Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini membawa perubahan besar dalam dunia kedokteran, termasuk di bidang kedokteran spesialis anak. Jika sebelumnya diagnosis dan pemantauan tumbuh kembang anak sepenuhnya bergantung pada keahlian klinis seorang dokter, kini teknologi AI hadir untuk membantu mengolah data medis secara lebih cepat, akurat, dan menyeluruh. Menurut dr. Maretha Sukmawardani, Sp.A, seorang dokter spesialis anak, penerapan AI dalam dunia pediatri bukan hanya tentang otomatisasi, tetapi juga tentang peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak. “AI bukan menggantikan peran dokter, melainkan menjadi mitra kerja yang mampu membantu pengambilan keputusan klinis dengan lebih efisien,” ungkapnya.

 

Salah satu penerapan AI yang menonjol adalah pada bidang diagnostik, terutama dalam analisis radiologi dan pemeriksaan laboratorium anak. Melalui algoritma pembelajaran mesin (machine learning), AI mampu mendeteksi tanda-tanda pneumonia, kelainan tulang, atau bahkan pola infeksi dengan tingkat akurasi tinggi dalam waktu singkat. Hal ini membuat dokter anak dapat menegakkan diagnosis lebih cepat dan memulai terapi lebih dini. Selain itu, AI juga membantu dalam menganalisis data riwayat medis, pola makan, serta kondisi lingkungan anak untuk memprediksi risiko penyakit kronis seperti asma, diabetes anak, atau gangguan tumbuh kembang. Teknologi ini memberikan pendekatan yang lebih personal terhadap kesehatan anak, dengan menyesuaikan rekomendasi medis sesuai kebutuhan spesifik pasien.

 

Tidak hanya dalam diagnosis, AI juga memainkan peran penting dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Saat ini, berbagai aplikasi kesehatan dan perangkat wearable berbasis AI memungkinkan orang tua untuk memantau kesehatan anak secara real-time. Misalnya, gelang pintar dengan sensor khusus dapat merekam denyut jantung, pola tidur, aktivitas fisik, hingga kualitas pernapasan bayi. Data tersebut kemudian dianalisis oleh sistem AI untuk mendeteksi tanda awal gangguan kesehatan. dr. Maretha menilai, kemajuan ini sangat membantu orang tua dan tenaga kesehatan dalam menerapkan prinsip preventive medicine, yaitu mencegah penyakit sebelum timbul melalui deteksi dini dan intervensi cepat. “AI membuat kami lebih proaktif dalam menjaga kesehatan anak, bukan sekadar menunggu hingga anak sakit,” ujarnya.

 

Namun di balik berbagai manfaat tersebut, penerapan AI di bidang pediatri juga menghadirkan sejumlah tantangan, terutama terkait etika dan keamanan data. Informasi medis anak merupakan data yang sangat sensitif, sehingga perlu dijaga dari penyalahgunaan. dr. Maretha menegaskan pentingnya regulasi yang jelas dalam pemanfaatan AI di sektor kesehatan agar data anak tidak digunakan untuk kepentingan komersial tanpa izin. Ia juga menambahkan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan empati dan interaksi manusiawi antara dokter, pasien, dan keluarga. Dalam konteks kedokteran anak, hubungan emosional dan komunikasi yang hangat tetap menjadi faktor penting dalam proses penyembuhan. “Teknologi boleh maju, tapi kasih sayang dokter terhadap pasien tidak bisa digantikan oleh mesin,” tegasnya.

 

Ke depan, dr. Maretha optimistis bahwa AI akan menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan anak di Indonesia. Menurutnya, masa depan kedokteran anak akan bergerak menuju model kolaboratif antara dokter, teknologi, dan keluarga pasien. AI akan berperan sebagai jembatan yang memperkuat koordinasi antar-tenaga medis, mempercepat pengambilan keputusan, serta meningkatkan mutu pelayanan. Dengan pemanfaatan yang tepat dan beretika, AI mampu membantu dokter anak menjadi lebih data-driven tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan yang menjadi inti dari profesi kedokteran. “Tujuan utama kami tetap sama: memberikan perawatan terbaik untuk setiap anak. AI hanyalah alat untuk membantu kami mencapai tujuan itu dengan lebih cepat dan tepat,” tutup dr. Maretha.

Penulis: Iffat Taufiqulhakim Putra Sulaiman, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Editor: Handayat