JATENGKU.COM, Surabaya — Bibir sumbing (cleft lip) dan celah langit-langit (cleft palate) masih sering dipersepsikan keliru di masyarakat. Banyak keluarga menghadapi bukan hanya tantangan medis, melainkan juga tekanan sosial yang membuat mereka merasa malu, bersalah, dan terpinggirkan (Zhang et al., 2024). Padahal, bibir sumbing adalah kelainan bawaan yang dapat ditangani secara medis dan bukan cerminan kegagalan orang tua.
Secara ilmiah, bibir sumbing dan celah langit-langit terjadi akibat gangguan perkembangan jaringan bibir dan mulut pada masa awal kehamilan sekitar minggu keempat gestasi (Hammond & Dixon, 2022). Gangguan ini dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari kesulitan makan dan berbicara, gangguan pertumbuhan gigi dan rongga mulut, hingga infeksi telinga berulang (Fattel-Servin et al., 2022). Oleh karena itu, penanganan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup anak.
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Keluarga
Sebuah penelitian potong lintang yang dilakukan oleh Soeselo et al. (2019) pada kegiatan bakti sosial operasi bibir sumbing di RS Kencana, Serang, Banten pada tahun 2018 menunjukkan realitas sosial yang menarik. Penelitian tersebut melibatkan orang tua pasien yang mengikuti operasi amal dan menilai pengetahuan, sikap, serta perilaku mereka terhadap bibir sumbing dan celah langit-langit.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua memiliki tingkat pengetahuan yang rendah tentang bibir sumbing yang erat kaitannya dengan latar belakang pendidikan dan keterbatasan akses informasi kesehatan. Mayoritas keluarga berasal dari kelompok ekonomi rendah dengan penghasilan di bawah Rp3,5 juta per bulan serta tidak memiliki jaminan kesehatan. Hampir seluruh peserta mengikuti kegiatan operasi amal karena keterbatasan biaya pengobatan.
Resiliensi di Tengah Keterbatasan
Menariknya, meskipun tingkat pengetahuan orang tua relatif rendah, sikap dan perilaku mereka justru tergolong baik. Para orang tua tetap berupaya mencari pertolongan medis, mengikuti anjuran dokter, dan memperlakukan anak mereka secara setara tanpa diskriminasi. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan orang tua dengan sikap mereka terhadap kondisi anak.
Dengan kata lain, keterbatasan pengetahuan tidak menghalangi orang tua untuk bersikap positif dan proaktif dalam merawat anaknya. Temuan ini menegaskan satu hal penting bahwa keinginan orang tua untuk menolong anaknya sangat besar, meskipun mereka hidup dalam keterbatasan informasi dan ekonomi. Di sinilah peran tenaga medis, khususnya dokter spesialis bedah plastik, menjadi krusial tidak hanya sebagai pelaksana tindakan operasi, tetapi juga sebagai pendidik dan komunikator terapeutik.
Perspektif Dokter Bedah Plastik mengenai Komunikasi Terapeutik
Menurut dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik, dr. Agus Santoso Budi, Sp.BP-RE, Subsp.EL(K), dalam wawancara kunjungan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya yang dilakukan oleh Haya Nafisa Mumtaza, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, menekankan bahwa komunikasi terapeutik sangat menentukan penerimaan keluarga.
Penjelasan medis yang disampaikan dengan bahasa sederhana tanpa menyalahkan dapat membantu orang tua memahami bahwa bibir sumbing adalah kondisi biologis yang dapat ditangani. Komunikasi terapeutik semacam ini juga mencegah konflik internal keluarga, terutama ketika membahas faktor genetik.
Selain komunikasi verbal, penggunaan ilustrasi sederhana mengenai proses penyatuan jaringan wajah pada awal kehamilan terbukti membantu orang tua memahami kondisi anaknya. Dengan melihat proses biologis tersebut secara visual, keluarga lebih mudah menerima bahwa bibir sumbing bukan kesalahan siapa pun, melainkan peristiwa perkembangan yang kompleks.
Melintasi Hambatan Budaya dan Keyakinan Spiritual dalam Penerimaan Medis
Aspek lain yang tak kalah penting adalah pendekatan nilai dan keyakinan. Masih ada anggapan bahwa tindakan operasi berarti menentang kehendak Tuhan. Menurut dr. Agus, pemahaman ini perlu diluruskan secara bijak. Upaya medis justru merupakan bentuk ikhtiar untuk memperbaiki kondisi agar anak dapat tumbuh optimal. Kolaborasi dengan pekerja sosial dan tokoh agama seringkali menjadi bagian penting dalam edukasi keluarga dan masyarakat.
Dengan perawatan yang komprehensif, meliputi operasi, terapi wicara, dan pendampingan jangka panjang sebagian besar anak dengan bibir sumbing dapat tumbuh dengan kemampuan bicara, pendidikan, dan kehidupan sosial yang baik. Program operasi amal, seperti yang dilakukan di Serang terbukti membuka akses perawatan bagi keluarga yang sebelumnya terhalang faktor ekonomi.
Bagaimana Empati, Edukasi, dan Akses Layanan Mengubah Nasib Anak dengan Bibir Sumbing?
Stigma terhadap bibir sumbing tidak bisa dihapus hanya dengan pisau bedah, tetapi diperlukan komunikasi yang menyembuhkan, edukasi yang membumi, dan kepedulian sosial yang berkelanjutan. Ketika ilmu pengetahuan disampaikan dengan empati dan akses layanan diperluas, anak-anak dengan bibir sumbing tidak hanya mendapatkan senyum yang lebih utuh, tetapi juga masa depan yang lebih bermartabat.
Perubahan ini menuntut keterlibatan bersama, seperti tenaga medis sebagai pendidik, pemerintah sebagai penyedia akses layanan, media sebagai penyalur informasi yang benar, serta masyarakat sebagai ruang tumbuh yang aman bagi setiap anak. Ketika stigma digantikan oleh pemahaman, anak-anak dengan bibir sumbing dapat tumbuh percaya diri, diterima secara sosial, dan memiliki kesempatan yang setara utuh dan bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
- Zhang, Y., Zhang, X., Jiang, J., Xie, W., & Xiang, D. (2024). Factors Associated With Perception of Stigma Among Parents of Children With Cleft Lip and Palate: Cross-Sectional Study. JMIR formative research, 8, e53353.https://doi.org/10.2196/53353
- Hammond, N. L., & Dixon, M. J. (2022). Revisiting the embryogenesis of lip and palate development. Oral diseases, 28(5), 1306–1326. https://doi.org/10.1111/odi.14174
- Fattel-Servin, O. S., Prieto-Vargas, V., Ramirez-Sosa, L. E., Flores-Orduña, J., Seltrao-Migon, G. A., & Martinez-Wagner, R. (2022). Long-term impacts of cleft lip and palate: Challenges and management. Genesis Journal of Surgical and Medical Sciences, 1(2), 1-10.https://doi.org/10.52793/GJSM.2022.1(2)-7
- Soeselo, D. A., Suparman, A. S., & Budi, A. S. (2019). Parents’ knowledge, attitude and behaviour toward cleft lips and cleft palate in Kencana Hospital, Serang, Banten. Journal of Craniofacial Surgery, 30(4), 1105-1108. https://doi.org/10.1097/SCS.0000000000005352
Penulis: Haya Nafisa Mumtaza, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Narasumber: dr. Agus Santoso Budi, Sp.BP-RE, Subsp.EL(K)






