusan dapur atau bagian dari masa lalu yang dilestarikan dalam museum budaya. Ia adalah identitas, warisan, sekaligus cermin keberagaman dan kekayaan lokal yang perlu dikenalkan kepada generasi muda sejak dini.
Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa sering kali belum memahami pentingnya mencintai dan mengapresiasi makanan lokal sebagai bagian dari budaya dan gaya hidup sehat.
Menjawab tantangan ini, Azarine Elvina Delarosa, mahasiswa KKN-T Tim 104 Universitas Diponegoro 2025 dari Program Studi Antropologi Sosial, menginisiasi sebuah program sosialisasi bertema pelestarian makanan tradisional dan pembentukan kebiasaan konsumsi sehat di tingkat sekolah dasar.
Program ini dirancang dengan pendekatan kreatif: edukasi dwibahasa yang interaktif dan menyenangkan, menggabungkan permainan, visual, serta diskusi ringan. Saya, sebagai mahasiswa KKN-T Tim 104 Universitas Diponegoro, ingin mengajak siswa-siswi sekolah dasar yang nantinya akan menjadi penerus bangsa untuk turut serta mengenal dan melestarikan makanan tradisional sebagai warisan budaya yang tak lekang oleh zaman.
Program ini dilaksanakan di bawah bimbingan dan pengawasan dosen pembimbing lapangan (DPL), yaitu Riris Tiani, S.S., M.Hum., dan Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum., pada Senin, 24 Juli 2025, bertempat di SD Pedurungan Kidul 5. Materi yang diberikan berfokus pada pelestarian makanan tradisional.
Sosialisasi dibuka dengan penjelasan terkait Indonesia yang dikenal sebagai negara kaya akan budaya, termasuk dalam kuliner. Namun, globalisasi telah menggeser pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda, dari makanan tradisional ke makanan instan yang dianggap lebih praktis. Akibatnya, makanan tradisional mulai kehilangan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi sejak dini menjadi penting untuk membentuk selera yang menghargai makanan lokal dan menjaga keberlanjutan budaya.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa makanan tradisional lebih dari sekadar warisan budaya; makanan tradisional juga mendukung ketahanan pangan nasional. Penggunaan bahan lokal yang mudah diakses dan beragam menjadikan makanan tradisional lebih berkelanjutan. Dengan melestarikannya, kita tidak hanya menjaga identitas, tetapi juga memperkuat kemandirian dan keberlanjutan sistem pangan Indonesia.

Sosialisasi ini berlangsung sangat meriah karena tingginya antusiasme siswa-siswi yang tertarik dan penasaran untuk mengenal lebih dalam seputar makanan tradisional dan kebiasaan konsumsi. Tidak hanya disampaikan melalui materi, anak-anak diajak ikut serta secara aktif dalam berbagai kegiatan interaktif, mulai dari permainan “Tebak Nama Makanan”, permainan “Food and Spoon Relay” atau estafet makanan, hingga permainan teka-teki silang mengenai makanan tradisional.
Melalui permainan dan suasana yang menyenangkan, anak-anak tidak hanya belajar mengenal makanan tradisional, tetapi juga membangun kesadaran tentang kebiasaan makan sehat, menghargai makanan lokal, dan membentuk selera yang mencintai kuliner Nusantara sejak dini. Anak-anak juga diajak memaknai bahwa makanan yang kita konsumsi bukan hanya sekadar pemenuhan kebutuhan harian, tetapi juga cerminan budaya dan identitas suatu bangsa.

Kegiatan yang berlangsung meriah ini merupakan salah satu program edukatif yang bertujuan menanamkan kecintaan terhadap makanan lokal sejak usia dini. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif, para siswa diajak tidak hanya untuk mengenal berbagai jenis makanan tradisional Nusantara, tetapi juga untuk memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.










