JATENGKU.COM, Surabaya — Perawat memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan karena berinteraksi langsung dengan pasien dan keluarga. Beban tanggung jawab, tekanan kerja, keterbatasan tenaga, serta kondisi pasien yang beragam dapat menimbulkan stres psikologis yang berpengaruh terhadap kinerja perawat.

Kinerja perawat tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga pada kemampuan mengelola emosi. Kecerdasan emosional membantu perawat mengendalikan respons emosional dalam situasi kerja yang penuh tekanan, sehingga berperan sebagai mediator antara stres kerja dan kinerja perawat.

Stres Kerja Dalam Lingkungan Keperawatan

Stres kerja sering dialami perawat akibat beban kerja tinggi, interaksi emosional dengan pasien, dan tuntutan waktu yang ketat, yang dapat menurunkan kinerja secara signifikan. Penelitian menunjukkan hubungan negatif antara stres kerja dan kinerja, di mana stres berlebih menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas pelayanan. Kecerdasan emosional muncul sebagai faktor pelindung yang memediasi dampak ini.

Fungsi Mediasi Kecerdasan Emosional

Stres kerja berdampak tidak langsung pada kinerja melalui mediasi parsial kecerdasan emosional, di mana kematangan emosi mengubah tekanan menjadi pendorong positif. Hasil analisis SmartPLS dari 75 perawat mengindikasikan pengaruh positif KE terhadap performa, dengan stres sebagai perantara beban kerja dan hasil kerja. Kontribusinya mencapai 28,3% pada performa, unggul dibanding faktor seperti kecerdasan spiritual.​

Aplikasi Praktis dan Saran

Pelatihan peningkatan kecerdasan emosional disarankan untuk meredam stres serta optimalisasi kinerja perawat. Institusi kesehatan boleh mengadopsi program pengelolaan emosi guna membentuk iklim kerja lebih kondusif. Hasil ini selaras dengan riset di Indonesia, yang menyoroti kebutuhan intervensi emosional mendesak.

Penulis: Tarysa Quinina Rahman, Mahasiswi Universitas Airlangga

Editor: Handayat